Bagikan:

Ketika pandemi COVID-19 sedang tinggi dan pemerintah menerapkan pembatasan pergerakan warga yang ketat lewat PPKM, Lembaga Sensor Film (LSF) juga terdampak. Namun justru materi yang disensor oleh LSF meningkat jumlahnya. Menurut Ketua LSF Rommy Fibri Hardiyanto pihaknya bekerja keras melaksanakan tugas menyensor semua materi film dan iklan yang akan ditayangkan. Pandemi yang membuat pergerakan menjadi serba terbatas membuat insan film jadi kreatif mensiasati keadaan.

***

Di tengah keterbatasan itu pula Rommy Fibri Hardiyanto dan segenap timnya yang bekerjasama dengan Indosiar, berhasil meyelenggarakan hajatan Anugerah Lembaga Sensor Film yang sempat tak terlaksana selama dua tahun. Even ini terakhir kali digelar pada 2019, setelah itu tak bisa diselenggarakan selama dua tahun karena pandemi COVID-19 yang masih tinggi. Baru tahun 2021 ini bisa dilaksanakan kembali dengan lancar.

Ajang anugerah ini menurut Rommy bukan sekadar untuk gagah-gagahan, namun  ada makna penting yang ingin mereka sampaikan lewat anugerah yang digelar setiap tahun ini. “Setelah terhenti selama dua tahun LSF kembali mengadakan Anugerah Lembaga Sensor Film, kali ini ada kategori Lifetime Achievement. LSF ingin mengapresiasi pelaku perfilman Indonesia yang berpengaruh pada kwalitas tontonan yang mengedepankan unsur pendidikan, kebudayaan dan sejalan dengan tujuan, fungsi dan asas perfilman,” kata Rommy.

Christine Hakim yang menerima anugerah Lifetime Achievement untuk pertama pada kali dalam Anugerah Lembaga Sensor Film 2021 menyampaikan apresiasi pada LSF yang sudah memberikan penghargaan ini. Pemeran Cut Nyak Dien dalam film berjudul sama itu, menyampaikan harapannya untuk semua pihak, khususnya insan perfilman dan mereka yang berkutat di industri perfilman Indonesia. Ia yang rela kembali dari Kanada demi menghadiri acara anugerah ini berharap semua pihak bisa terus belajar untuk lebih dewasa, dan bijak menghadapi tantangan dan persaingan ke depan. Menurut dia sineas Indonesia punya peluang besar. Apalagi di bawah kepemimpinan Jokowi, Indonesia mendapat spotlight yang luar biasa. Dan momen ini harus harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Tak hanya kerja sendirian, kerja kolektif akan lebih efektif dan lebih menguatkan.

Ternyata dari data yang ada, menurut Rommy jumlah film yang disensor selama pandemi ini meningkat meski jumlah produksi terhenti. “Awal 2020 hingga akhir 2020 itu benar-benar masa pandemi tidak ada produksi film baru. Tidak ada film layar lebar yang tayang, karena bioskop juga tutup. Tapi jumlah film yang di sensor di LSF justru meningkat, jumlahnya mencapai sekitar 49.200 judul.  Sementara di 2019 setahun itu sekitar 46.000 judul,” kata Rommy Fibri Hardiyanto kepada Edy Suherli, Savic Rabos dan Rifai yang mewancarainya di Kantor VOI, Menteng, Jakarta Pusat belum lama berselang. Ia bercerita banyak soal proses sensor di masa pandemi hingga acara Anugerah LSF 2021 yang punya tujuan memotivasi para sineas untuk membuat karya terbaik. Inilah petikan selengkapnya.

Rommy Fibri Hardiyanto. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Rommy Fibri Hardiyanto. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Pandemi mengubah banyak hal, termasuk kerja insan perfilman, apakah hal ini juga berdampak pada kerja Anda tim di LSF?

Secara umum pandemi juga menimpa LSF. Kita tetap melaksanakan tugas menyensor film dan iklan yang akan ditayangkan, LSF tak mungkin tutup. Dalam hal ini kita mengikuti jam kerja yang ditetapkan pemerintah. Saat PPKM kemarin ada WFO dan WFH. Jadi ada yang separuh masuk separuh enggak bahkan ada dikurangi sampai 25 persen.

