Resensi Buku <i>Ngopi (di) Jakarta</i> – Melihat Ibu Kota dari Kacamata Kaum Urban
Foto: Detha Arya Tifada/VOI

Bagikan:

JAKARTA - Sedari dulu, Jakarta terkenal sebagai tempat perputaran uang yang begitu besar. Kota yang pernah bersalin nama menjadi Batavia, tak ubahnya sebagai magnet yang mampu menarik orang-orang untuk datang. 

Saking tingginya daya tarik, orang-orang dari pelosok negeri pun terhipnotis datang dan mencoba peruntungan hidup di Ibu Kota.

Namun, keberuntungan nasib hidup di kota metropolitan tidak ada yang bisa memastikan. Beberapa ada yang kerasan, ada juga yang mulai menikmati ritme, dan ada pula yang terpaksa bertahan di belantara kota yang pernah berjuluk, Ratu dari Timur.

Bagi yang berhasil melewati tantangan ala Jakarta dan menjelma menjadi orang sukses, maka berbahagialah. Namun, bagi mereka yang yang masa mudanya hanya berisikan keluhan dengan gaji yang tak menentu, sudah paripurna menganggap kehidupan di Jakarta tampak suram sekaligus berwarna.

Bahkan, kondisi tersebut membuat Sastrawan Indonesia, Seno Gumira Ajidarma angkat bicara. Ia berkata: “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

Tak cuma Seno, kegelisahan itu juga diteropong oleh Komunitas Ngojak dalam buku Ngopi (di) Jakarta: Jalanan, Manusia, Ruang, Waktu (2017). Bagi mereka, keseharian hidup sebagai warga Jakarta sering kali hanya habis dengan aktivitas bekerja, di jalanan, dan sekali waktu memanfaatkan jatah cuti yang tak seberapa untuk berlibur ke luar daerah.

Oleh sebab itu, Jakarta bagi komunitas yang sering kali menelusuri jejak-jejak tempat bersejarah, menganggap Jakarta sebagai kota yang kejam, namun menyenangkan. Karena itu, dalam buku itu Ngojak membagi perihal hidup di Jakarta ke dalam 4 fragmen, yakni Jalanan, Manusia, Ruang, dan Waktu.

Jalanan

Jakarta yang sehari-hari macet menjadi gambaran yang diteropong oleh empunya buku. Dalam fragmen Jalanan, gambaran warga Jakarta yang sering kali menghabiskan banyak waktu di Jalanan kalau dibanding daerah lainnya. Konon, istilah tua di jalan pun berasal dari Kota Jakarta.

Misal dalam tulisan perbuka berjudul Wangi Hujan. Lewat tulisan itu diungkapkan terkait keseharian warga Jakarta yang memanfaatkan transportasi umum, seperti Mikrolet. Moda trasportasi itu biasanya dimanfaatkan untuk pulang-pergi dari dan ke kantor. Uniknya, saat menjadi penumpang mikrolet cerita-cerita keseharian warga Jakarta hidup menjadi dapat dinikmati.

“Percakapan memenuhi ruang kecil angkutan umum itu. seseorang ibu memulai: ujan mulu ye mpok, cucian kemarian aje belum pada kering!. Bak gayung bersambut sang ibu kemudian mendapatkan balasan: iye, padahal mah udah dikasih Molto, tau tuh, masih wangi apa kagak, soalnye cema kena angin doang, ga ada mataharinya,” tulis halaman 3.

Ada pula tulisan berjudul Dunia 1 Ubin, dikisahkan pula keseharian warga yang untuk sampai ke kantor di Cibitung, dirinya harus naik lima jenis kendaraan yang berbeda setiap hari.

“… adalah naik motor sampai Stasiun Universitas Indonesia, lanjut naik kereta sampai Stasiun Tanjung Barat, lanjut lagi naik angkot nomor 19 ke Pasar Rebo, kemdian naik bus sampai rest area km 19, dan terakhir naik minibus antar jemput karyawan sampai kantor,” halaman 10.

