Food Station Gandeng Yayasan Darussyifa Hadirkan Klinik Kesehatan di Pasar Induk Beras Cipinang
Foto: Dok. Food Station Tjipinang

Bagikan:

JAKARTA - Mengambil momentum Perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-77 RI, PT Food Station Tjipinang Jaya selaku BUMD Pangan DKI Jakarta berkolaborasi dengan Yayasan Darussyifa menghadirkan sebuah sarana penanganan kecelakaan kerja bernama Klinik PIBC yang berada di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur, Jumat 19 Agustus.

Peresmian klinik dilakukan oleh Direktur Keuangan dan Umum PT Food Station Tjipinang Jaya Budi Santoso bersama Kepala PIBC Herry Awal Fajar dengan Selain itu peresemian juga disaksikan oleh Ketua Yayasan Darussyifa, Pengurus Koperasi Pekerja Bongkar Muat (PKBM) PIBC dan kan oleh RT, RW dan Lurah setempat.

Bersamaan dengan acara peresmian klinik digelar juga pemberian santunan kepada 100 anak yatim dari warga terdekat dan Yayasan Yatim Piatu Rawamangun. Adapun inisiatif untuk melaksanakan acara pemberian santunan kepada anak yatim tersebut dilakukan oleh Yayasan Darussyifa.

“Mengambil momentum perayaan HUT ke-77 RI, kami menghadirkan klinik di PIBC. Tujuannya agar semua stake holder di PIBC mulai dari pekerja bongkar muat, pemilik toko, karyawan dan pengunjung bisa dengan cepat dan mudah mendapatkan pelayanan kesehatan di lokasi terdekat,” kata Budi dalam keterangan resminya, Minggu 21 Agustus.

Budi menambahkan meskipun keberadaan klinik ini ada di dalam PIBC, namun warga sekitar PIBC juga bisa mengakses pelayanan di Klinik PIBC. Selain itu klinik PIBC juga semakin melengkapi fasilitas pendukung yang dimiliki oleh PIBC seperti Masjid, Kantin, Pemadam Kebakaran, Lab beras dan Shelter untuk buruh.

“Layaknya sebuah pasar kehadiran fasilitas kesehatan adalah sebuah keniscayaan. Namun demikian kehadiran Klinik PIBC tidak ekslusif karena itu, warga sekitar bisa mengakses pelayanan kesehatan di Klinik PIBC,” ujar Budi.

Secara terpisah Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Pamrihadi Wiraryo mengatakan klinik PIBC sangat dibutuhkan, oleh karena itu sejak setahun lalu sudah direncanakan pembuatan klinik di PIBC. Adapun tujuannya adalah untuk membantu memudahkan para pekerja yang ada di PIBC memperoleh layanan kesehatan.

“Semoga keberadaan Klinik PIBC akan mendatangkan banyak manfaat, baik bagi para pekerja maupun komunitas di sekitarnya,” tuturnya.

Melayani BPJS

Klinik baru yang mulai beroperasi Senin mendatang ini sengaja didirikan untuk menjawab kebutuhan kesehatan para pekerja bongkar muat di PIBC dan masyarakat sekitar.

Adalah kerja sama Yayasan Darussyifa dengan Food Station yang membuahkan pendirian Klinik PIBC ini. Klinik yang letaknya sekitar 30 meter dari pintu masuk Pasar Induk Beras Cipinang itu akan melayani pasien dari Senin sampai Jumat, pukul 08.00 sampai 17.00. Untuk Sabtu, pelayanan akan dimulai jam 12 dan tutup jam 17.00. Dan perlu diinformasikan juga pasien yang hadir di Klinik ini bisa menggunakan BPJS.

Klinik ini memiliki SDM dua orang dokter, satu perawat, satu apoteker dan satu asisten apoteker menjalankan pelayanan kesehatan.

“Namun jika dibutuhkan 24 jam, kita akan buka 24 jam,” kata Ali Zainal Abidin Shahab, Kepala Yayasan Darussyifa.

Pendirian klinik ini bertujuan untuk melayani pertolongan pertama kecelakaan kerja, di samping kesehatan umumnya. Selama ini, para pekerja bongkar muat beras yang mengalami kecelakaan kerja acapkali mendatangani sebuah klinik yang jaraknya sekitar 500 meter dari lokasi. Yakni Klinik Pratama Cipinang yang juga berada di bawah naungan Yayasan Darussyifa.

“Dalam sebulan ada sepuluh sampai dua puluh pekerja bongkar muat beras dari pasar datang ke klinik (Klinik Pratama Cipinang),” jelas Ali Zainal Abidin.

“Selain pertolongan pertama, kami juga akan memberikan penyuluhan untuk menghindari kecelakaan kerja ini kepada para pekerja,” kata Ali Zainal Abidin.

Sebenarnya tak ada perbedaan perlakuan korban kecelakaan kerja dengan penderita lain. Namun menurut dr Eka Oktaviani Saputri, Kepala Klinik PIBC, di klinik inilah tangan atau kaki korban kecelakaan kerja untuk kasus patah tulang misalnya langsung dibidai. Dengan kata lain, penderita kecelakaan kerja mendapatkan pelayanan lebih cepat dan tepat.