Seberapa Gawat Gelombang COVID-19 di Malaysia Saat Ini?
Ilustrasi foto (Robert Northon/Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Sejak Selasa, 1 Juni, Malaysia menerapkan lockdown total untuk mengatasi peningkatan tajam kasus COVID-19. Hari demi hari pendataan menunjukkan kegawatan yang makin jadi. Seberapa parah gelombang COVID-19 yang melanda Malaysia saat ini?

Lockdown total diterapkan dua pekan ke depan. Semua mal ditutup. Hanya ada 17 sektor layanan yang diizinkan beroperasi selama. Sektor tersebut, di antaranya perawatan kesehatan, telekomunikasi, makanan, minuman, utilitas, perbankan, serta media.

Pemerintah juga akan memberi pengecualian izin bagi perusahaan di 12 sektor manufaktur, di antaranya manufaktur makanan dan minuman. Selain itu sektor manufaktur alat kesehatan serta tekstil juga diizinkan demi terjaganya produksi alat pelindung diri.

"Kami berharap sektor manufaktur akan mengikuti perintah pemerintah karena kami telah memberikan syarat bahwa hanya 60 persen yang bisa bekerja," tutur Menteri Senior Malaysia Ismail Sabri Yaakob, dikutip The Times, Jumat, 4 Juni.

“Pusat perbelanjaan harus ditutup. Kecuali supermarket dan tempat yang menjual makanan dan minuman dan kebutuhan dasar,” tambah dia.

Dan bagi masyarakat, hanya dua orang dari setiap rumah tangga yang diizinkan keluar untuk membeli kebutuhan pokok atau mendapatkan layanan medis. Itu pun dengan pembatasan radius 10 kilometer.

Malaysia pecahkan rekor kematian COVID-19 tertinggi

Ilustrasi foto (Isaac Quesada/Unsplash)

Satu hari sejak ditetapkan lockdown, Malaysia kembali mencetak rekor kematian harian tertinggi sejak awal pandemi COVID-19. Rabu, 2 Juni, 126 warga Malaysia meninggal. Rekor terburuk sebelumnya tercatat pada 29 Mei, di mana 98 orang mati.

Dilansir Channel News Asia, Direktur Jenderal Kesehatan Noor Hisham Abdullah menyebut ada tiga warga negara asing di antara 123 orang itu. Para korban berusia 29 hingga 98 tahun, di mana kebanyakan dari mereka memiliki riwayat diabetes dan darah tinggi.

Secara total, per hari itu jumlah kematian akibat COVID-19 di Malaysia mencapai 2.993 jiwa. Dan menurut laporan Kementerian Kesehatan, di antara seluruh kasus kematian terbaru, sepuluh di antaranya terjadi tanpa pasien sempat ditangani di fasilitas kesehatan.

Sistem kesehatan di Malaysia kini mulai kewalahan. Hingga Kamis, 3 Juni tercatat 878 pasien COVID-19 yang dirawat di unit perawatan intensif, di mana 441 di antaranya membutuhkan bantuan alat pernapasan.

Secara nasional Malaysia mencatatkan 587.165 kasus COVID-19, di mana 82.274 di antaranya berstatus aktif. Sebanyak 22 klaster baru juga diidentifikasi. Empat di antara klaster baru itu dipicu kunjungan rumah tangga selama musim perayaan di Penang, Kedah, Perak, serta Kuala Lumpur.

80 ribuan anak terjangkit

Ilustrasi foto (Anna Earl/Unsplash)

Catatan lain dari gelombang COVID-19 Malaysia kali ini adalah terjangkitnya 82 ribuan anak. Menteri Kesehatan Malaysia Adham Baba, dalam pemberitaan Bernama menjabarkan data terakhir yang tercatat pada Senin, 31 Mei.

Ada 18.851 anak di bawah usia empat tahun, 8.237 anak berusia lima sampai enam tahun, serta 26.85 anak di rentang usia tujuh hingga 12 tahun. Sementara, di usia 13 hingga 17 tahun, otoritas mencatat ada 27.402 kasus.

"Tak ada yang di unit perawatan intensif (ICU)," kata Adham dalam konferensi pers.

Berdasar angka ini Adham mengimbau para orang tua atau wali untuk lebih memperhatikan anak-anak, termasuk menghindarkan mereka dari kerumunan. Dari sisi pemerintah, Adham mengatakan pemerinta bakal memperluas screening dan tes antigen.

Bagaimana WNI di Malaysia?

Duta Besar RI untuk Malaysia Hermono meyatakan ada 831 WNI terkonfirmasi positif COVID-19 di Malaysia saat ini. Meski begitu Hermono mengingatkan, pihaknya memprediksi angka sesungguhnya bisa jadi lebih tinggi: di antara 1.200 hingga 1.300.

"Data yang kita terima ada 831 tapi perkiraan saya ada 1.200 hingga 1.300 karena belum dilaporkan kepada kita," kata dia dikutip CNBC Indonesia, Jumat, 4 Juni.

Hermono menjelaskan mekanisme pelaporan COVID-19 di Malaysia, di mana laporan akan langsung tercatat di data Kementerian Kesehatan. Tanpa laporan dari pihak Kementerian Kesehatan, KBRI tak dapat mengetahui pasti angka tersebut.

Yang jelas menurut Hermono pihak KBRI di Kuala Lumpur telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi situasi ini. Langkah yang dimaksud termasuk bagaimana menopang perekonomian para TKI yang terdampak lockdown total.

"KBRI siap mengantisipasi bilamana kita perlu menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak Covid," Hermono.

*Baca Informasi lain soal BERITA INTERNASIONAL atau baca tulisan menarik lain dari Yudhistira Mahabharata.

 

BERNAS Lainnya