Luhut Pandjaitan 'Rayu' Investor AS Berinvestasi di Indonesia
Luhut Binsar Pandjaitan saat berkunjung ke Amerika Serikat (AS). (Foto: Dok. Antara)

Bagikan:

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengajak pengusaha Amerika Serikat (AS) untuk berinvestasi di Indonesia, tepatnya di Lembaga Dana Abadi RI atau Sovereign Wealth Fund (SWF).

Menurut Luhut, kerja sama tersebut akan mempererat hubungan ekonomi AS dan Indonesia. Apalagi, AS telah mengeluarkan keputusan untuk memperpanjang pemberian fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) kepada Indonesia.

Ditambah lagi, CEO United States International Development Finance Corporation (DFC) Adam Boehler telah menandatangani Letter of Interest (LoI) untuk menginvestasikan sebesar 2 miliar dolar AS atau Rp28 triliun dari DFC kepada Indonesia Investment Authority atau sovereign wealth fund Indonesia di Washington DC bulan November lalu.

"Saya berharap perusahaan Amerika melihat ini sebagai peluang," tuturnya, dalam acara webinar, Jumat, 11 Desember.

Salah satunya, kata Luhut, perusahaan Amerika Serikat bisa menjadikan Indonesia sebagai basis produksi manufaktur mereka untuk keperluan ekspor ke negara mereka sendiri. Termasuk juga, pasar Asia, dan pasar Indonesia yang mencapai 273 juta penduduk.

Luhut mengatakan, saat dirinya melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat dirinya bertemu dengan Presiden AS Amerika Serikat Donald Trump. Dalam pertemuan itu, kata Luhut, Donald Trump tertarik terhadap SWF.

"Saya senang sekali bahwa di masa akhir jabatannya, Trump tertarik pada konsep Indonesia Sovereign Wealth Fund. Saya yakin Indonesia Sovereign Wealth Fund dapat menarik investasi di market AS ke perekonomian di Indonesia yang nantinya akan berkontribusi untuk memperkuat perekonomian hubungan antara Amerika Serikat dan Indonesia," tuturnya.

Sehubungan dengan itu, Luhut mengatakan pemerintah Indonesia tetap memperhatikan perkembangan perekonomian global, termasuk perang dagang dan juga dampak pandemi COVID-19.

Menurut Luhut, kedua faktor ini juga berdampak pada pasar di negara berkembang seperti Indonesia. Meskipun demikian, Luhut melihat tren perbaikan ekonomi dalam waktu dekat setelah mengalami kontraksi 5,32 persen pada kuartal II-2020

"Indonesia berharap dapat memulihkan lebih baik lagi ke depannya," jelasnya.