JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Wilayah Mediterania Timur menggambarkan hancurnya layanan kesehatan dan kehidupan manusia di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, sebagai tragedi mengerikan.
Direktur WHO untuk Wilayah Mediterania Timur Dr. Hanan Balkhy mengatakan sejak Oktober 2023, lebih dari 72.000 orang meninggal dunia dan 182.000 lainnya terluka.
"Pada 2025 saja, hampir 26.000 kematian baru telah dilaporkan," kata Balkhy dilansir ANTARA dari WAFA, Jumat, 22 Mei.
Dia mengungkapkan setelah gencatan senjata pada Oktober 2025, pembunuhan terhadap warga sipil terus berlanjut, layanan kesehatan masih terganggu, dan akses kemanusiaan juga masih terbatas.
Saat ini, lanjutnya, tidak ada rumah sakit yang berfungsi secara penuh di Gazadan tidak ada satu pun rumah sakit yang beroperasi di Gaza utara.
Selain itu, lebih dari setengah stok obat-obatan penting habis, sementara ribuan pasien masih perluevakuasi medis mendesak.
Penyakit menular terus menyebar di tengah kepadatan penduduk dan kondisi kesehatan yang memburuk. Kebutuhan akan fasilitas kesehatan mental juga sangat besar, sementara risiko bagi ibu dan bayi baru lahir meningkat tajam.
Terkait wilayahTepi Barat, WHO mengonfirmasisituasiterus memburuk akibat meningkatnya kekerasan dan pembatasan akses.
Krisis finansial yang dihadapi otoritas Palestina juga sangat membatasi layanan kesehatan, di mana rumah sakit umum hanya menyediakan layanan darurat.
WHO bersama para mitra terus bekerja dalam kondisisangat sulit. WHO juga telah mengajukan anggaran senilai 648 juta dolar AS (sekitar Rp11,4 triliun) untuk mendanai kesehatan di 2025, tetapi sejauh ini baru menerima 75 persen dari jumlah tersebut.
Terlepas dari tantangan yang dihadapi itu, WHO telah memberikan dukungan dengan mengirimkan lebih dari 4.000 metrik ton pasokan medis darurat ke Gazasertamemfasilitasi pengiriman bahan bakaragar sistem kesehatan di sana tetap berfungsi.
BACA JUGA:
Selain itu, WHO terus juga memperluas perawatan dan pengobatan darurat bagi para korban luka.
Balkhymenegaskanpernyataan politik saja tidak cukup untuk mempertahankan operasi kemanusiaan.
Dia mendesak adanya upaya perlindungan bagi layanan kesehatan, penyaluran bantuan kemanusiaan berkelanjutan, sertapencabutan pembatasan yang menghambat pasokan medis penting dan tim medis darurat.
Balkhy juga meminta dukungan internasional untuk memulihkan dan memperluas layanan kesehatan, mengurangi ketergantungan pada evakuasi medis, dan membuka kembali jalur rujukan dari Tepi Barat.