Bagikan:

JAKARTA - Iran telah meningkatkan persediaan uraniumnya yang mendekati tingkat senjata lebih dari setengahnya dalam kurun waktu tiga bulan, ungkap badan Perserikatan Bangsa Bangsa pada Hari Senin.

Pertumbuhan persediaan uranium yang diperkaya 60 persen di Teheran menjadikannya "satu-satunya negara non-nuklir yang memperkaya uranium hingga tingkat ini", kata Rafael Grossi, kepala Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), dikutip dari The National 4 Maret.

Bahan bakar nuklir yang diperkaya hingga tingkat itu dianggap hanya selangkah lagi dari 90 persen yang dibutuhkan untuk senjata atom.

Grossi mengatakan kepada dewan gubernur IAEA, persediaan uranium telah meningkat dari 182 kg menjadi 275 kg pada kuartal sebelumnya.

Lebih lanjut ia menyatakan "kekhawatiran serius" atas aktivitas Iran karena menghalangi inspeksi dan menghindari tuntutan badan tersebut untuk menjelaskan serangkaian jejak nuklir yang tidak dideklarasikan.

Ia mengatakan "sangat menyesalkan" Teheran telah menarik diri dari kerja sama dengan empat inspektur IAEA yang berpengalaman, setelah mengindikasikan mereka mungkin bersedia melakukannya.

Tanpa informasi yang dicarinya, badan tersebut tidak dapat "memberikan jaminan program nuklir Iran semata-mata bersifat damai", kata Grossi.

Di sisi lain, Iran membantah memiliki niat untuk mengembangkan senjata nuklir.

"Jumlah uranium yang diperkaya sebesar 60 persen tumbuh sangat, sangat cepat," kata Grossi kepada wartawan di Wina setelah memberi pengarahan kepada dewan gubernur.

"Semua penguatan kapasitas mereka sedang berlangsung dan kami melihatnya di berbagai fasilitas," lanjutnya.

"Ada keraguan, ada kekhawatiran, jadi kami, sepanjang waktu, menawarkan Iran cara untuk meluruskan catatan jika mereka yakin ada keraguan yang tidak beralasan," katanya.

"Dalam konteks ketegangan internasional saat ini, kami benar-benar perlu menempatkan ini di jalur yang benar," tandas Grossi.

Iran kini telah mengabaikan ketentuan perjanjian nuklir 2015 dengan negara-negara besar dunia selama empat tahun, kata Grossi.

Diketahui, Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian tersebut selama masa jabatan pertama Donald Trump sebagai presiden, memulihkan sanksi yang telah dicabut sebagai imbalan atas pembatasan aktivitas nuklir Iran.

Setelah kembali ke Gedung Putih, Trump memulihkan kebijakan "tekanan maksimum" terhadap Iran, bersumpah AS "tidak akan menoleransi" negara itu mengembangkan senjata nuklir.

Grossi mengatakan IAEA siap memainkan peran dalam setiap proses diplomatik yang muncul. Ia mengatakan "terus-menerus berhubungan" dengan para diplomat Iran dan kunjungan lebih lanjut ke Teheran merupakan suatu kemungkinan.