Dari sisi kerja seperti itu, dari sisi sensoran ternyata cukup unik juga. Awal 2020 hingga akhir 2020 itu benar-benar masa pandemi tidak ada produksi film baru. Tidak ada film layar lebar yang tayang karena bioskop juga tutup. Tapi jumlah film yang disensor di LSF justru meningkat sepanjang tahun 2020. Jumlahnya mencapai sekitar 49.200 judul.  Sementara di 2019 setahun itu sekitar 46.000 judul. Ini fenomena cukup menarik karena kalau film yang dibuat baru memang nggak ada untuk bioskop. Tapi (acara) televisi semuanya, kecuali news yang enggak disensor, sisanya disensor kan ke LSF.

Jumlahnya meningkat?

Ya, yang akan ditayangkan di TV inilah yang jumlahnya yang meningkat pesat. Karena tim produksi di televisi nggak bisa produksi,  bahkan juga mereka banyak yang WFH. Televisi akhirnya memutar film, serial lama yang jumlahnya cukup signifikan.

Perkembangan teknologi digital begitu pesat. Film yang dulu ditayangkan di bioskop karena pandemi kini melalui medium yang lain (OTT /Over the Top). Netflix, VIU, Disney Hotstar, HOOQ, dll menjadi sarana baru. Apakah film yang ditayangkan di OTT wajib disensor LSF?

Sepanjang pandemi dari 2020 awal hingga sekarang memang jumlah produksi film untuk layar lebar jauh berkurang. Berkurangnya bisa sampai hanya 40 persen kapasitas dari normalnya. Biasanya kalau film asing atau film impor yang disensor dalam setahun itu berkisar antara 350 sampai 360 judul dalam setahun. Di masa pandemi ini jumlahnya hanya separuhnya. Film asing hanya 150-an judul yang kami sensor. Sedangkan film Indonesia hanya 60 judul.

Namun demikian ada rumah produksi yang masih punya film yang sudah diproduksi tapi belum bisa tayang. Ada juga yang baru tayang  kemudian pandemi.Ada juga yang menyalurkan film-film lamanya ke OTT. OTT ini daya serapnya cukup tinggi. Karena orang lebih banyak di rumah, rumah produksi melakukan metamarposis dengan membuat film untuk saluran baru ini. Namun realitasnya, belum semua film yang tayang di OTT yang melalui proses penyensoran.  Semua film yang tayang oleh jaringan informatika (OTT) harus melalui LSF. Perkembanhgan teknologi amat cepat dan nyaris tak bisa dibendung. Yang membuat kami senang sekarang sudah ada kesadaran dari produsen film untuk menyensorkan film yang akan tayang di OTT meski belum semua. Di tahun 2020 ada 599 film yang tayang di OTT yang disensorkan.

Rommy Fibri Hardiyanto. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Rommy Fibri Hardiyanto. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Hal krusial apa yang menjadi pakem LSF dalam menyensor film?

Ada beberapa poin yang menjadi perhatian LSF ketika menyensor  sebuah film. Pertama pornografi dan pornoaksi, ini jelas karena kita ada undang-undang pornografi pornoaksi yang intinya kalau menampakan unsur ketelanjangan itu sudah tidak mungkin film itu bisa tayang di Indonesia. Kedua aspek kekerasan yang sifatnya sadistik, karena akan mempengaruhi perkembangan penonton. Apakah film yang mengandung unsur kekerasan seperti ada darahnya boleh? Ya boleh. Itu diklasifikasikan dalam semua umur, 13 tahun, 17 tahun dan 21 tahun. Kalau ada film action, oke kalau aman untuk katagori 13 tahun ke atas. Kalau masih terlalu berat naik ke 17 tahun. 

Kemudian yang ketiga nafzah. Apakah di film tidak boleh ada orang pakai narkoba? Boleh. Apakah tidak boleh ada adegan soal narkoba di film? Boleh. Tapi  bukan tutorial dari awal penggunaan narkotika sampai tuntas. Itu tidak boleh. Kecuali untuk edukasi itu dibolehkan.

