Bagikan:

JAKARTA - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyebut tuduhan Rusia melakukan "serangan" GPS terhadap pesawat yang membawa Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen saat kunjungannya ke Bulgaria sebagai omong kosong.

"Baru-baru ini, kami dituduh hampir membunuh Ursula von der Leyen, yang sedang terbang ke berbagai negara dengan pesawat atau helikopter, mengadu domba mereka dengan negara kami. Dan tiba-tiba mereka mengatakan bahwa Rusia telah 'mematikan' GPS dan pesawat atau helikopter itu bisa saja jatuh. Setelah itu, omong-omong, perwakilan Uni Eropa (UE) sendiri membantah omong kosong ini," ujarnya dalam konferensi pers, melansir TASS 9 September.

Menlu Lavrov mengutip beberapa contoh lain bagaimana Barat menyebarkan disinformasi tentang Rusia, mencatat dalam kasus pesawat Presiden Komisi Eropa "metodenya tetap sama."

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan tuduhan pendaratan pesawat von der Leyen dengan bantuan peta kertas akibat dugaan "serangan hibrida" Kremlin "menunjukkan keputusasaan."

Diberitakan sebelumnya, sistem GPS pesawat Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengalami gangguan saat dalam perjalanan ke Bulgaria pada Minggu.

Pesawat tersebut mendarat dengan selamat, kata juru bicara Uni Eropa pada Senin, 1 September.

"Kami memang dapat mengonfirmasi adanya gangguan GPS, tetapi pesawat tersebut mendarat dengan selamat di Bulgaria. Kami telah menerima informasi dari otoritas Bulgaria mereka menduga hal ini disebabkan oleh campur tangan terang-terangan Rusia," kata juru bicara tersebut dilansir Reuters.

Uni Eropa tidak memberikan rincian lebih lanjut. Tetapi juru bicara tersebut mengatakan insiden itu akan memperkuat komitmen blok tersebut untuk meningkatkan kemampuan pertahanan dan dukungan bagi Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia yang telah berlangsung selama tiga setengah tahun.

Dalam pernyataannya, Pemerintah Bulgaria mengatakan sinyal GPS hilang saat pesawat von der Leyen mendekati Kota Plovdiv di selatan, yang mendorong pengontrol lalu lintas udara untuk beralih ke sistem navigasi darat guna memastikan pendaratan yang aman.

Insiden dengan pesawat von der Leyen terjadi saat ia sedang dalam tur empat hari ke negara-negara anggota Uni Eropa yang berbatasan atau berlokasi dekat dengan Rusia.