JAKARTA – Negara-negara Asia Tenggara mulai kembali melirik energi nuklir saat kebutuhan listrik melonjak dan pasokan energi kawasan makin rentan di tengah perang Iran. Dorongan itu datang bersamaan dengan ekspansi pusat data berbasis kecerdasan buatan atau AI yang menyedot listrik dalam jumlah besar.
Seperti dilaporkan Kyodo News yang dikutip Selasa, 31 Maret, kawasan Asia Tenggara belum pernah menghasilkan listrik dari tenaga nuklir, meski ambisi itu sudah lama muncul. Kini, situasinya berubah. Tekanan untuk menekan emisi, memenuhi kebutuhan listrik yang terus naik, dan mengurangi ketergantungan pada minyak serta gas membuat opsi nuklir kembali masuk hitungan.
Menurut International Energy Agency (IEA), Asia Tenggara akan menyumbang seperempat pertumbuhan permintaan energi global hingga 2035. Salah satu pendorongnya adalah ledakan pusat data di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Lembaga Ember mencatat jumlah pusat data di enam negara itu sudah lebih dari 2.000 unit, dan masih banyak yang sedang direncanakan.
Seperti dilaporkan Kyodo News, lima negara ASEAN kini tercatat mengejar pengembangan nuklir, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Vietnam sedang membangun dua pembangkit listrik tenaga nuklir yang didukung Rusia. Indonesia memasukkan nuklir ke dalam rencana energi baru dan menargetkan dua reaktor modular kecil pada 2034. Thailand membidik tambahan kapasitas 600 megawatt pada 2037, sementara Filipina menargetkan 2032 setelah membentuk otoritas pengawas baru dan menyusun peta jalan bagi investor.
BACA JUGA:
Malaysia menjadi contoh yang paling menonjol. Negara itu ingin menjadi pusat komputasi AI di Asia Tenggara dan telah menarik minat perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Google, dan Nvidia. Di saat yang sama, Malaysia juga menghidupkan kembali program nuklirnya dan menargetkan energi atom mulai masuk sistem pada 2031.
Para analis menilai perang Iran memperjelas rapuhnya pasokan energi Asia. Lonjakan harga minyak mentah akibat konflik itu ikut mendorong negara-negara di kawasan mempercepat pencarian sumber energi alternatif. Dalam konteks itu, nuklir kembali dipandang sebagai salah satu pilihan.
Namun jalan ke sana tidak mudah. Kekhawatiran soal keselamatan, limbah, dan risiko kecelakaan tetap besar. Bencana Chernobyl pada 1986 dan Fukushima pada 2011 masih menjadi pengingat bahwa energi nuklir bukan tanpa konsekuensi.
Karena itu, kebangkitan minat Asia Tenggara terhadap nuklir bukan hanya soal mengejar listrik murah atau menopang pusat data AI. Kawasan ini juga sedang berhadapan dengan pilihan besar yaitu mencari sumber energi baru di tengah tekanan global, sambil menimbang risiko yang selama ini belum pernah benar-benar mereka hadapi.