Bagikan:

JAKARTA - Prancis menyerahkan kendali atas fasilitas militer besar terakhirnya di Senegal pada Kamis. Keputusan ini menandai berakhirnya kehadiran panjang angkatan bersenjatanya di negara Afrika Barat tersebut dan tonggak sejarah dalam penarikan pasukan dari kawasan yang lebih luas.

Komandan pasukan Prancis di Afrika, Jenderal Pascal Ianni, menyerahkan kunci kamp militer di Dakar dalam upacara yang diiringi pengibaran bendera Senegal sementara para musisi militer memainkan lagu kebangsaan.

"Pemindahan Kamp Geille hari ini menandai babak baru dalam evolusi kemitraan antara kedua angkatan bersenjata kita," ujar Ianni kepada para wartawan dilansir Reuters, Kamis, 17 Juli.

"Ini merupakan respons terhadap keinginan otoritas Senegal untuk tidak lagi menempatkan pasukan asing secara permanen di wilayah mereka,” sambungnya.

Presiden Senegal Bassirou Diomaye Faye mengumumkan tahun lalu pangkalan militer Prancis tidak sesuai dengan kedaulatan Senegal dan harus dipindahkan.

Kedua negara sepakat untuk menyelesaikan proses tersebut pada akhir tahun dan dimulai pada Maret ketika Prancis menyerahkan dua fasilitas lainnya, juga di Dakar.

Proses ini lebih bersahabat dibandingkan dengan kepergian tentara Prancis dari Mali, Burkina Faso, dan Niger, di mana junta militer telah mengusir pasukan Prancis dan meminta bantuan Rusia dalam memerangi pemberontakan jihadis.

Chad, sekutu penting Barat dalam perang melawan militan Islam di kawasan itu, tiba-tiba mengakhiri pakta kerja sama pertahanannya dengan Prancis tahun lalu, yang memaksa pasukannya untuk mundur.

Dengan berkurangnya kehadiran di Afrika Barat dan Tengah, Prancis menyatakan berencana untuk berfokus pada pelatihan, pembagian intelijen, dan menanggapi permintaan bantuan dari berbagai negara.

PELATIHAN AKAN DILANJUTKAN

Ianni mengatakan kehadiran pasukan Prancis di Senegal telah berlangsung lebih dari dua abad, tetapi perubahan diperlukan untuk menghidupkan kembali kemitraan tersebut.

Jenderal Mbaye Cisse, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Senegal, mengatakan perjanjian baru ini akan memungkinkan Senegal untuk terus mendapatkan manfaat dari pelatihan dan pertukaran informasi.

"Kami mendoakan agar semua rekan kami dan keluarga mereka dapat kembali ke Prancis dengan selamat," ujarnya.

Mantan penguasa kolonial Prancis telah menghadapi kritik karena menempatkan tentara di Senegal lama setelah negara itu merdeka pada tahun 1960.

Senegal telah lama menuntut agar Paris menyelidiki dengan benar pembantaian tentara Afrika yang bertempur untuk Prancis dalam Perang Dunia Kedua pada tahun 1944.