Resensi Buku <i>Pariwisata di Hindia-Belanda</i>-Ajakan Berlibur ke Masa Lalu
Buku Pariwisata di Hindia-Belanda (Detha Arya Tifada/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Geliat pariwisata Indonesia selalu digambarkan harum populernya sejak dulu. Bahkan, kelakar orang-orang zaman sekarang kebanyakan berucap,  Indonesia itu tak perlu lagi dipromosi, cukup dari keramahan warga serta popularitas ragam atraksi wisatanya, orang-orang akan merasakan momen jatuh cinta kepada Nusantara.

Di atas kertas, rasanya seperti itu. Namun, kala dilirik ke belakang, majunya pariwisata Indonesia tak dibangun dengan mudah. Ada aktor-aktor yang sejak zaman kolonial menjadi agen pembaharu. Mereka mampu mengundang wisatawan dari berbagai belahan dunia datang ke Nusantara. Entah untuk sekadar bersantai atau dengan tujuan mencicipi gairah atraksi wisata alam, budaya, pegunungan, lautan, mau pun sejarah.

Gambaran itu bisa didapat lewat karya dari Ahmad Sunjayadi yang berjudul Pariwisata di Hindia-Belanda (1891-1942). Dari bukunya ini, para pembaca akan mendapatkan pengetahuan terkait siapa saja yang berjasa mengenalkan Hindia (Indonesia) kepada dunia. Kisahnya lengkap, dari perjalanan, kebiasaan unik yang disukai para pelancong, hotel-hotel yang menjadi primadona di zamannya, serta segudang hal menarik lainnya.

Catatan mengundang kagum

Salah satu cara masyarakat mengetahui geliat wisata pada masa lalu dapat dilirik dari dokumen berupa sebuah catatan perjalanan seseorang saat berkunjung Hindia pada masa kolonial. Sekali pun ada bagian yang dilebih-lebihkan, namun adanya muatan informasi itulah yang membuat catatan perjalanan tersebut memiliki nilai tersendiri dalam mempromosikan Nusantara.

Para penulis kisah dalam buku ini didominasi oleh orang asing dari beragam latar belakang. Sementara, penulis dari Hindia sendiri malah bisa dihitung dengan jari. Hal itu terjadi karena tak semua orang dapat berpelesir ke Bumi Nusantara yang saat itu hanya bisa diakses oleh kalangan tertentu saja karena mahal.

Waktu itu, catatan perjalanan berasal dari tangan-tangan mereka yang berkerja sebagai naturalis, wartawan, arkeolog, maupun pejabat. Henry Forbes, misalnya, naturalis dari Skotlandia yang berkunjung pada 1878–1883.

Atau Claude-Joseph Desire Charnay, arkeolog utusan Kementerian Pendidikan Prancis yang berkunjung pada 1878–1879 dan Modest M. Bakunin, Diplomat dari Rusia yang bertugas pada 1894-1899. Lainnya adalah Raja Chulalongkron dari Siam, yang berkunjung pada 1971, 1896, 1901.

Magnet bagi wisatawan

“Setelah menyantap sajian riz tafel, semua orang kemudian tidur (siesta) --sebagaimana lumrahnya terjadi pada orang kekenyangan-- sampai pukul empat sore, ketika mandi dan minum teh menyegarkan jiwa tropis.”

Begitu tertulis dalam halaman 71. Kata tersebut dikutip dari catatan perjalanan Eliza Seidmore saat berkunjung ke Hindia. Bagi mereka yang berwisata ke Hindia, kebiasaan yang tertulis di atas, mulai dari rijsttafel, siesta, dan mandi, seringkali menjadi sesuatu yang mengundang takjub.

Bagaimana tidak, kebiasaan rijsttafel yang biasa disebut makan besar, terasa begitu spesial di mata para pelancong Eropa. Apalagi makanan yang disajikan terhitung banyak, mulai dari berbagai macam lauk, seperti ayam, perkedel, udang, dendeng, kepiting, telur asing, sayur mayur, kerupuk, dan tak lupa sambal.

Kebiasaan itu jadi menarik karena kebiasaan tak akan ditemukan pada orang Eropa yang umumnya terbiasa ekonomis dalam urusan makanan. Tradisi yang diperkirakan muncul pada 1860-an ini tak saja mengundang kekaguman, bahkan, “hidangan berlimpah itu akan membuat terkejut orang Inggris yang kelaparan,” ditulis pada halaman 79.

Selain rijsttafel, ada juga kebiasaan siesta atau yang dikenal dengan tidur siang. Biasanya dilakukan tepat setelah makan besar. Kebiasaan di Hindia adalah tidur siang. Yang mana kebiasaan tidur siang begitu dinikmati oleh pelancong yang datang ke Hindia pada zaman dulu.

“Menikmati siesta dari pukul dua sampai pukul empat, atau setidaknya tetap berada di kamar, karena siapa pun, kecuali jika terpaksa, seharusnya tidak keluar berpanas-panasan di bawah matahari selama jam-jam terpanas selama siang hari,” hadir di halaman 73.

Terakhir yang menarik ialah kebiasaan mandi di Hindia yang bisa sampai dua kali sehari. Tak disangka, kebiasaan mandi tersebut pun dianggap menarik oleh bangsa Eropa yang terbiasa dengan iklim dingin, sehingga mandi bukan lah suatu kebiasaan. Tapi, saat di Indonesia dengan iklim tropis, mereka (orang-orang Eropa) jadi menggemari ritual mandi.

Salah satu yang menyukai kebiasaan ini adalah Justus Van Maurik, seorang pelancong Belanda. Olehnya, di ungkap, “Kamar mandi sering kali hanya dirancang untuk mengguyurkan air yang didinginkan dalam bak, ke kepala Anda dengan menggunakan gayung (gajong), cara yang sehat untuk mandi, dan dipraktikkan di seluruh Hindia.”

Menariknya lagi, seluruh kebiasaan ala hindia bisa dinikmati di hampir seluruh hotel populer di Batavia, sebagai gerbang masuknya pelancong waktu itu. Mulai dari Hotel Cavadino, Grand Hotel Java, Hotel der Nederlanden, Hotel des Indes, Hotel Museh, Hotel Orit, dan Hotel Ernst.

Informasi lainnya

Di dalam buku ini juga tertulis siapa saja perseorangan mau pun komunitas yang memiliki kontribusi dalam memperkenalkan pariwisata di Hindia Belanda. Tak hanya itu, dijelaskan pula ragam strategi pemasaran dan promosi wisata dari film dokumenter, acara-acara, poster-poster hingga buku panduan wisata yang terus diulas secara panjang lebar dalam 358 halaman buku ini.

Semuanya diungkap secara ringkas dengan dilengkapi oleh data-data yang relevan. Bagi mereka yang penasaran tentang pariwisata di Hindia Belanda dalam kurun waktu 1891 -1942, sudah mesti buku ini harus hadir di antara buku-buku yang dikoleksi.

Entah untuk sekadar mencari tahu, mempelajari, mau pun bernostalgia akan keindahan dan keunikan yang hadir di Bumi Nusantara pada masa lalu. Jadi, siapkan waktu Anda untuk berplesiran ke masa lalu bersama buku Pariwisata di Hindia-Belanda.

 

Detail:

Judul Buku: Pariwisata di Hindia- Belanda (1891 – 1942)

Penulis: Achmad Sunjayadi

Terbit Pertama Kali: 2019

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Jumlah Halaman: 358