Yang keempat harkat dan martabat. Jadi kalau ada adegan yang dinilai akan menjatuhkan harkat dan martabat baik manusia laki-laki perempuan dan segala macam itu tentu akan menjadi pertimbangan LSF.

Yang ke lima agama. Nah ini penting, persoalan intoleransi agama ini kan sangat krusial. Kalau ada salah satu agama yang dilecehkan  dan dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak, keamanan dan ketertiban masyarakat, kita  tidak menginginkan hal itu terjadi. Tapi bukan berarti nggak boleh ada adegan di film yang berbau diskusi atau argumen tentang agama nggak. Silakan tapi sepanjang tidak melecehkan dan penyimpangan.

Bagaimana dengan aspek sosial budaya?

Ada juga satu lagi yang sifatnya aspek sosial budaya, sepanjang tidak menampakan gangguan atau aspek sosial yang menyimpang tak masalah. Misalnya saudara kita di Papua itu dengan baju adatnya kalau masuk film boleh nggak? Ya boleh dong, sepanjang tidak dieksploitasi.

LSF di era sekarang tentu tidak lagi menggunting film seperti dahulu, seperti apa mekanisme sensor yang dilakukan?

Memang LSF sekarang tak lagi menggunting pita film lalu disambungkan lagi. Sekarang kita tinggal memberikan catatan saja, time code sekian sampai sekian silahkan diedit, karena tidak sesuai. Karena sekarang sudah era digital. LSF juga amat menghargai, karena sekarang eranya sudah demokratis sekali. Kita amat menghargai hak para pembuat film. Mereka bahkan bisa berdebat soal catatan yang diberikan LSF. Tugas kami memberi tahu kalau adegan ini bertentangan dengan UU, adegan ini akan membahayakan. Mereka sendiri yang memperbaiki atau mengedit filmnya.

Bagaimana dengan sinetron yang dibuat dengan stripping, seperti apa LSF menyensornya?

Untuk film yang dibuat dengan cara stripping kami sudah menyarankan kepada  rumah produksi untuk memperbaiki pola kerjanya. Jangan sinetron yang akan tayang malam hari baru syutingnya pagi hari. Itu pola kerja yang tidak benar. Kalau seperti itu kami tidak bisa menyensornya. Kalau itu masih dilakukan perencanaannya tidak baik. Jadi toleransinya itu sehari sebelum tayang.

Untuk penyensoran kami juga sudah elektronik. Dalam satu hari surat tanda lulus sensor sudah bisa keluar. Kita sudah menggunakan barcode, tak ada lagi tanda-tangan basah. Dalam kondisi mendesak pagi masuk filmnya siang disensor, sore sudah bisa keluar. Dan malamnya bisa tayang. Ini bagian komitmen LSF dalam pelayanan publik.

Bagaimana dengan wacana self sensor?

Self sensor adalah program literasi yang kami sampaikan kepada masyarakat agar mereka sadar dengan klasifikasi film yang dia tonton. Apakah ini untuk semua umur, 13 tahun ke atas, 17 tahun ke atas atau 21 tahun ke atas. Kami mengharapkan kepada semua pihak agar punya alert masing-masing untuk tidak menonton film yang tidak sesuai dengan klasifikasi usia. Kalau engga  kacau, film sudah di mana-mana dan mudah diakses, sensornya ada di dalam diri kita masing-masing.

Kepada sineas kami juga melakukan dialog untuk hal seperti ini. Intinya yuk kita galakkan budaya sensor mandiri. Pembuat film juga diharapkan bisa menyensor film sesuai dengan klasifikasi usia. Untuk film yang disasar buat usia 13 tahun tidak boleh egois dong dengan memberikan adegan yang tidak sesuai.

Apa tujuan anugerah LSF yang dua tahun sempat tak digelar?

Dua tahun belakangan memang Anugerah LSF sempat tak dilaksanakan karena pandemi. Tujuan kami melaksanakan acara ini untuk memberikan apresiasi kepada para pembuat film (PH-PH), mereka yang menayangkan film (bioskop dan televisi) dan perusahaan yang mendistribusikan film (importir dan eksportir film). Dengan adanya Anugerah ini diharapkan bisa memotivasi pada sineas untuk membuat film yang bagus.

