Anggota DPR Fraksi PAN ke WIKA: Pembangunan Tol Serang-Panimbang Ada Untungnya Tidak?
Ilustrasi. (Foto: Dok. Antara)

Bagikan:

JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI Abdul Hakim Bafagih mempertanyakan benefit dari proyek ruas Tol Serang-Panimbang di Banten yang dibangun oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Menurut dia, pembangunan proyek ini harus bisa bermanfaat dalam menggerakan roda ekonomi perusahaan maupun masyarakat di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Tanjung Lesung.

"Sekarang sektor pariwisata ini sedang lesu, pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus ini kan juga butuh tambahan biaya lagi. Kalau misal KEK kawasan wisatanya tidak bisa berkembang, kira-kira investasi yang dikeluarkan oleh negara untuk pembangunan ini, itu ada return atau pengembaliannya enggak. Baik itu terhadap perusahaan maupun terhadap pertumbuhan ekonomi di sekitar ruas tol ini," ujarnya, dikutip dari laman resmi DPR, Senin, 6 September.

Lebih lanjut, menurut Hakim, pembangunan ruas tol itu banyak memiliki pekerjaan rumah (PR) yang perlu diselesaikan utamanya terkait pembiayaan dan pembebasan lahan. Ia menilai saat ini banyak perusahaan BUMN kurang memiliki kreatifitas dan inovasi dalam mengatasi persoalan keuangan sehingga menjadi sangat bergantung pada Penyertaan Modal Negara (PMN).

Hakim menilai perlu ada angin segar berupa inovasi dalam sistem keuangan perusahaan pelat merah tersebut.

"Ini yang kami pertanyakan, jadi kira-kira kalau bukan PMN, solusinya apa. Karena di September ini WIKA itu akan menerbitkan obligasi dan sukuk senilai Rp2,5 triliun. Obligasinya Rp1,8 triliun sisanya sukuk, dan obligasi ini akan digunakan untuk bayar utang yang sudah jatuh tempo," ucapnya.

Hakim menekankan WIKA perlu kreativitas dalam mencari solusi atas persoalan keuangan yang dihadapi.

"Jadi di PT WIKA perlu dilakukan ide-ide kreatif untuk menyelesaikan persoalan keuangan ini, sedangkan sekarang ini masih ada PR untuk pembangunan ruas tol ini," katanya.
 
Menurut Hakim, penyertaan modal negara (PMN) bisa menjadi upaya terakhir apabila WIKA gagal menemukan solusi untuk permasalahan keuangan.

"Kami ingin melihat itu dulu, sampai kalau memang mentok, nggak bisa apa-apa, baru mau nggak mau ya PMN. Karena ini seperti buah simalakama, kalau nggak diteruskan, nanti dampaknya akan lebih besar. Kalau diteruskan, keuangan negara tidak terbebani," ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar WIKA betul-betul mempertimbangkan cost and benefit ratio dari proyek tol ruas Serang-Panimbang.

"Kalau negara keluar duit itu, (harus ada) satu profit, yang kedua ada manfaat terhadap masyarakat sekitar. Tumbuh nggak ekonominya, serapan tenaga kerjanya dapat apa nggak, produk produk UMKM sekitar diberdayakan apa nggak," ujarnya.

WIKA catatkan laba Rp83 miliar per Juni 2021

Sektor konstruksi menjadi salah satu sektor yang paling terdampak oleh pandemi COVID-19 salah satunya WIKA. Pada 30 Juni WIKA membukukan laba bersih Rp83 miliar, turun 67 pesen dari periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp250,41 miliar.

Turunnya laba bersih ini salah satunya disebabkan karena turunnya pendapatan perusahaan sebesar 5,13 persen yoy, dari sebelumnya Rp7,13 triliun di akhir semester I-2020 menjadi senilai Rp6,76 triliun di akhir periode Juni tahun ini. Beban pokok pendapatan perusahaan pada periode ini juga turun menjadi Rp6,22 triliun dari sebelumnya Rp6,46 triliun. Beban usaha total juga ikut turun menjadi Rp35,67 miliar dari sebelumnya Rp415,03 miliar.

Pada periode tersebut, tercatat nilai aset WIKA menjadi sebesar Rp62,59 triliun, turun dari posisi akhir Desember 2020 yang senilai Rp68,10 triliun. Aset lancar tercatat mencapai Rp41,57 triliun dan aset tak lancar sebesar Rp21,02 triliun.

Sementara di pos liabilitas, terjadi penurunan sepanjang semester I-2021 menjadi Rp45,80 triliun dari sebelumnya Rp51,45 triliun. Liabilitas jangka pendek tercatat sebesar Rp33,11 triliun dan liabilitas jangka panjang ditutup di angka Rp12,69 triliun.

Sedangkan ekuitas perusahaan di akhir Juni 2021 lalu mencapai Rp16,78 triliun, naik tipis dari posisi akhir Desember 2020 yang sebesar Rp16,65 triliun.