Bagikan:

JAKARTA – Menyusul meninggalnya Presiden Iran Ebrahim Raisi dalam kecelakaan helikopter, media sosial diramaikan dengan teori konspirasi. Amerika Serikat dan Israel dituding bertanggung jawab atas dugaan pembunuhan terhadap Raisi.

Kabar meninggalnya Ebrahim Raisi dikonfirmasi media pemerintah Iran, Senin (20/5/2024). Presiden Raisi dan Menteri Luar Negeri Hossein Amirabdollahian ditemukan meninggal setelah tim penyelamat menemukan helikopter yang jatuh di wilayah pegunungan yang diselimuti kabut dekat perbatasan Azerbaijan dan Iran.

Raisi bepergian dengan helikopter tersebut karena peresmian bendungan hasil kerja sama Iran dan Azerbaijan.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengumumkan lima hari berkabung menyusul meninggalnya Raisi, mulai 20 hingga 24 Mei 2024.

"Saya mengumumkan lima hari berkabung publik dan menyampaikan belasungkawa saya kepada rakyat Iran," kata Khamenei, yang memiliki otoritas tertinggi di Iran.

Sebagai pengganti, Wakil Presiden Iran Mohammad Mokhber akan mengambil posisi presiden sesuai dengan Pasal 131 konstitusi Iran. Ia akan bekerja sama dengan para kepala legislatif dan peradilan Iran untuk mempersiapkan pemilihan presiden dalam waktu 50 hari.

Kejanggalan Cuaca Buruk

Sampai sekarang penyebab jatuhnya masih dalam penyelidikan. Militer Iran bahkan dilaporkan ikut turun tangan. Sejumlah ahli menunjuk cuaca buruk berperan besar dalam kecelakaan tersebut.

Menurut pakar penerbangan dan mantan pilot helikopter Paul Beaver, tutupan awan, kabut, dan suhu rendah berkontribusi terhadap jatuhnya pesawat Presiden Iran.

"Tidak seperti pesawat sayap tetap, helikopter tidak dapat dengan mudah terbang di atas cuaca (buruk)," katanya, dikutip Al-Jazeera.

Tapi asumsi ini dimentahkan Michael Maloof, pensiunan analis keamanan senior. Di saat yang sama, ada tiga helikopter dalam rombongan presiden, dua di antaranya mendarat dengan selamat. Sedangkan helikopter presiden hilang ditelan kabut pegunungan. Saat ditemukan, sudah hancur berkeping. Heli tersebut tiba-tiba jatuh, tanpa ada mayday atau tanda apa pun.

Hal inilah yang membuat Maloof ragu bahwa cuaca buruk menjadi penyebab jatuhnya helikopter Raisi.

Kalaupun berkabut, kata Maloof, mengapa dua helikopter lainnya dapat balik dengan selamat, sementara helikopter presiden tidak demikian.

Sudah Beroperasi Sejak 1960

Teka-teki soal penyebab jatuhnya helikopter Presiden Iran terus menjadi pembahasan. Spekulasi lain menyebutkan AS dan Israel sebagai dalang dari kecelakaan tersebut.

Bukan tanpa alasan tudingan ini muncul. Hubungan Iran dengan Israel memanas sejak bulan lalu, setelah Teheran yang digawangi Raisi dan Khamenei melancarkan serangan rudal sebagai balasan terhadap serangan kedubes Iran di Damaskus oleh Israel.

Mengutip First Post, muncul teori konspirasi yang mengatakan badan intelijen Israel Mossad, yang terkenal karena kemampuannya melaksanakan operasi di Iran, berada di balik kecelakaan tersebut. Teori ini didasari sejarah operasi Israel yang menargetkan personel militer dan nuklir Iran.

Namun sejumlah pengamat menganggap teori ini justru tidak mungkin terjadi. Membunuh presiden yang sedang menjabat merupakan “tindakan perang langsung”, yang berpotensi memicu tanggapan keras dari Iran.

Sasaran Israel biasanya tertuju pada sasaran militer dan nuklir, dibandingkan tokoh politik terkemuka.

“Ada alasan kuat untuk meragukan keterlibatan Israel,” kata sebuah laporan di The Economist.

“Mereka belum pernah melakukan pembunuhan terhadap seorang kepala negara, sebuah tindakan perang yang jelas akan mengundang respons sengit dari Iran.”

Presiden Iran Ebrahim Raeisi menyapa jamaah seusai menunaikan shalat zuhur di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (24/5/2023). Presiden Iran Ebrahim Raesi mengunjungi Masjid Istiqlal pada hari kedua kujungan kenegaraannya di Indonesia. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc)

Terkait tudingan ini, Israel menegaskan tidak terlibat dalam kematian Presiden Iran Ebrahim Raisi. “Bukan kami,” kata pejabat Israel, seperti disitat Reuters.

Helikopter yang digunakan adalah tipe Bell 212 yang beroperasi sejak 1960-an, sebelum revolusi Iran pecah. Menurut pensiunan kolonel Angkatan Udara Amerika Serikat Leighton, Bell 212 awalnya diproduksi AS dan kemudian diproduksi di Kanada. Ia mengatakan, Iran kemungkinan kesulitan mendapatkan suku cadang untuk helikopter berusia lebih dari setengah abad tersebut karena adanya embargo AS.

Selain masalah suku cadang, sanksi Barat terhadap program nuklir Iran serta cuaca buruk di wilayah tersebut berperan dalam kecelakaan helikopter yang ditumpangi Raisi.

"Semua itu, menurut saya, berkontribusi pada serangkaian insiden dan serangkaian keputusan yang dibuat oleh pilot dan bahkan mungkin presiden sendiri ketika harus menerbangkan pesawat ini… Dan sayangnya bagi mereka, akibatnya adalah kecelakaan ini,” kata Leighton.

Sementara itu, para pejabat Iran mengaitkan kecelakaan itu dengan embargo AS terhadap pesawat dan suku cadang penerbangan, yang berdampak signifikan terhadap pemeliharaan dan keselamatan armada penerbangan Iran.

Televisi nasional Iran menayangkan poster Presiden Iran Ebrahim Raisi, Minggu (19/5/2024). (ANTARA/Xinhua/Shadati/tm/am)

Mantan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan sanksi sepihak AS berdampak buruk terhadap industri penerbangan sipil Iran. Karena itu, Zarif menegaskan secara tidak langsung bertanggung jawab atas tragedi tersebut dengan melarang penjualan suku cadang penerbangan dan pemeriksaan keselamatan yang diperlukan.

“Ini akan masuk dalam daftar hitam kejahatan AS terhadap rakyat Iran,” kata Zarif.