JAKARTA - Israel sudah memberi tahu Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pihaknya akan mengikuti Amerika Serikat menarik partisipasinya.
“Keputusan itu diambil mengingat bias institusional yang sedang berlangsung dan tak henti-hentinya terhadap Israel di Dewan Hak Asasi Manusia, yang terus terjadi sejak pembentukannya pada tahun 2006,” kata Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar dalam surat kepada Presiden UNHRC Jorg Lauber yang ia posting di platform media sosial X, sebagaimana dilansir Reuters, Kamis, 6 Februari.
Sebelumna Presiden Donald Trump dikabarkan akan menghentikan hubungan Amerika Serikat dengan Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB dan melanjutkan penghentian pendanaan bagi badan bantuan PBB untuk Palestina, UNRWA), kata seorang pejabat Gedung Putih.
Langkah tersebut bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington, yang telah lama mengkritik UNRWA, menuduh badan tersebut melakukan hasutan anti-Israel dan stafnya "terlibat dalam kegiatan teroris terhadap Israel," dikutip dari Reuters pada Selasa 4 Februari.
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan UNRWA tidak segera menanggapi permintaan komentar.
BACA JUGA:
Sementara itu, kelompok kerja Dewan Hak Asasi Manusia akan meninjau catatan hak asasi manusia AS pada Bulan Agustus, sebuah proses yang dialami semua negara setiap beberapa tahun.
Meskipun dewan tersebut tidak memiliki kekuatan yang mengikat secara hukum, perdebatannya memiliki bobot politik dan kritik dapat meningkatkan tekanan global pada pemerintah untuk mengubah arah.
Terpisah, Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, pada Hari Senin memuji langkah-langkah yang diperkirakan akan diambil Presiden Trump, menuduh Dewan Hak Asasi Manusia "secara agresif mempromosikan anti-Semitisme yang ekstrem."
"Pada saat yang sama, UNRWA telah lama kehilangan statusnya sebagai organisasi kemanusiaan independen, dan telah berubah menjadi otoritas teroris yang dikendalikan oleh Hamas dengan kedok badan kemanusiaan," katanya.