Cerita Chairul Tanjung: Dari 'Tukang' Fotocopy, Kini Punya Harta Rp54 Triliun dan 'Gemar' Caplok Bank
Chairul Tanjung (kanan) bersama sang anak Putri Indahsari Tanjung. (Foto: Tangkap layar Instagram @putri_tanjung)

Bagikan:

JAKARTA - Seorang pemuda berstatus mahasiswa Universitas Indonesia menawarkan jasanya kepada rekan sejawat di kelas untuk menggandakan materi pembelajaran di sebuah kios fotocopy sekitar kampus. Kala itu, 100 teman bersedia untuk menerima tawaran tersebut.

Dari hasil servis ini, dia menerima upah Rp150 untuk satu cetakan ganda. Artinya, dia berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp15.000 dari 100 buku yang diamanahkan. Angka ini tergolong besar untuk ukuran seorang mahasiswa yang menempuh pendidikan di awal 1980-an.

Hari ini, pemuda yang tersebut telah berhasil mengumpulkan kekayaan dengan taksiran mencapai 3,9 miliar dolar AS atau setara Rp54 triliun. Melalui kapitalisasi harta tersebut, majalah Forbes edisi Desember 2020 menobatkannya sebagai orang paling kaya nomor sembilan di Indonesia! Dia adalah Chairul Tanjung.

Taipan yang sempat mencicipi kursi birokrasi sebagai Menko Perekonomian itu kini gencar dihubungkan dengan PT Bank Harda Internasional Tbk. Menurut kabar, CT, panggilan akrab Chairul Tanjung, sudah mendapat restu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atas niatan mengakuisisi Bank Harda.

Lewat PT Mega Corpora, siasat ekspansi CT mencaplok bank dengan kode saham BBHI diperkirakan bakal berjalan mulus.
Bak gayung bersambut, para pemegang saham nampaknya sudah legowo untuk memberikan ruang atas masuknya investor kakap ke tubuh perseroan. Dijadwalkan, shareholder akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Jumat, 29 Januari di Jakarta.

Adapun, agenda utama pertemuan itu adalah pembahasan rencana PT Mega Corpora yang disebut-sebut akan membeli 3,08 miliar saham atau sekitar 73,71 persen yang dimiliki oleh PT Hakimputra Perkasa. 

Dari sisi kinerja, hingga kuartal III 2020 Bank Harda melaporkan mampu menghimpun laba bersih sebesar Rp48,3 miliar. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya dengan rugi bersih Rp6,7 miliar.

Salah satu penopang pembentukan cuan adalah sektor pendapatan operasional yang naik menjadi Rp14,4 miliar dari posisi kuartal III 2019 dengan minus Rp80,3 miliar.

Kinerja positif pada trimester ketiga 2020 lalu sepertinya dibarengi dengan siasat internal perusahaan yang menahan laju ekspansi guna membereskan sejumlah persoalan.

Indikasi ini terlihat dari fungsi intermediasi perbankan yang anjlok 20,7 persen year on year. Senada dengan hal tersebut, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga amblas 14,4 persen menjadi Rp1,6 triliun.

Meski demikian, terjadi perbaikan dari sisi kualitas kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) dari sebelumnya 4,9 persen secara gross pada September 2019 menjadi 3,3 persen pada September 2020.

Sementara itu, NPL net Bank Harda disebutkan sebesar 2,2 persen pada kuartal III/2020 atau membaik dari periode sebelumnya 3,3 persen.

Chairul Tanjung sendiri sebenarnya sudah memiliki lembaga jasa keuangan perbankan atas nama PT Bank Mega Tbk. (MEGA). Meski demikian, Bank Mega dan Bank Harda tidak akan masuk dalam satu kelas yang sama karena memiliki level yang berbeda.

Untuk diketahui, MEGA berada pada pada kategori bank umum kelompok usaha (BUKU III) dengan cakupan modal inti sebesar Rp5 triliun hingga Rp30 triliun. Sedangkan BBHI merupakan bank dengan level BUKU I karena bermodal inti kurang dari Rp1 triliun.

Menarik ditunggu kelanjutan kiprah Bank Harda dalam melayani nasabah di bawah kendali “Si Anak Singkong”, mengutip judul buku milik Chairul Tanjung.