Manusia

Pada fragmen ini, dikisahkan orang-orang yang sehari-hari hidup di Jakarta. Mulai dari tukang cukur, warga kampung yang masih melanggengkan semangat gotong royong, serta kaum urban yang sangat merindukan liburan akhir pekan.

Cerita diawali dari seorang tukang cukup di gang kecil yang selalu ramah menyambut pelanggannya. Dari tukang cukurlah kadang khalayak dapat belajar bahwa hidup harus dilakonkan dengan semangat.

Hal yang sama juga diceritakan dalam tulisan berjudul Menegakkan (Ke)Manusia(an). Tulisan itu bercerita tentang seorang warga kampung yang menjadi antitesis dari kehidupan Jakarta yang terkenal individualis. Walau mereka warga kampung, nuansa kebersamaan dan gotong royong masih terjadi.

Melengkapi hal itu, cerita terkait kehidupan warga urban pekerja kantoran menjadi pamungkas. Pembaca sekalian dapat menjadi paham terkait mengganggunya panggilan bekerja pada akhir pekan. Yang mana hal itu seharusnya menjadi jatah libur sebelum kembali lagi beraktivitas dengan padat kembali.

Ruang

Kala membaca fragmen Ruang, pembaca dapat mengetahui perihal hidup di Jakarta yang membutuhkan keberanian dan mengamalkan kalimat: tidak peduli. Entah itu untuk tak peduli kepada urusan orang lain, tak peduli kepada omongan orang lain, dan tak peduli perihal kemewahan yang dimiliki orang lain.

Lantas, satu-satunya hal yang boleh dipedulikan hanyalah perkara diri sendiri. Boleh jadi orang lain mengenal ketidak pedulian itu sebagai rendahnya empati. Namun, khususnya di Jakarta, ketidakpedulian justru menjadi sebuah siasat untuk menjalani kehidupan yang berkualitas.

Pertama, mungkin semacam penyataan bahwa saya kurang gaul sampai-sampai sinis dalam hati kalau tidak mengakrabi media televisi di era sekarang itu adalah kesalahan fatal. Kedua, adalah jawaban bahwa saya tidak peduli. Saya belum mengenalnya, dan tak tahu kebaikkan apa yang pernah ia lakukan. Ini sarkastik,” halaman 31.

Waktu

Perihal waktu erat kaitannya dengan banyak perubahan yang ada dalam lingkup perkembangan Kota Jakarta. Ojek misalnya. Dahulu ojek menjadi moda transportasi yang paling menjengkelkan. Hal itu mengingat setiap membutuhkan jasa mereka, fase tawar menawar sering kali mengundang amarah.

Ketika tawar menawar tak menemukan kata sepakat. Kata-kata pamungkas keluar yang keluar dari abang ojek tak lain: bandingin aja sama harga taksi? Mendingan naik taksi.”

Tak pelak hal itu membuat hati panas sampai ubun-ubun. Untungnya, zaman telah berubah. Warga Jakarta pun bersorak ria ketika ojek online mulai menginvasi ibu kota. Tawaran kemudahan, harga yang masuk akal, serta ketepatan daerah penjemputan menjadi kelebihan. Itulah mengapa ojek online kemudian menjadi primadona baru yang hadir di Jakarta.

Kiranya, itulah fragmen-fragmen yang diangkat dalam buku ini. Secara keseluruhan membaca cerita demi cerita membuat mereka yang pernah hidup di Jakarta terbawa kembali oleh romansa khas ibu kota.

Apalagi, tema yang diangkat begitu relevan dengan cerita banyak orang. Sampai-sampai, tiap cerita yang ditulis seakan-akan obrolan seru yang biasanya dihadirkan saat kumpul di warung kopi. Baik kala membahas urusan rejeki, keresahan, hingga suka duka menjadi bagian dari Kota yang berusia 493 tahun.

Detail:

Judul Buku: Ngopi (di) Jakarta: Jalanan, Manusia, Ruang, Waktu
Penulis: Komunitas Ngojak
Terbit Pertama Kali: 2017
Penerbit: Epigraf
Jumlah Halaman: 68