Mengapa Sering Merasa Tertekan? Secara Ilmiah, Ini 6 Penyebabnya
Ilustrasi wanita di jendela (Unsplash/Joshua Rawson)

Bagikan:

JAKARTA – Setiap orang memiliki harapan serta cita-cita. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan, memicu perasaan tertekan. Secara ilmiah, tertekan tidak hanya disebabkan oleh kondisi internal atau perasaan personal.

Perasaan tertekan, menurut Melanie Greenberg, Ph.D –seorang psikolog klinis dan penulis The Stress Proof Brain, bisa disebabkan oleh hormon, gaya hidup, dan ekspektasi. Simak di bawah ini penjelasan ilmiah mengenai penyebab munculnya rasa tertekan.

Serotonin dan norepinefrin rendah

Serotonin dan norepinefrin adalah neurotransmiter yang disebut sebagai motivator kimiawi ketika mengalami depresi. Ketika galanin diproduksi saat menghadapi persoalan sulit, bisa diimbangi dengan kedua hormon positif agar emosi lebih tangguh.

Disebabkan cuaca

Secara arbitrer ini bisa jadi alasan mengapa cuaca hujan dan lagu sendu adalah komposisi tepat. Namun, secara ilmiah dijelaskan dalam penelitian Keller dan rekan berjudul Warm Weather Boosts Mood, Broadens the Mind.

Penelitian tersebut menemukan bahwa selama musim semi, suasana hati dari ratusan orang partisipan membaik. Partisipan juga dapat lebih banyak beraktivitas di luar ruangan. Ini berkaitan dengan aspek kognitif dan kehangatan matahari membuat lebih kreatif.

Terdapat sub kelompok orang menderita Seasonal Affective Disorder, ini adalah suatu kondisi di mana musim dingin membuat ‘hati’ membiru. Aktivitas sehari-hari seperti tidur, nafsu makan, dan motivasi cenderung berubah.

Kurang vitamin D

Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2008 di Belanda oleh Hoogendijk menemukan bahwa dari 1.200 orang yang terlibat dalam penelitiannya memiliki kadar vitamin D lebih rendah 14 persen, dan mengalami gangguan depresi ringan hingga berat.

Mengharapkan hal-hal yang tidak bisa diubah

Mengharapkan hal-hal yang tidak bisa diubah bisa jadi sebab hadirnya perasaan tetekan. Jika Anda merasa sedih dengan kejadian yang dialami meski sudah sekuat tenaga mengusahakan yang terbaik, cobalah membagi perhatian pada bagian-bagian yang membahagiakan dalam hidup.

Merasa sendiri

Sebuah penelitian menggunakan alat pemindai otak, MRI, menunjukkan bahwa ada reaksi bagian otak yang sama ketika mengalami penolakan dan rasa sakit fisik.

Singkatnya, takut tersisih, ditolak, dan dikucilkan dapat membuat kesepian. Situasi ini tentu menekan sebab sebagai makhluk sosial, kita tak bisa tanpa orang lain.  

Terjebak dalam renungan negatif

Susan Nolen-Hoeksema, seorang psikolog di Universitas Michigan menunjukkan bahwa duduk-duduk dan merenungkan kejadian negatif bisa memperburuk kondisi. Renungan dari satu kejadian ke kejadian lain dengan sudut pandang negatif menyebabkan hilangnya motivasi.

Jika Anda menemukan penyebab di atas yang sering memicu perasaan tertekan, segeralah beranjak. Lakukan hal yang menyenangkan misalnya berjalan-jalan, berkomunikasi dengan orang lain, dan membangun harapan yang realistis.