Anugerah LSF ini juga diharapkan bisa menjadi penanda bangkitnya produksi film setelah dilanda pandemi. Yuk kita bangkit lagi, pandemi adalah bagian dari teman kita hidup.  Industri ini harus tetap hidup dan film Indonesia harus bisa menjadi tuan di negeri sendiri.

Ini Kisah Rommy Fibri Hardiyanto, Wartawan Perang yang Kini Menyensor Film 

Rommy Fibri Hardiyanto. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Rommy Fibri Hardiyanto. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Tak banyak wartawan yang punya kesempatan meliput secara langsung kejadian di daerah konflik atau medan perang. Salah satunya adalah Rommy Fibri Hardiyanto. Ia pernah meliput peristiwa Darurat Sipil di Aceh, terorisme di Poso Sulawesi Tengah, konflik di Papua, serta peristiwa Bom Bali. Dan yang paling spektakuler adalah ketika ia ditugaskan reportase ke Irak: Selama Perang Irak Maret-April 2003, saat Presiden Irak Saddam Hussein tertangkap, serta ketika transisi pemerintahan dari Amerika Serikat ke pemerintahan baru Irak.

Bukan hanya melaporkan untuk media yang menugaskannya, Rommy juga membuat sebuah buku dari kerja jurnalistiknya di Irak. Ia menulis buku berjudul Detik-detik Terakhir Saddam: Kesaksian Wartawan TEMPO dari Bagdad, Irak, yang ditulis bersama Ahmad Taufik (Pusat Data dan Analisa TEMPO, 2008).

Ada cerita lucu yang membuat Rommy tak bisa menahan tawa soal pembaca yang mengisahkan kehebatan Rommy saat meliput perang di Irak. Uniknya yang bersangkutan tak menyadari kalau sosok yang diceritakan ada di sampingnya. Sama-sama sedang menjadi pengunjung sebuah restoran, cuma berbeda meja saja.

“Orang itu bercerita tentang betapa heroiknya kerja jurnalistik seorang wartawan TEMPO yang melakukan reportase langsung di Irak, saat negara itu sedang berkecamuk perang. Saya hanya tertawa geli mendengar ia bercerita pada koleganya. Ketika itu, istri saya nyolek saya, dia bilang,  orang itu sedang menceritakan soal kamu saat liputan di Irak,” ungkap pria kelahiran Semarang,14 Februari 1972 ini menirukan istrinya.

Dari peristiwa kecil itu, secara tak sadar muncul keinginan dalam hati kecil Rommy kalau dirinya ternyata juga perlu tampil di depan. Agar orang lebih tahu tentang dirinya. Peluang untuk tampil di muka itu ada di dunia televisi yang memungkinkan dia bisa menjadi host atau pembawa acara dalam sebuah reportase.

Ternyata keinginan itu terwujud saat ia menerima tantangan Rosiana Silalahi untuk bergabung di Liputan6 SCTV dengan jabatan sebagai Produser Eksekutif Liputan 6 SCTV. Bersama timnya ia bertugas membuat liputan mendalam tentang sebuah peristiwa. Dari acara itu Rommy bisa melaporkan reportasenya karena dia menjadi host acara. Setelah sekian tahun bertugas, ia akhirnya meninggalkan dunia televisi dan kembali lagi ke media cetak yang tempatnya memulai karier sebagai seorang wartawan. Ia dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid Mingguan Prioritas.

Menjadi anggota Lembaga Sensor Film sejatinya bukanlah impiannya. Ia malah lebih tertarik menjadi komisioner di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Namun jalan kariernya ternyata lebih condong ke LSF. “Setelah rehat di dunia jurnalistik saya ditawari untuk ikut fit and proper test menjadi anggota LSF. Saya dikasih tahu itu cuma beberapa hari sebelum batas akhir pendaftaran. Dalam waktu singkat saya diminta untuk menyiapkan semua persyaratan yang dibutuhkan. “Dan setelah melewati semua proses alhamdulillah saya dipercaya menjadi anggota LSF,” ujar Rommy soal dirinya yang terpilih menjadi anggota LSF 2015-2019.

