Bagikan:

JAKARTA - Ketua bank sentral AS Jerome Powell menilai lonjakan harga energi akibat perang di Timur Tengah belum perlu langsung dibalas dengan perubahan kebijakan moneter. Namun, menurut laporan Malay Mail yang mengutip AFP, Bank Sentral AS atau The Fed bisa bergerak jika kenaikan biaya mulai mengubah ekspektasi inflasi publik.

Pernyataan itu disampaikan Powell dalam acara di Universitas Harvard, ketika perang yang pecah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari terus menekan pasar energi global. Dampaknya sudah terasa sampai ke Amerika Serikat. Akses ke Selat Hormuz terganggu, harga minyak melonjak, dan harga bensin ikut naik.

Bos The Fed itu mengatakan bank sentral AS biasanya tidak buru-buru merespons guncangan pasokan seperti ini. Menurut Powell, gejolak energi kerap datang cepat dan bisa mereda cepat, sedangkan dampak perubahan suku bunga baru terasa setelah beberapa waktu.

Untuk saat ini, kata Powell, kebijakan The Fed masih berada di posisi yang cukup baik untuk menunggu dan melihat perkembangan. Ia juga menyebut ekspektasi inflasi jangka panjang sejauh ini masih terjaga.

Meski begitu, Powell tidak menutup risiko yang lebih besar. Ia mengakui guncangan pasokan bisa berubah menjadi masalah yang lebih serius jika masyarakat mulai percaya harga akan bertahan tinggi dalam waktu lama. Jika itu terjadi, tekanan inflasi tidak lagi berhenti di pompa bensin atau tagihan energi, tetapi bisa merembet lebih luas ke perekonomian.

Menurut Powell, The Fed saat ini menghadapi tekanan dari dua arah. Inflasi berisiko naik, sementara pasar tenaga kerja juga bisa melemah. Situasi ini membuat ruang gerak bank sentral AS tidak sederhana.

Masih menurut Malay Mail yang dikutip Selasa, 31 Maret, Bos The Fed juga menyinggung risiko krisis keuangan baru. Ia mengatakan sistem keuangan Amerika Serikat sekarang jauh lebih kuat dibanding saat krisis global 2008. Meski begitu, daya tahan sistem tetap harus dijaga, termasuk dengan memantau sektor seperti kredit swasta.

Menjelang akhir masa jabatannya pada Mei, Powell juga menegaskan bank sentral AS harus tetap independen dari politik. Menurutnya, pimpinan The Fed seharusnya sosok yang bisa diterima oleh pihak mana pun.

Jerome Powell mengatakan The Fed untuk saat ini masih memilih menunggu sambil melihat perkembangan. Namun ia mengingatkan, bank sentral AS bisa bertindak jika kenaikan biaya mulai mengubah ekspektasi inflasi publik.