Presiden Joe Biden Minta Penembakan Daunte Wright Diselidiki hingga Tuntas
Ilustrasi. (Wikimedia Commons/Paul Sableman)

Bagikan:

JAKARTA - Presiden Joe Biden pada Hari Senin menyerukan perdamaian dan ketenangan setelah penembakan polisi yang tragis terhadap Daunte Wright di Minnesota.

"Saya belum menelepon keluarga Daunte Wright, tapi doa saya bersama keluarga. Benar-benar hal yang tragis terjadi. Pertanyaannya adalah, apakah itu kecelakaan? Apakah itu disengaja? Itu masih harus ditentukan oleh penyelidikan menyeluruh," kata Presiden Biden, melansir nbcnews, Selasa 13 April.

Presiden Joe Biden pun mendesak penyelidikan besar-besaran atas kematian Wright dan meminta pengunjuk rasa di Minnesota untuk bersikap damai. Dia mengutuk kekerasan dan penjarahan yang terjadi Brooklyn Center.

"Ini benar-benar hal yang tragis yang terjadi, tapi saya pikir kita harus menunggu dan melihat apa yang ditunjukkan dalam penyelidikan," lanjut Presiden Joe Biden.

Sementara itu, kepolisian menyebut penembakan terhadap Daunte Wright yang berusia 20 tahun di pinggiran kota, sebagai insiden tidak sengaja oleh polisi yang mencabut senjata api miliknya, yang seharusnya mencabut Taser (senjata kejut listrik), Senin 12 April waktu setempat.

Penembakan ini memicu kerusuhan di Brooklyn Center, Minnesota, dengan polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet, untuk membubarkan pengunjuk rasa yang berdemonstrasi menentang kekerasan yang dilakukan polisi terhadap orang kulit hitam.

Kepala Polisi Pusat Brooklyn Tim Gannon mengatakan pada jumpa pers, penembakan Wright bermula dari penghentian kendaraan yang dikemudikannya lantaran masa berlaku pajak kendaraannya telah habis, melansir Reuters Selasa 13 April. 

Rekaman video polisi yang ditampilkan pada keterangan pers menunjukkan seorang petugas mencoba memborgol Wright di sebelah mobil, sebelum dia melepaskan diri dan kembali ke dalam mobil. Pada saat itu, petugas kedua berteriak, "Taser, Taser, Taser," sebelum melepaskan satu tembakan dari pistolnya, menurut rekaman.

"Ya Tuhan, Saya baru saja menembaknya," teriak polisi wanita itu saat mobil meluncur menjauh.

"Bagi saya, dari apa yang saya lihat dan reaksi serta kesusahan para petugas setelahnya, ini adalah insiden yang tidak disengaja dan menyebabkan tewasnya tuan Wright," terang Gannon, menambahkan bahwa penyelidikan masih dalam tahap awal dan berdasarkan bukti yang diperiksa oleh polisi.

Gubernur Minnesota Tim Walz menetapkan jam malam untuk negara-negara yang termasuk Minneapolis dan St. Paul mulai jam 7 malam hingga pukul 6 pagi CDT pada Hari Selasa.  

Sebelumnya, status keamanan sudah ditingkatkan seiring dengan persidangan terhadap Derek Chauvin, mantan petugas polisi kulit putih Minneapolis yang dituduh membunuh George Floyd tahun lalu.

Walikota Brooklyn Center Mike Elliott mengatakan penembakan ini terjadi di waktu yang buruk, seiring dengan pengadilan terhadap Derek Chauvin yang sedang berlangsung. Ia pun meminta perwira yang melakukan penembakan untuk dipecat.

Penembakan di Brooklyn Center, seperti beberapa penembakan terkenal baru-baru ini, termasuk kematian Philando Castile tahun 2016 di St.Paul, Minnesota, berawal dari razia lalu lintas, sebuah taktik yang oleh banyak aktivis, kelompok hak-hak sipil, dan pemimpin politik dikatakan sebagai bentuk pelecehan komunitas kulit berwarna.

Ben Crump, seorang pengacara hak sipil yang membantu memenangkan penyelesaian hukum $ 27 juta untuk keluarga Floyd dengan kota Minneapolis, mengatakan dia juga mewakili Wrights.

"Daunte Wright adalah satu lagi pemuda kulit hitam yang terbunuh di tangan mereka yang telah bersumpah untuk melindungi dan melayani kita semua, bukan hanya yang paling putih di antara kita," kata Crump dalam sebuah pernyataan. 

"Karena Minneapolis dan negara lainnya terus menangani pembunuhan tragis George Floyd, sekarang kita juga harus berduka atas kehilangan pemuda dan ayah ini," pungkasnya.