JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkritik Pemimpin Ukraina Volodymyr Zelensky pada Hari Senin terkait komentarnya yang mengatakan, kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Rusia masih jauh.
"Ini adalah pernyataan terburuk yang bisa dibuat oleh Zelensky, dan Amerika tidak akan menoleransinya lebih lama lagi!" tulis Presiden Trump di platform Truth Social miliknya, dikutip dari Reuters 4 Maret.
"Inilah yang saya katakan, orang ini tidak ingin ada Perdamaian selama dia mendapat dukungan Amerika dan, Eropa, dalam pertemuan yang mereka adakan dengan Zelensky, menyatakan dengan tegas mereka tidak dapat melakukan pekerjaan itu tanpa AS. - Mungkin bukan pernyataan yang bagus untuk dibuat dalam hal unjuk kekuatan melawan Rusia," tambah Presiden Trump dalam unggahannya, dikutip dari Associated Press.
"Apa yang mereka pikirkan?" tandasnya.
Dalam sebuah acara di Gedung Putih pada Senin sore Presiden Trump merujuk pada komentar Presiden Zelensky yang dilaporkan, menegaskan Pemimpin Ukraina itu "sebaiknya tidak benar tentang itu."
"Jika seseorang tidak ingin membuat kesepakatan, saya pikir orang itu tidak akan bertahan lama," kata Presiden Trump.
"Orang itu tidak akan didengarkan dalam waktu lama," tambahnya.
Presiden Trump mempermasalahkan pernyataan Zelensky yang menyatakan bahwa perlu waktu untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang.
Komentar tersebut menyusul bentrokan publik Presiden Trump dengan Presiden Zelensky pada Hari Jumat pekan lalu di Ruang Oval, Gedung Putih sebelum apa yang diharapkan menjadi penandatanganan perjanjian tentang sumber daya alam Ukraina.
BACA JUGA:
Perjanjian tersebut tidak pernah ditandatangani setelah Presiden Trump dan Wakil Presiden JD Vance, mengecam pemimpin yang berkunjung itu karena kurang berterima kasih atas bantuan AS dan bersikap tidak sopan.
Tak hanya itu, konferensi pers bersama yang sedianya akan dilakukan usai pertemuan hari itu juga batal dilakukan.
Diketahui, Presiden Trump bergerak cepat menghubungi Presiden Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin bulan lalu, mengatakan keduanya menginginkan perdamaian dan perang berakhir. Washington dan Moskow kemudian meningkatkan komunikasi dengan menggelar pertemuan di Riyadh, Arab Saudi dan Istanbul, Turki, langkah yang menimbulkan kekhawatiran Ukraina dan Eropa mereka akan ditinggalkan dalam kesepakatan Pemimpin Gedung Putih dengan Pemimpin Kremlin.