Bagikan:

JAKARTA - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono membantah kabar bahwa penerapan transaksi jalan tol nirsentuh atau multi lane free flow (MLFF) berpotensi merugikan badan usaha jalan tol (BUJT).

Menteri Basuki menyebut, kabar tersebut tak lain merupakan asumsi para pengusaha jalan tol yang cukup khawatir bakal terjadinya malfungsi sistem sehingga memungkinkan sejumlah kendaraan lolos tanpa melakukan pembayaran.

"Dari mana 20 persen itu (potensi porsi kerugian ditanggung BUJT)? Orang belum pernah dilakukan uji coba. Justru dengan uji coba itu untuk mengukur (potensi kerugian BUJT), berapa lossnya," ujar Basuki saat ditemui di Jakarta, dikutip Rabu, 15 November.

"Kalau ada kekhawatiran begitu, tapi hanya asumsi kami enggak bisa putuskan, makanya sekarang dicoba," tambahnya.

Pada kesempatan sama, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Hedy Rahadian memastikan bahwa uji coba MLFF akan dilakukan pada pekan kedua Desember 2023.

Nantinya, uji coba MLFF tersebut bakal mengukur ketepatan teknologi global navigation satellite system (GNSS).

Hedy menjelaskan, tahap uji coba MLFF masih akan menggunakan palang tol. Dengan harapan, hal itu dapat menekan kemungkinan kendaraan bebas lolos keluar tanpa melakukan pembayaran. Terkait teknisnya, uji coba perdana MLFF di Tol Bali-Mandara ini akan dilakukan pada satu gerbang tol saja.

"Sementara tetap ada (palang tol). Jadi, kami pakai barrier dulu kalau sudah data registrasinya membaik kami baru copot, karena untuk mencegah loss. Jadi, kami ukur dulu loss-nya seperti apa sih," ungkapnya.

Adapun MLFF merupakan teknologi terkini di dunia yang memproses pembayaran secara otomatis bagi kendaraan yang melintas di jalan tol.

Melalui teknologi ini, pengguna jalan tol dapat masuk dan keluar tanpa harus berhenti untuk membayar.

Hal ini dimungkinkan karena MLFF menggunakan teknologi Global Navigation Satelit System (GNSS), yaitu sistem yang memungkinkan dilakukannya transaksi melalui aplikasi di smartphone dan dibaca melalui satelit, sehingga tidak diperlukan alat pembaca di setiap tempat di jalan tol seperti pada teknologi berbasis RFID, memberikan solusi biaya yang lebih efektif.