Resensi Buku <i>Rambles in Java</i>-Catatan Perjalanan Orang Inggris Keliling Jawa
Rambles in Java (Detha Arya Tifada/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Pariwisata adalah salah satu wajah Indonesia yang paling dikenal luas. Pondasi industri pariwisata telah terbangun lama lewat ragam catatan perjalanan yang ditulis oleh banyak pelancong sejak 1860-1942.

Sebagian pelancong itu adalah naturalis, wartawan, arkeolog, hingga para pejabat kompeni. Catatan-catatan itu dikisahkan secara personal. Begitu dekat hingga mendorong banyak orang turut melancong. Bagai Marco Polo yang menginspirasi Colombus keliling dunia lewat catatan perjalanan ke timur.

Ada pandangan menarik darinya tentang penulisan catatan perjalanan yang subjektif. Novelis China, Gao Xingjiang mengungkap: Kau gabungkan catatan perjalanan, celoteh moralistis, perasaan, catatan, coretan, diskusi tanpa teori, dongeng yang tak mirip dongeng, kau salin beberapa lagu rakyat, kau tambahkan omong kosong yang seakan-akan legenda, padahal itu karanganmu sendiri, dan kau sebut semua itu sebuah fiksi?

Artinya, dalam penulisan catatan perjalanan, subjektivitas justru adalah bumbu utama. Itulah kenapa penulis berkebangsaan Inggris, Charles Walter Kinloch menjadikan subjektivitas sebagai senjata menyusun catatan perjalanannya dalam buku Rambles In Java (1853).

Konon Kinloch adalah pelancong pertama yang menulis buku tentang petualangannya di Jawa. Pengalaman mengekplorasi bumi Nusantara dalam dua bulan --Juni hingga Juli 1852-- itu mampu menginspirasi pelancong, petualang, dan pedagang Eropa lain untuk berkunjung ke Negeri Khatulistiwa hingga kini.

Daerah yang dilalui oleh Kinloch kala itu meliputi Batavia (Jakarta), Bogor, Bandung, Sumedang, Cirebon, Tegal, Banyumas, Purworejo, Magelang, hingga Semarang. Semuanya diceritakan Kinloch dengan begitu jujur.

Namun, di antara kunjungan singkat, terdapat beberapa pengalaman menarik. Misalnya ketika Kinloch dijamu langsung oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda atau ketika ia tersesat di Bogor, hingga menikmati candi-candi di Nusantara. Segalanya terasa pribadi, namun begitu menyenangkan untuk disimak, termasuk bagaimana Kinloch mengungkap pandangan dalam memahami karakteristik orang Jawa.

Jumpa Gubernur Jenderal

Pada zaman itu, tak sembarang orang bisa berkunjung ke Hindia-Belanda (Indonesia). Hal tersebut dikarenakan biaya yang dikeluarkan tak sedikit dan transportasi masih terbatas. Jadi, mereka yang datang hampir pasti golongan kaya raya atau sangat kaya raya.

Maka, siapapun orang luar negeri yang ingin melancong akan menjadi tamu langsung sang Gubernur Jenderal Hindia-Belanda. Alasannya, tak lain mereka yang datang sudah pasti akan mengurus izin kepada penguasa tertinggi di tanah Jawa. Kincloch pun begitu.

Namun, sesuatu yang tak disangka-sangka, Kincloch justru mendapat undangan dari Gubernur Jenderal untuk menghadiri pesta di kediamannya, Istana Bogor. Di tempat itulah Kincloch menyaksikan megahnya sambutan ala kompeni. Baginya, itu adalah momen terbaik selama berkunjung ke Pulau Jawa.

“Pesta malam-malam ini dilakukan dengan gaya Belanda yang sebenarnya. Sangat banyak hidangan kecil dengan karakteristik biasa mereka: mentega masam dan gurih diikuti dengan manisan, gulali, gula prem. Anggur yang dihidangkan dalam berbagai jenis, sangat lezat. Namun, selera Inggris kami lebih memilih hidangan Inggris yang padat dan bergizi. Dan kami khawatir menilai dengan buruk pada makan malam paling baik yang kami temui di Jawa,” tertulis di halaman 46.

Tersesat di Bogor

Momentum menarik lain dalam buku adalah ketika rombongan Kinloch berwisata ke Hindia-Belanda tak didampingi seorang kuli atau jongos sebagai penunjuk arah.

Alhasil, mereka mengalami problema yang hampir dialami oleh setiap pelancong ketika berada di kawasan baru: tersesat. Saat pulang dari Istana Gubernur Jenderal di Bogor, rombongan Kinloch sempat tersesat saat ingin kembali ke hotel.

Mereka bertanya pada sejumlah warga lokal yang sayangnya tak mengerti bahasa yang digunakan Kinlcoh, hingga akhirnya Kinloch dan rombongan menemukan seorang pemandu yang membawa mereka kembali ke hotel. Pada momen itu Kinloch menyadari bahwa warga setempat tak mengenal Buitenzorg, melainkan Bogor.

Plesiran ke candi-candi

Semenjak Gubernur Jenderal Hindia Belanda Thomas Stamford Raffles menuliskan mahakarya The History of Java (1817), banyak di antara wisatawan asing yang menyatakan kekaguman akan kemegahan candi-candi yang ada di Jawa.

Kincloch termasuk di antaranya. Saat berada di Magelang, mengunjungi candi-candi jadi agenda yang utamanya.

“Sejarah maupun dongeng tidak memberi kami banyak informasi berkaitan dengan reruntuhan-reruntuhan unik ini. Semua yang kami tahu mengenai mereka adalah bahwa reruntuhan-reruntuhan tersebut dibangun oleh umat Buddha. Di antara reruntuhan tersebut, Candi Borobudur adalah yang jauh lebih luas,” halaman 94.

Memahami karakteristik orang Jawa

Perjalanan panjang Kinloch membuatnya memahami bagaimana karakteristik daerah Jawa, mulai dari sumber daya alam, atraksi wisata, sistem pajak yang aneh, hingga agama yang dianut oleh warga sekitar.  

“Orang Jawa menganut keyakinan yang diajarkan Muhammad. Namun, fakta bahwa mereka sebelumnya menganut ajaran Hindhu dan Buddha dibuktikan oleh fakta yang semestinya dianggap meyakinkan,” hadir di halaman 113.

Kiranya, itulah keseruan yang terekam dalam pengembaraan Kinloch di Jawa. Dirinya tak cuma bicara terkait kenyamanan, tetapi banyak pula perihal kesukaran, seperti cuaca yang panas, sakit, masakan Belanda yang memuakkan, buruknya akomodasi, dan hal-hal lainnya.

Meski begitu, tulisan Kinloch yang menarik dan tak membosankan mampu membawa pembaca berkeliling ke masa lalu. Setidaknya, untuk mengetahui sejarah ataupun tempat wisata yang populer pada zamannya.

 

Detail

Judul Buku: Rambles in Java: Pengembaraan Di Tanah Jawa

Penulis: Charles Walter Kinloch

Terbit Pertama Kali: 1853 (versi Indonesia: 2019)

Penerbit: Indoliterasi

Jumlah Halaman: 140