JAKARTA - Kepala Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Volker Türk menyatakan kekhawatiran yang mendalam pada Hari Senin atas "perubahan arah yang mendasar" di Amerika Serikat (AS), memperingatkan retorika yang memecah belah digunakan untuk menipu dan memecah belah masyarakat.
"Kami telah menikmati dukungan bipartisan dari AS terkait hak asasi manusia selama beberapa dekade. Saya sekarang sangat khawatir dengan perubahan arah yang mendasar yang terjadi baik di dalam negeri maupun internasional," kata Türk, dalam pidato yang tidak secara langsung merujuk pada Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menjabat sejak Januari lalu, dikutip dari Daily Sabah 3 Maret.
"Kebijakan yang ditujukan untuk melindungi individu dari diskriminasi sekarang dicap sebagai diskriminatif. Retorika yang memecah belah digunakan untuk mendistorsi, menipu, dan memecah belah. Hal ini menimbulkan ketakutan dan kecemasan di antara banyak orang," tambahnya.
Pidato Turk kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, Swiss menandai komentar terkuatnya hingga saat ini tentang dampak kebijakan pemerintahan Negeri Paman Sam yang baru.
Presiden Trump, yang menarik diri dari dewan pada bulan Februari, telah menghadapi kritik atas pendekatannya.
Sejak menjabat pada 20 Januari, presiden dari Partai Republik itu telah mengeluarkan beberapa perintah eksekutif yang ditujukan untuk membubarkan program keberagaman, kesetaraan serta inklusif di seluruh lembaga federal dan sektor swasta.
BACA JUGA:
Selain itu, program Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) telah dihentikan sementara selama 90 hari, karena pemerintah meninjau keselarasannya dengan kebijakan "America First".