Bagikan:

JAKARTA - Malaysia sedang menjajaki kemungkinan penggunaan tenaga nuklir sebagai bagian dari strategi dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan.

Eksplorasi ini juga menyusul menipisnya sumber daya gas alam negara tersebut dan meningkatnya permintaan global akan energi bersih.

Menteri Sains, Teknologi, dan Inovasi Malaysia, Chang Lih Kang, mengatakan bahwa Pemerintah Malaysia saat ini masih mempertimbangkan peningkatan energi listrik dengan penggunaan program nuklir.

"Itu baru akan diputuskan setelah 2030, tergantung pada hasil studi," kata Chang pada Rabu, 3 Desember, dikutip dari Bernama.

Ia menekankan bahwa eksplorasi ini bukan berarti Malaysia membutuhkan tenaga nuklir.

"Saya tidak mengatakan kita membutuhkan tenaga nuklir, kita hanya menjajaki kemungkinan-kemungkinannya," ujarnya.

Chang menyebutkan faktor-faktor seperti menipisnya beban dasar sumber daya gas alam dan meningkatnya permintaan energi.

"Itulah sebabnya kami menjajaki kemungkinan-kemungkinannya dan permintaan akan energi bersih juga terus meningkat di seluruh dunia," ujarnya.

Ia mengatakan Malaysia memiliki keahlian dalam teknologi nuklir, termasuk mengoperasikan reaktor riset sejak 1982.

Menurutnya, Malaysia juga menjalani inspeksi berkala oleh inspektur dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

“Kita ada kepakaran yang mencukupi dan tentu kita akan selalu kemas kini seiring perkembangan antarbangsa,” tambahnya.

Terpisah, Ketua Pengarah Agensi Nuklear Malaysia (Nuklir Malaysia) Dr Muhammad Rawi Mohamed Zin bilang, tenaga nuklir telah menyumbang  ekonomi negara sebesar RM9.16 miliar dari 2015 hingga 2024.

Sumbangannya adalah melalui ekspor produk berasaskan teknologi nuklir tempatan.

Zin mengatakan penggunaan teknologi nuklir dalam sektor perubatan, pertanian, keselamatan pangan dan industri di Malaysia saat ini telah ditingkatkan.

“Pencapaian ini menempatkan asas kukuh bagi tempatan industri yang memanfaatkan teknologi tinggi demi pertumbuhan ekonomi dan keselamatan negara,” katanya.