Bagikan:

JAKARTA - Iran sedang mempersiapkan pengiriman senjata besar-besaran 1.000 rudal dan pesawat tak berawak untuk Rusia yang secara signifikan akan membantu perang Moskow di Ukraina, sebut sebuah laporan.

Kampanye Rusia akan mendapat dorongan besar dengan pengiriman ratusan drone kamikaze dan, yang lebih mengkhawatirkan, rudal balistik jarak pendek yang dipasok oleh Teheran, kata para ahli kepada The National, seperti dilansir 2 November.

Rencana pengiriman tersebut tentu akan dipantau secara ketat oleh intelijen Barat, dengan ini akan menjadi kesempatan pertama Iran mengekspor rudal permukaan-ke-permukaan.

Jenis yang diperkirakan dikirim adalah rudal Shahab atau Zolfaghar. Senjata-senjata tersebut diharapkan tiba di Rusia sebelum akhir tahun ini.

Pakar militer mengatakan kepada The National, jalur pasokan baru berarti Rusia tidak dapat 'dipinggirkan' dari perang, karena Iran memiliki persediaan rudal yang signifikan.

"Iran telah mengembangkan sejumlah besar rudal balistik jarak pendek dan memasok teknologi itu ke Houthi (di Yaman), mereka juga menggunakan teknologi serupa dalam serangan di pangkalan AS, jadi kami memiliki pengetahuan sebelumnya tentang apa yang dapat mereka lakukan," terang Sam Cranny-Evans dari think tank Rusi.

rudal zolfaghar iran
Ilustrasi rudal Iran Zolfaghar.(Wikimedia Commons/Tasnim News Agency)

Rudal baru juga akan memungkinkan Rusia untuk "terus menargetkan populasi Ukraina dengan tingkat kematian dan kerusakan yang lebih besar" dalam beberapa bulan mendatang, tambahnya.

Lebih jauh lagi, itu juga akan memungkinkan Moskow untuk "mengisi lubang selama musim dingin" ketika mencoba untuk mengisi kembali persediaan rudalnya yang terkuras, dipersulit oleh sanksi internasional.

Iran dikatakan telah mengekspor sekitar 450 drone Shahed yang digunakan Rusia, untuk meneror penduduk sipil dan menghancurkan jaringan listrik Ukraina.

Shahed-136 memiliki jangkauan 2.000 kilometer yang membawa hulu ledak 40 kilogram, meskipun Kyiv mengklaim telah menembak jatuh lebih dari 300 pesawat yang bergerak lambat.

Robert Malley, utusan AS untuk Iran, mengatakan kepada CNN pada Hari Senin, drone digunakan untuk "menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil", karena laporan pengiriman senjata juga muncul di The Washington Post.

Dia menambahkan: "Kami tahu bahwa Iran, di hadapan semua bukti ini, terus berbohong dan menyangkal bahwa itu terjadi."

Tak hanya itu, Iran memainkan permainan berisiko tinggi dengan mengirim personel militer ke Krimea yang dicaplok, untuk melatih Rusia dalam mengemudikan pesawat tak berawak.

Kebijakan tersebut telah mempengaruhi negosiasi yang gagal, untuk menerapkan kembali perjanjian nuklir dengan Barat dengan imbalan pencabutan sanksi.

Sementara itu, Iran telah membantah memasok senjata ke Rusia, dengan seorang pejabat sebelumnya menyatakan "belum dan tidak akan" melakukannya.