TANGERANG – Seorang pria asal Medan, sebut saja Rizal (bukan nama asli), mengaku mengalami pemalakan oleh sekelompok organisasi masyarakat (ormas) saat berjualan jasa penukaran uang di depan kawasan Plaza Ciledug, Kota Tangerang. Rizal mengungkapkan bahwa ia diminta membayar Rp600 ribu sebagai uang keamanan, ditambah iuran harian sebesar Rp30 ribu.
"Awalnya saya dipalak Rp600 ribu oleh ormas. Lalu, setiap hari saya juga harus setor Rp30 ribu. Jadi, uang yang pertama beda dengan yang harus dibayar harian," ujar Rizal saat ditemui di lokasi pada Selasa, 25 Maret 2025.
Menurutnya, bukan hanya satu kelompok ormas yang berusaha meminta uang darinya. Namun, ia menolak memberikan uang lebih karena sudah membayar kepada ormas yang pertama.
"Di sini ada batas wilayah masing-masing. Setiap area ada ormasnya sendiri. Seharusnya, parkir di depan itu tidak boleh, tapi karena ada ormas, jadi bisa-bisa saja," katanya.
Rizal mengeluhkan bahwa usahanya sebagai jasa penukaran uang hanya memberikan keuntungan sekitar 3 persen, sementara pungutan dari ormas membuatnya sulit meraih keuntungan.
"Saya cuma jual duit, untungnya cuma 3 persen. Sudah kena Rp600 ribu di awal, lalu harus bayar Rp30 ribu per hari. Saya mau makan apa kalau harus bayar terus?" keluhnya.
BACA JUGA:
Akibat besarnya biaya yang harus dikeluarkan, Rizal mengaku kapok dan memutuskan untuk tidak lagi menjalankan usaha penukaran uang keliling.
"Saya kapok, ini yang terakhir. Saya habiskan saja sisa uang yang ada, setelah itu tidak akan berjualan lagi," ungkapnya.
Saat ditanya apakah ia akan melaporkan kejadian ini ke Polsek Ciledug, Rizal memilih untuk tidak mengambil risiko.
"Bingung juga, kalau melapor takut malah tambah masalah. Mending diam saja, yang penting aman," ujarnya.
Ia pun berencana kembali ke pekerjaan lamanya sebagai sopir angkutan umum di Kota Tangerang.
"Ya, paling balik lagi jadi sopir angkot," tutupnya.