Ada Lonjakan Infeksi Varian Delta, Akhir Pembatasan COVID-19 di Inggris Berpotensi Ditunda
Ilustrasi. (Wikimedia Commons/Fars News Agency/Mohsen Atayi)

Bagikan:

JAKARTA - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berencana untuk mengumumkan penundaan akhir pembatasan COVID-19, menyusul kekhawatiran terkait lonjakan kasus infeksi varian Delta. 

Di bawah peta jalan yang digariskan oleh PM Johnson pada Bulan Februari, pemerintah mengisyaratkan semua pembatasan sosial yang diberlakukan untuk mengendalikan penyebaran penyakit akan dicabut pada 21 Juni, ketika pub, klub, dan tempat perhotelan lainnya dapat dibuka kembali sepenuhnya.

Namun, dalam beberapa minggu terakhir telah terjadi pertumbuhan cepat lagi dalam jumlah kasus baru yang disebabkan oleh varian Delta. Varian yang pertama kali ditemukan di India ini diyakini pejabat kesehatan 60 persen lebih menular, sementara para ilmuwan memeringatkan kemungkinan gelombang ketiga COVID-19. 

PM Boris Johnson sendiri menolak disebut menyangkal saran menunda akhir pembatasan hingga satu bulan kedepan, dengan menyebut dalam beberapa hari terakhir ada kekhawatiran serius tentang meningkatnya infeksi dan rawat inap.

"Kami terus melihat data, tidak ada keputusan akhir yang diambil dan waktu yang tepat untuk memberi tahu semua orang tentang apa yang akan kami lakukan. 21 Juni adalah besok," kata Johnson di sela-sela pertemuan puncak negara-negara G7 pada Hari Minggu kemarin, seperti melansir Reuters Senin 14 Juni. 

"Saat itulah kami akan mengeluarkan seluruh paket informasi sehingga semua orang dapat melihatnya bersama-sama," sambung perdana menteri yang baru melangsungkan pernikahan ini. 

Pada Hari Minggu, Inggris mencatat 7.490 kasus COVID-19 baru dan delapan kematian, dengan jumlah infeksi baru hampir meningkat 50 persen antara 7 dan 13 Juni dibandingkan dengan minggu sebelumnya, Sementara, pasien rawat inap naik 15 persen antara 2 dan 8 Juni dibandingkan dengan tujuh hari sebelumnya.

Pemerintah Inggris menekankan, setiap pelonggaran pembatasan tidak dapat diubah, yang berarti akan selalu bertindak dengan hati-hati. Sementara, keragu-raguan muncul meskipun Inggris memiliki salah satu program vaksinasi COVID-19 tercepat di dunia, dengan lebih dari 41 juta orang telah mendapatkan suntikan pertama mereka. Hampir 30 juta menerima kedua dosis - sekitar 56 persen dari populasi orang dewasa.

Terpisah, Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengatakan, masalah kritis adalah data tentang hubungan antara penularan virus dan rawat inap.

"Kami tahu kami telah membuat kemajuan besar dan melemahkan hubungan antara penularan dan rawat inap dan tentu saja mereka yang sakit parah. Pertanyaannya adalah apakah kita telah memutuskan dan merusaknya?" ucapnya kepada BBC TV kemarin.