Bagikan:

JAKARTA - Kepala pengawas nuklir PBB mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia yang dikuasai Rusia di Ukraina tenggara pada Hari Rabu, sebagai bagian dari upaya untuk mencegah risiko kecelakaan atom.

Rafael Grossi, kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), tiba dengan mobil di pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Eropa itu untuk meninjau situasi di sana, kata juru bicara IAEA.

Ini adalah kunjungan kedua Grossi ke PLTN Zaporizhzhia sejak PLTN tersebut direbut oleh pasukan Rusia. Rombongan Grossi dan tim ahli IAEA dilaporkan tiba di PLTN dengan pengawalan militer Rusia.

Dikatakan, Grossi ingin menilai secara langsung "situasi keamanan dan keselamatan nuklir", melanjutkan upaya-upaya untuk menengahi kesepakatan untuk melindungi PLTN tersebut.

"Saya tidak akan menyerah dengan cara apa pun. Saya pikir sebaliknya, kita perlu melipatgandakan upaya kita, kita harus melanjutkannya," kata Grossi kepada Reuters, seperti dilansir 29 Maret.

Terlibat perang, Moskow dan Kyiv berulang kali menuduh satu sama lain menembaki lokasi pembangkit listrik selama setahun terakhir. Grossi sendiri telah mendorong perjanjian keamanan antara Ukraina dan Rusia untuk melindungi fasilitas tersebut.

Lebih lanjut, Grossi mengatakan situasi di PLTN tersebut masih "sangat berbahaya" dan "sangat tidak stabil", sementara aktivitas militer di wilayah tersebut meningkat dalam beberapa minggu terakhir.

Diketahui, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia merupakan bagian penting dari jaringan energi Ukraina, serta memasok sekitar 20 persen dari kebutuhan listrik nasional sebelum invasi Rusia.

Pembangkit ini belum menghasilkan listrik sejak September, ketika reaktor terakhir dari enam reaktornya dimatikan.

Sementara itu, badan nuklir Ukraina Energoatom mengatakan, Grossi akan menilai bagaimana situasi telah berubah di PLTN tersebut, berbicara dengan para pekerja dan juga bertindak sebagai "penjamin" untuk rotasi sekelompok pemantau IAEA di fasilitas tersebut.

Sebelumnya, IAEA telah menempatkan para pemantau di PLTN tersebut sejak September, ketika Grossi melakukan perjalanan ke fasilitas tersebut karena kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya kecelakaan nuklir meningkat.