Pada periode berikutnya 2020-2024 ia kembali dipercaya untuk melanjutkan tugasnya sebagai anggota LSF. Dan pada periode ini kepercayaan yang lebih besar ia terima. Rommy terpilih sebagai Ketua LSF.

Untuk Kesehatan

Rommy Fibri Hardiyanto. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Rommy Fibri Hardiyanto. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Di tengah kesibukan sebagai Ketua LSF, Rommy benar-benar memerhatikan kesehatan. Alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini rutin melakukan jogging dan pingpong. “Saya rutin jogging, kemudian main pingpong. Soalnya interaksinya tidak terlalu berat,” katanya Rommy yang  memilih GBK dan kawasan Perumahan Bintaro Jaya untuk lokasi jogging.

Namun selama pandemi sedang tinggi-tingginya dia melakukan olahraga; Senam Ping Shuai Gong dan Taichi. “Lewat olahraga ini bisa melancarkah aliran darah dan syaraf. Dengan Taichi meskipun geraknya terlihat sedikit tapi lumayan berkeringat. Jadi selama PPKM Darurat yang mengharuskan kita lebih banyak di rumah saya melakukan olahraga itu,” ungkap peraih  Nominee “Lorenzo Natali Prize: Excellence in Reporting Human Rights, Democracy and Development” oleh International Federation of Journalists (IFJ) dan Komisi Eropa, Brussels-Belgia (2002).

Untuk urusan makanan, kini Rommy membatasi konsumsi tepung. “Saya enggak makan tepung, karena untuk saya tepung itu bisa membuat berat badan bertambah, perut menjadi buncit. Itu membuat saya tidak nyaman. Makanya saya mengurangi asupan tepung. Selain itu yang saya kurangi keju dan susu dan produk turunannya,” katanya.

Untuk minuman, Rommy juga sudah mengurangi kopi dan cokelat. “Soalnya dulu saya sudah banyak minum kopi. Setiap kumpul dengan teman pasti kopi. Sekarang untuk detoksifikasi saya mengurangi kopi dan cokelat. Sekitar dua tahun lalu saya merasakan yang aneh di tubuh, ternyata setelah dilacak penyebabnya kebanyakan minum kopi dan cokelat. Akhirnya sekarang saya hanya minum air putih saja,” aku Rommy.

Rommy Fibri Hardiyanto. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Rommy Fibri Hardiyanto. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Untuk meningkatkan imunitas dan stamina, ia rajin mengonsumsi jahe, madu dan jintan hitam. “Terus terang saya menghidari vitamin atau supleman yang dibuat pabrik. Lebih senang dengan yang alami saja. Ini cukup untuk menjaga kesehatan dan kebugaran, terasa fit di badan,” lanjut pria yang menyukai musik rock ini.

Jauh sebelum bertugas di LSF dan kini didapuk sebagai Ketua LSF ia mengaku memang sudah suka menonton film.  Saat ditanya urutan film yang disukai, ia berujar begini. “Kalau saya pribadi pertama suka film action, kedua drama, ketiga komedi, dan keempat baru film horor,” katanya.

Di tengah kesibukan sebagai ketua LSF, dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta, Rommy Fibri Hardiyanto tetap membagi waktu untuk keluarga. “Istri saya sudah tahu tugas saya sebagai wartawan yang tak ada office hour. Weekend adalah waktu yang harus bertemu untuk quality time dengan keluarga. Bisa makan di rumah atau di restoran,” kata bapak dua anak ini. Ia punya prinsip setinggi-tingginya jabatan di kantor, toh kembalinya ke keluarga juga. Karena itu ia akan memprioritaskan waktu untuk keluarga meski sibuk menyensor beragam judul film, sebagai dosen dan aktivitas lainnya.

“Self sensor adalah program literasi yang kami sampaikan kepada masyarakat agar mereka sadar dengan klasifikasi film yang dia tonton. Apakah ini untuk semua umur, 13 tahun ke atas, 17 tahun ke atas atau 21 tahun ke atas. Kami mengharapkan kepada semua pihak agar punya alert masing-masing untuk tidak menonton film yang tidak sesuai dengan klasifikasi usia,” 

Rommy Fibri Hardiyanto