Bagikan:

JAKARTA - Juru bicara Hamas Abdel-Latif Al-Qanoua tewas dalam serangan udara Israel di Gaza utara, kata media yang berafiliasi dengan Hamas pada Kamis pagi.

Ini menambah daftar tokoh kelompok militan Palestina itu yang tewas sejak Israel melanjutkan serangan udara dan operasi di wilayah kantong itu pekan lalu.

Al-Qanoua tewas ketika tendanya menjadi sasaran di Jabalia, kata televisi Al-Aqsa yang dikelola Hamas, dikutip dari Reuters 27 Maret.

Serangan yang sama melukai beberapa orang, sementara serangan terpisah menewaskan sedikitnya enam orang di Kota Gaza dan satu orang di Khan Younis di Gaza selatan, kata sumber medis.

Awal pekan ini, serangan Israel juga menewaskan tokoh Hamas lainnya, yakni Ismail Barhoum, anggota kantor politik Hamas, dan Salah al-Bardaweel, pemimpin senior lainnya.

Baik Bardaweel maupun Barhoum adalah anggota badan pembuat keputusan Hamas yang beranggotakan 20 orang, kantor politik. 11 di antara anggota badan ini telah tewas sejak dimulainya perang pada akhir 2023, menurut sumber Hamas.

Minggu lalu, Israel mengakhiri gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua bulan dengan melanjutkan pengeboman dan operasi darat, sehingga meningkatkan tekanan pada Hamas untuk membebaskan para sandera yang masih ditawannya.

Setidaknya 830 orang, lebih dari setengahnya adalah anak-anak dan wanita, telah tewas sejak Israel melanjutkan serangan militer besar-besaran di Gaza pada 18 Maret, menurut kementerian kesehatan Gaza.

Israel dan Hamas saling menuduh melanggar gencatan senjata. Gencatan senjata telah berlaku sejak Januari dan menawarkan jeda dari perang bagi 2,3 juta penduduk Gaza, yang telah hancur menjadi puing-puing.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, dia memerintahkan serangan karena Hamas telah menolak proposal untuk mengamankan perpanjangan gencatan senjata.

Pada Hari Rabu, Ia mengulangi ancamannya untuk merebut wilayah di Gaza jika Hamas gagal membebaskan sisa sandera yang masih ditahannya.

Hamas, yang masih menahan 59 dari sekitar 250 sandera yang menurut Israel ditangkap kelompok itu dalam serangan 7 Oktober 2023, menuduh Israel membahayakan upaya para mediator untuk menegosiasikan kesepakatan permanen guna mengakhiri pertempuran.