Meski Bukan Komunikasi Tatap Muka, Obrolan di Grup WhatsApp Tetap Butuh Etika
Etika dalam berkomunikasi di dalam grup WhatsApp tidak boleh diabaikan, sehingga tak menimbulkan salah sangka di antara pengguna. (Unsplash/Dimitri Karastelev)

Bagikan:

JAKARTA – Di era modern seperti saat ini, hampir semua orang memanfaatkan media sosial sebagai alat berkomunikasi, salah satunya adalah apilkasi WhatsApp. Tapi ketika aplikasi WhatsApp tidak digunakan dengan bijak, justru bisa memantik perselisihan, bahkan berujung tindak pidana. 

Seperti yang terjadi di wilayah Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Polresta Bandung menangkap seorang pria karena membunuh rekannya sendiri lantaran sakit hati dikeluarkandari grup WhatsApp oleh korban.

Kapolresta Bandung Kombes Pol. Kusworo Wibowo menjelaskan, peristiwa tersebut bermula saat pelaku TT (35) merasa kesal setelah korban AD (29) mengeluarkannya dari salah satu grup WhatsApp geng motor.

"Setelah dikeluarkan dari grup WhatsApp, tersangka mendatangi korban, kenapa dikeluarkan, sehingga terjadi perkelahian dan akhirnya tersangka mengeluarkan sebilah pisau," kata Kusworo dalam konferensi pers di Mapolresta Bandung, Jawa Barat, Senin (30/10).

Etika di Grup WhatsApp

Di tengah kemajuan teknologi, penggunaan media sosial sebagai alat komunikasi ikut menanjak. Berdasarkan laporan We Are Social, WhatsApp masih menjadi media sosial yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia.

Per Januari 2023, persentase pengguna aplikasi percakapan instan tersebut di dalam negeri mencapai 92,1 persen. Angka ini mengungguli Instagram yang berada di urutan kedua dengan pengguna sebanyak 86,5 persen.

Salah satu fitur yang paling sering digunakan pada aplikasi terseut adalah obrolan grup WhatsApp yang biasanya berisi paling tidak tiga orang. Grup WhatsApp ini dinilai dapat memudahkan komunikasi sehingga banyak digunakan di lingkungan kerja, keluarga, pertemanan, dan lainnya.

Mengutip Independent, obrolan grup merevolusi cara kita berkomunikasi dengan teman, kolega, dan keluarga.

Obrolan grup WhatsApp adalah hal yang lumrah di era sekarang ini. Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi baru, tidak ada panduan etika untuk para penggunanya. Dan hal ini bisa menimbulkan masalah.

Kapolresta Bandung Kombes Pol. Kusworo Wibowo saat rilis kasus pembunuhan akibat dikeluarkan dari grup "WhatsApp" di Mapolresta Bandung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (30/10/2023). (Antara/HO-Polresta Bandung/aa)

Alih-alih mempererat silaturahmi, obrolan di grup WhatsApp justru bisa melemahkan hubungan jika tidak mengindahkan etika atau aturan tidak tertulis.

Etika pertama yang perlu diperhatikan di grup WhatsApp adalah, apakah obrolan yang dilempar relevan untuk semua anggota grup di dalamnya? Artinya, jika pesan yang disampaikan bersifat pribadi maka hindari membahasnya di grup.

“Ini mungkin meningkatkan kecemasan Anda karena Anda mungkin membaca pesan lebih sering agar tidak melewatkan apa pun, yang bisa membuat Anda merasa lebih buruk karena Anda bukan bagian darinya,” kata psikolog Dr. Amy Cooper Hakim kepada Well+Good.

Sementara itu, pakar etiket Elaine Swann membeberkan beberapa etika dalam berkomunikasi di grup WhatsApp. Ia menyebutkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengirim pesan di grup WhatsApp.

Selain mengirimkan pesan yang berguna untuk seluruh anggota grup, Elaine juga menuturkan pentingnya memperhatikan waktu, memiliki tujuan yang positif, dan yang tidak kalah penting adalah mengenal semua anggota grup WhatsApp.

“Perlu rasa hormat, kejujuran, dan penuh pertimbangan ketika berkomunikasi di grup WA,” kata Elaine.

“Dengan begitu Anda bisa menghormati orang-orang di grup WA yang sama dan mereka tidak menganggap Anda sebagai pengganggu,” imbuhnya.

Hindari Perdebatan di Grup WhatsApp

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, obrolan di grup WhatsApp sebaiknya tidak menyinggung salah satu anggota grup. Karena hal ini berisiko membuat suasana menjadi panas.

Menurut Hakim, WhatsApp bukan tempat yang pas untuk membahas isu-isu sensitif karena intonasi dan arti pesan yang disampaikan bisa disalahartikan oleh si penerima pesan.

Jika obrolan di grup mulai memanas, Hakim menyarankan untuk menyudahi diskusi dan beralih membahasnya secara langsung.

“Jika mulai ada perselisihan, nyatakan dengan jelas bahwa Anda senang mendiskusikan masalah tersebut, namun grup chat bukanlah tempat yang tepat,” tutur Hakim.

“Pindahkan obrolan ke luar obrolan grup,” tegasnya.

Pesan hoax marak tersebar menjelang Pemilihan Presiden di dalam banyak grup WhatsApp. (Pixabay)

Di antara beberapa yang bisa memancing ketegangan di grup WhatsApp adalah adanya perbedaan pendapat, penyebaran pesan hoaks atau berita bohong. Dan, menjelang Pemilihan Presiden 2024 ini, penyebaran berita hoaks masih menjadi ancaman dalam keberlangsungan pemilu yang aman dan nyaman.

Menurut Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Lolly Sunenty, selain Facebook dan Twitter, WhatsApp termasuk media yang paling sering digunakan untuk melakukan kampanye bermuatan SARA. Khusus WhatsApp, biasanya dilakukan melalui grup keluarga atau komunitas terdekat.

"Modus (pelaku melakukannya) adalah untuk mendapatkan dukungan atau simpati yang lebih besar, menyerang lawan dan mendelegitimasi proses atau hasil pemilu," ujar Lolly.

Padahal penyebaran berita yang bermuatan SARA, kabar bohong dan ujaran kebencian via media sosial sebenarnya sangat mengkhawatirkan. Itu karena hal tersebut bisa menjadi penyebab terjadinya polarisasi, bahkan konflik, masyarakat di dunia nyata.