Diserbu Kapal Asing Vietnam-China, Bakamla: Laut Natuna Utara Aman
Ilustrasi kapal perang Amerika Serikat dan Singapura di Laut China Selatan. (Wikimedia Commons/U.S. Navy photo)

Bagikan:

JAKARTA - Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla), Aan Kurnia membenarkan adanya ribuan kapal asing asal Vietnam dan China yang masuk Perairan Natuna Utara.

Informasi tersebut, pertama kali disampaikan Sekretaris Utama (Sestama) Bakamla, Laksamana Muda (Laksda) Suprianto Irawan.

Informasi ini kemudian ditindaklanjuti langsung Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) I, Laksda Arsyad Abdullah, dengan meninjau langsung kondisi terkini di Natuna Utara.

Namun, pada peninjauan tersebut, TNI AL tidak menemukan ribuan kapal asing berlayar di Natuna Utara saat patroli di batas landas kontinen.

"Apa yang dikatakan angkatan laut benar," ujar Aan di Gedung DPR, Senin, 20 September. 
 
Hanya saja, lanjut Aan, ribuan kapal asing dari China dan Vietnam disebut memasuki Laut Natuna Utara yang lokasinya dekat Laut Cina Selatan.

Aan mengatakan, apa yang disampaikan Sestama Bakamla Suprianto merupakan akumulasi dari seluruh kawasan Laut Natuna Utara yang juga dikenal dengan Laut China Selatan (LCS).

"Akumulasi dari situasi di Laut Natuna Utara atau LCS. LCS kan luas sekali. Berbatasan dengan 5 negara. Itu banyak," ungkapnya. 

Oleh karena itu, Aan memastikan bahwa situasi Laut Natuna Utara dalam kondisi aman. Sehingga, kata dia, tidak perlu ada kekhawatiran bagi nelayan untuk menjalankan aktifitas di laut.

"Saat ini Bakamla jamin saudara-saudara kita khususnya nelayan aman. Kemudian ESDM yang melaksanakan ekplorasi aman dan kalau ada yang melanggar akan kita tindak," kata Aan.

Sebelumnya, Ketua Nelayan Lubuk Lumbang Kelurahan Bandarsyah Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Herman mengungkapkan para nelayan merasa ketakutan dan terancam setelah melihat kapal perang asing, Senin, 13 September, di Laut Natuna Utara.

Ia menerima laporan dari anggotanya yang kembali dari melaut pada Kamis, 16 September, setelah melihat lima unit kapal perang asing di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).

"Kami merasa terganggu dan takut, kenapa tiba-tiba ada kapal perang asing lagi?" tutur Herman Jumat, 17 September.