JAKARTA - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan kesepakatan untuk mengakhiri perang antara Ukraina dengan Rusia "masih sangat, sangat jauh", di sisi lain mengatakan dirinya yakin kemitraan jangka panjang negaranya dengan Amerika Serikat cukup kuat, sehingga dukungan Washington akan tetap berlanjut terlepas dari ketegangan di Gedung Putih pekan lalu.
"Saya pikir hubungan kami (dengan AS) akan terus berlanjut, karena ini lebih dari sekadar hubungan sesekali," kata Presiden Zelensky, merujuk pada dukungan Washington selama tiga tahun terakhir perang, dikutip dari Associated Press 4 Maret.
"Saya yakin Ukraina memiliki kemitraan yang cukup kuat dengan Amerika Serikat" untuk terus mengalirkan bantuan, katanya dalam sebuah pengarahan dalam bahasa Ukraina sebelum meninggalkan London.
Presiden Zelensky secara terbuka optimis meskipun baru-baru ini terjadi pertengkaran sengit di Ruang Oval dengan Presiden Trump dan Wakil Presiden JD Vance, di mana mereka menuduhnya "tidak sopan" dan mengatakan ia harus lebih menunjukkan rasa terima kasih atas bantuan Amerika.
Pemimpin Ukraina itu berada di London untuk menghadiri upaya Perdana Menteri Inggris Keir Starmer untuk menggalang dukungan dari rekan-rekannya di Eropa agar terus mendukung Ukraina, di tengah ketidakpastian politik di AS dan pendekatan Presiden Trump terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin.
Ketika diminta oleh seorang reporter untuk mengomentari garis besar inisiatif Eropa baru untuk mengakhiri perang Rusia, Presiden Zelensky mengatakan: "Kita berbicara tentang langkah-langkah pertama hari ini, dan oleh karena itu, sampai langkah-langkah itu tertulis, saya tidak ingin membicarakannya secara terperinci."
BACA JUGA:
"Kesepakatan untuk mengakhiri perang masih sangat, sangat jauh, dan belum ada yang memulai semua langkah ini. Perdamaian yang kita nantikan di masa depan harus adil, jujur, dan yang terpenting, berkelanjutan," tambahnya.
Diketahui, Presiden Trump bergerak cepat menghubungi Presiden Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin bulan lalu, mengatakan keduanya menginginkan perdamaian dan perang berakhir. Washington dan Moskow kemudian meningkatkan komunikasi dengan menggelar pertemuan di Riyadh, Arab Saudi dan Istanbul, Turki, langkah yang menimbulkan kekhawatiran Ukraina dan Eropa mereka akan ditinggalkan dalam kesepakatan Pemimpin Gedung Putih dengan Pemimpin Kremlin.