Sepak Terjang Tokoh Teori Konspirasi India, Biswaroop Chowdhury di Tengah Tsunami COVID-19
Biswaroop Chowdhury (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Biswaroop Roy Chowdhury muncul di tengah kekalutan India menghadapi tsunami COVID-19. Ia menentang segala pendekatan medis terhadap COVID-19 dan menawarkan alternatif, yaitu melawan COVID-19 hanya dari makanan.

"Menurut saya, kebanyakan kematian bukan karena virus corona itu sendiri, tapi karena perawatannya," tutur Chowdhury dalam sebuah video yang dipublikasikan dalam situsnya.

Chowdhury bukan orang sembarangan. Ia adalah juru kampanye antivaksin yang karismatik dan populer di India. Di media sosial, Chowdhury bahkan dilarang di sejumlah platform.

Pernyataannya kali ini memancing lebih banyak respons. Mereka khawatir pengaruh Chowdhury memerkeruh kondisi COVID-19 di India. Chowdhury mengatakan pengobatan konvensional adalah konspirasi yang dirancang untuk mendatangkan uang besar bagi bisnis-bisnis raksasa, termasuk farmasi dan medis.

"Obat-obatan tak akan membantu dalam menyembuhkan penyakit apapun ... Saya benar-benar yakin bahwa manusia tak memerlukan vaksinasi sama sekali," Chowdhury, dikutip dari BBC, Minggu, 2 Mei.

Pola makan sehat cukup

Dalam video, Chowdhury mengeklaim COVID-19 dapat dilawan hanya dengan pola makan yang memerbanyak sayur dan buah. Tak cuma COVID-19, pola makan yang ia terapkan itu konon juga sanggup mengobati diabetes bahkan AIDS.

Tak hanya mengangkat pola makan sehat. Chowdhury juga mengatakan kepada para pengikutnya bahwa rumah sakit meningkatkan kemungkinan kematian orang-orang. Bahkan ia berucap, pasien COVID-19 yang kesulitan bernapas lebih baik duduk di depan kipas angin ketimbang menerima oksigen.

Chowdhury dikritik habis-habisan oleh praktisi dan ahli. Perspektif Chowdhury dipandang tak masuk akal dalam ilmu kedokteran.

Tapi, bagaimanapun Chowdhury telah memanfaatkan pandemi untuk menyebarkan pesannya. Dan para pengkritik khawatir itu dapat memicu badai COVID-19 yang lebih parah di India.

*Baca Informasi lain soal COVID-19 atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.

 

BERNAS Lainnya