JAKARTA - Persaingan kecerdasan buatan atau AI antara China dan Amerika Serikat makin ketat. Namun, para ekonom mengingatkan dua negara besar itu tetap perlu bekerja sama, terutama dalam aturan keselamatan dan tata kelola AI, yakni cara mengatur, mengawasi, dan memastikan AI digunakan secara aman.
Menurut laporan China Daily dikutip Sabtu, 30 Mei, AS masih unggul dalam riset AI mutakhir, model AI besar, dan daya komputasi besar. Namun, China dinilai cepat mengejar, terutama dalam penerapan AI di manufaktur, layanan konsumen, dan ekonomi riil. Ekonomi riil berarti sektor nyata seperti pabrik, perdagangan, jasa, dan kegiatan produksi sehari-hari.
“Ada dua pemain utama dalam pengembangan AI mutakhir, yaitu China dan AS,” kata ekonom peraih Nobel Michael Spence kepada China Daily. “Hampir tidak ada lagi perbedaan terukur dalam kinerja keduanya. China sudah mengejar.”
Data Institute for Human-Centered AI Universitas Stanford menunjukkan model AI China dan AS sejak awal 2025 beberapa kali bergantian memimpin peringkat kinerja global.
Dalam AI Index Report 2026, model terbaik AS hingga Maret hanya unggul tipis, sekitar 2,7 persen.
BACA JUGA:
Mantan Wakil Direktur Pelaksana IMF, Zhu Min, mengatakan arah pengembangan AI kedua negara berbeda.
Menurut Zhu, AS mengejar kecerdasan superbuatan, yaitu AI yang kemampuannya melampaui kecerdasan manusia, lewat model AI besar dan daya komputasi besar. China lebih fokus pada manfaat AI untuk ekonomi nyata dan kehidupan sehari-hari.
“China memberi bobot lebih besar pada manfaat praktis AI bagi ekonomi riil,” kata Zhu.
Spence menilai China punya keunggulan dalam penerapan AI secara sistematis di banyak sektor. Ia menyebut pendekatan itu terlihat dalam Rencana Lima Tahun China 2026–2030.
“Barat banyak bicara soal penyebaran AI, tetapi belum benar-benar melakukannya,” ujar Spence.
Di balik perlombaan itu, risiko AI juga meningkat. Bukan hanya ekonomi, tetapi juga sosial, lingkungan, hingga potensi penggunaan militer.
Karena itu, Zhu menilai China dan AS perlu membangun “pagar pengaman” AI bersama. Istilah itu merujuk pada aturan dan sistem pengawasan agar AI tidak berkembang tanpa kendali.
Menurut Zhu, AS cenderung memilih pengawasan eksternal melalui aturan dan kepatuhan. China lebih menekankan perlindungan dari dalam sistem sejak awal pengembangan AI.
“Dua pendekatan itu sama-sama sah dan bisa membentuk masa depan tata kelola AI,” katanya.
China Daily melaporkan, China dan AS sudah sepakat memulai dialog antarpemerintah soal AI. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan kedua negara perlu bekerja sama untuk mendorong pengembangan AI sekaligus memperbaiki tata kelolanya.