JAKARTA - Iran menuduh Amerika Serikat membunuh lima warga sipil di Selat Hormuz, dengan mengatakan pasukannya menyerang kapal penumpang di jalur air tersebut, bukan kapal milik Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) seperti yang diklaim.
Klaim pada Hari Selasa tersebut bertentangan dengan pernyataan Laksamana AS Brad Cooper, yang mengatakan pasukan Komando Pusat AS (US CENTCOM) telah menenggelamkan enam kapal IRGC yang mencoba mengganggu misi AS untuk mengawal kapal-kapal yang terdampar keluar dari Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump kemudian menyebutkan jumlah kapal yang ditenggalamkan sebanyak tujuh unit.
Stasiun penyiaran negara Iran, IRIB, mengutip seorang komandan militer Iran yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan, Tehran meluncurkan penyelidikan menyusul klaim AS tentang serangan terhadap kapal-kapal IRGC.
Pernyataan itu menyebutkan, meskipun tidak ada kapal IRGC yang terkena serangan, penyelidikan menemukan bahwa pasukan AS telah "menyerang dua perahu kecil yang membawa orang-orang dalam perjalanan mereka dari Khasab di pantai Oman ke pantai Iran pada Hari Senin," seperti dilansir dari Al Jazeera (5/5).
Serangan tersebut menghancurkan perahu-perahu itu dan menewaskan lima penumpang sipil, kata komandan tersebut. AS "harus bertanggung jawab atas kejahatan mereka," tambahnya.
Tidak ada komentar langsung dari militer AS mengenai tuduhan Iran.
Kekerasan ini terjadi ketika Presiden Trump berupaya membuka kembali Selat Hormuz, yang telah diblokade Iran setelah serangan AS dan Israel terhadap negara itu pada 28 Februari.
Penutupan koridor maritim vital – yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia – telah menyebabkan harga minyak dan pupuk melonjak di seluruh dunia dan memicu kekhawatiran akan resesi global dan krisis pangan.
Iran kini bersikeras untuk mempertahankan kendali atas Selat Hormuz dan memungut biaya transit sebagai ganti rugi atas kerusakan yang disebabkan oleh AS dan Israel.
Ketua Parlemen dan negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan dalam unggahan di X, pelanggaran gencatan senjata oleh AS membahayakan transit melalui jalur air tersebut.
BACA JUGA:
"Situasi baru di Selat Hormuz sedang dalam proses penguatan. Keamanan pelayaran dan transit energi telah terancam oleh Amerika Serikat dan sekutunya melalui pelanggaran gencatan senjata dan pemberlakuan blokade; tentu saja, kejahatan mereka akan berkurang," jelasnya.
"Kita tahu betul bahwa kelanjutan status quo tidak dapat ditoleransi oleh Amerika; sementara kita bahkan belum memulai," tandasnya.
Militer Iran pada Hari Senin memperingatkan kapal-kapal komersial, mereka akan "membahayakan keselamatan mereka" jika mencoba menyeberangi jalur air tanpa izin. Militer juga memperingatkan pasukan AS akan menghadapi serangan jika mereka mendekati atau memasuki titik rawan tersebut.