Bagikan:

JAKARTA – Cenderung sulit berkonsentrasi dan mudah bosan, serta cenderung mudah melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri atau orang lain. Seseorang dengan ciri seperti ini kemungkinan mengalami gangguan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

ADHD merupakan gangguan dalam perkembangan peningkatan aktivitas motorik yang terjadi sejak bayi dan berlangsung hingga dewasa. Gangguan ini, kata psikolog dari Universitas Indonesia, Dr. Rose Mini Agoes Salim sudah terlihat sejak anak berusia balita.

Lazimnya, ciri anak yang mengalami gangguan ADHD sensitif pada suara, sering menangis, suka menjerit, sulit mengonsumsi ASI, kesulitan tidur, dan tidak senang bila digendong.

“Kalau sudah lebih besar, anak selalu bergerak aktif. Merasa bosan di dalam suatu tempat. Kelihatan canggung kalau dengan orang lain di sekelilingnya. Sering mengalami jatuh atau terbentur, lebih ribut dibanding anak-anak pada umumnya,” kata Rose kepada VOI pada 8 Maret 2023.

Tentunya untuk memastikan benar atau tidaknya anak mengalami gangguan ADHD tetap butuh pemeriksaan bertahap. Belum tentu juga anak yang selalu bergerak aktif mengalami gangguan ADHD.

Ilustrasi - Remaja dan dewasa dengan gangguan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) cenderung tidak mampu mengendalikan emosinya, menjadi mudah marah bahkan tak segan menyakiti diri sendiri. (Pixabay)

“Tanda-tandanya memang terlihat sejak bayi, tetapi biasanya lebih terlihat lagi ketika sudah berusia di atas 3 tahun. Orangtua bisa lebih melihat apakah anak bisa mengerem emosinya, bisa fokus pada sesuatu atau tidak, dan lainnya. Tetap butuh pemeriksaan intensif dari psikolog anak,” Rose melanjutkan.

Begitupun ketika beranjak remaja dan dewasa. Ciri yang tampak hampir serupa, cenderung sulit fokus terhadap beragam hal. Sehingga banyak remaja dengan gangguan ADHD tidak mampu menyelesaikan tugas-tugasnya sampai selesai. Entah karena bosan, tidak memahami, atau cepat lupa.

Dalam tingkat tertentu, kata Rose, remaja dan dewasa dengan gangguan ADHD juga cenderung tidak mampu mengendalikan emosinya. Menjadi mudah marah, nafsu makan berkurang, mengalami gangguan tidur, bahkan sampai menyakiti diri sendiri.

Sehingga sangat beralasan bila anak dengan ADHD memiliki kemungkinan berperilaku kriminial di kemudian hari. Bisa saja remaja yang menjadi pelaku tindak kriminal saat ini merupakan orang dengan gangguan ADHD. Sebab, mereka memang cenderung impulsif, melakukan sesuatu hanya karena insting tanpa pikiran yang jernih. Apalagi, bila mereka mengalami disintegrasi sosial dan kurang pengawasan orangtua.

Pantau Tumbuh Kembang

Itulah mengapa, menurut psikolog anak dan remaja Novita Tandry, orangtua harus terus memantau proses tumbuh kembang anak. Semakin cepat terdeteksi, penanganannya akan lebih efektif.

“Gangguan ini akan terbawa sampai dewasa. Kalau sejak dini tidak mendapatkan treatment, khawatir dampaknya bisa lebih mengganggu, baik terhadap diri sendiri ataupun orang lain,” kata Novita kepada VOI pada 8 Maret 2023.

Memahami tahap tumbuh kembang anak amatlah penting sebagai bagian dari pola asuh. Tumbuh kembang anak tidak hanya mencakup perubahan fisik yang terjadi sejak masa bayi hingga remaja, tapi juga perubahan emosi, kepribadian, perilaku, pemikiran, dan bicara. Orang tua perlu memastikan anak tumbuh dan berkembang secara optimal.

“Memang anak punya tahapan tumbuh kembang yang kita sebut sebagai normalitas. Inilah yang menjadi pegangan kita untuk bisa melihat perkembangan tahapan tumbuh kembang anak sudah sesuai pada umumnya atau ada perbedaan,” tuturnya.

Beberapa ciri penderita sindrom ADHD yang perlu diketahui. (Verywell/Michela Buttignol)

Misalnya anak berusia 2-3 tahun. Perkembangan fisik lazimnya anak belajar melompat, berlari, melempar dan menendang bola, serta mencoba melakukan aktivitasnya sendiri, seperti menyikat gigi sendiri dan memakai baju sendiri.

Untuk perkembangan kognitif dan bahasa, anak pada usia itu penuh dengan imajinasi, senang berkhayal menganggap boneka sebagai teman misalnya, senang mendengarkan bacaan dongeng, mengenal kata dan nama benda, mulai senang bertanya, dan senang mengulangi kata yang didengar.

Sedangkan perkembangan sosial dan emosional, seperti dilansir dari laman resmi Primaya Hospital anak usia 2-3 tahun lazimnya senang meniru apa yang dilakukan orang lain di sekitarnya. Mereka mulai sadar bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain, mulai tidak patuh dalam beberapa hal, melanggar larangan karena penasaran apa yang akan terjadi, dan mengamuk ketika marah atau merasa frustrasi.

Ketika berbeda, konsultasikan lah lebih lanjut. Novita pun berpendapat, “Untuk menentukan anak mengalami gangguan ADHD, perlu pemeriksaan bertahap, bisa memakan waktu berminggu-minggu untuk mengetahui pola kebiasaan anak, bukan karena diagnosa sendiri.”

Penanganan Lewat Terapi Perilaku

Hingga saat ini, menurut Novita, penyebab gangguan ADHD belum diketahui secara pasti. Sejumlah pakar sedang mempelajari kemungkinan penyebab gangguan tersebut, baik secara genetik, fungsi dan struktur otak, maupun hal-hal yang terjadi selama proses kehamilan.

Sehingga, pendekatan yang lazimnya digunakan untuk menangani anak dengan ADHD adalah terapi perilaku. Seperti terapi Cognitive Behavioural Therapy (CBT).

Tujuan terapi CBT, seperti dilansir dari Halodoc, adalah melatih kemampuan berpikir dan pola perilaku. Harapannya anak bisa memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap setiap masalah yang dialami. Sekaligus mengajarkan bagaimana cara bereaksi terhadap segala permasalahan dan menemukan solusinya secara mandiri.

Dalam tahap tertentu, penanganan juga bisa dilakukan dengan obat-obatan untuk lebih menenangkan dan mengurangi perilaku impulsif.

Berdasar data Badan Pusat Statistik Nasional (BPSN), prevalensi anak dengan ADHD pada 2007 mencapai 8,3 juta anak. Di wilayah Jakarta, Yayasan Pusat Kemandirian Anak pada 2018 melaporkan 26,2 persen dari anak berusia 6-13 tahun mengalami gangguan ADHD.

Mayoritas terjadi terhadap laki-laki karena mereka lebih menunjukkan perilaku menantang dan agresif dibanding perempuan.

“Sejatinya ADHD tidak bisa disembuhkan, penanganan hanya untuk meminimalisasi tindakan buruk dengan mengoptimalkan kelebihan yang ada dalam diri anak. Buat sebagian orang, anak dengan ADHD memang terkesan berlebihan. Sehingga, memang perlu penanganan khusus yang dilakukan orangtua bersama dokter anak atau psikolog anak,” imbuh Novita.

(Naskah ini sudah melalui proses editing ulang dan penggantian judul)