Boris Johnson Tepis Isu Rasisme dalam Pengunduran Diri Penasihat Seniornya, Samuel Kasumu
PM Inggris Boris Johnson (Twitter/@BorisJohnson)

Bagikan:

JAKARTA - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengumumkan hasil tinjauan pemerintah terkait ketidaksetaraan ras di institusi dalam negeri pada Kamis, 1 April. Hasilnya, pemerintah menyimpulkan tidak ada lagi rasisme institusional di Inggris.

Bersamaan dengan itu, Boris Johnson mengungkap pemerintah akan bekerja keras melawan rasisme di Inggris. "Saya tidak ingin mengatakan bahwa pemerintah akan sepenuhnya setuju dengan semua yang ada di dalamnya," Boris Johnson, dikutip Reuters, Jumat, 2 April.

"Tetapi ada beberapa karya orisinal dan baik di dalamnya, tetapi saya pikir orang perlu membaca dan mempertimbangkan," tambahnya.

“Ada masalah yang sangat serius yang dihadapi masyarakat kita terkait dengan rasisme yang perlu kita atasi, kita punya, kita harus berbuat lebih banyak untuk memperbaikinya dan kita perlu memahami parahnya masalah rasisme,” katanya.

[MEMORI: Melihat Rasisme di Eton College, Sekolah Keluarga Kerajaan yang Lahirkan 20 Perdana Menteri Inggris]

Meski begitu, publik menganggap pernyataan Boris Johnson tak konsisten. Sebab, penasihat seniornya, Samuel Kasumu mundur dari pekerjaannya.

Mundurnya Kasumu diyakini oleh banyak media dikarenakan hasil tak memuaskan dari tinjauan pemerintah terkait rasisme di Inggris.

Akan tetapi, pemerintah kemudian menyangkal hal itu. Kepergian Kasumu dianggap tak ada hubungan sama sekali terkait hasil tinjauan ketidaksetaraan ras.

Sebagai bukti, Boris Johnson sendiri telah mengucapkan terima kasih langsung kepada Kasumu. Boris Johnson juga mengatakan bahwa selama bertugas Kasumu telah melakukan pekerjaan hebat. Utamanya dalam mendorong kelompok minoritas untuk memiliki vaksin COVID-19.