Awas! Pengedar Uang Palsu Sasar Toko atau Warung yang Ramai, Sibuk Layani Pembeli
Contoh uang palsu yang diamankan Polda Jateng/ Foto: Dok. Polda Jateng

Bagikan:

SEMARANG – Polda Jateng meminta masyarakat untuk waspada dan berhati-hati ketika menukar uang atau bertransaksi jual beli secara tunai menjelang Ramadan. Sebagaimana disampaikan Kapolda Jawa Tengah melalui Kabidhumas Kombes Pol M Iqbal Alqudusy, momen Ramadan dan Idulfitri merupakan momen rawan beredarnya uang palsu di tengah masyarakat.

Pelaku pengedar uang palsu berusaha memanfaatkan kelengahan para pedagang atau penjual di pasar yang sibuk melayani pembeli sehingga tidak mengawasi keaslian uang yang diterima.

Untuk itu, kata Iqbal, masyarakat perlu lebih hati-hati dan teliti dalam menggunakan uang tunai saat transaksi.

"Sebaliknya, ketika ada masyarakat yang menggunakan, membelanjakan, atau mengedarkan uang palsu, maka ada ancaman sesuai perundang-undangan yaitu 15 tahun penjara. Untuk itu, Masyarakat diminta untuk tidak terlibat dalam kejahatan jenis ini," terang Iqbal melalui keterangan tertulis, Minggu 10 April.

Iqbal juga meminta masyarakat untuk dapat membedakan uang asli dan palsu dari sejumlah ciri fisik yang ada pada uang tersebut. Kata Iqbal, tiga perbedaan uang asli dan palsu itu dapat dilihat dari:

1. Perbedaan warna

Walaupun secara singkat persamaan warna antara uang asli dan palsu sulit dibedakan, tetapi ada baiknya Anda lebih teliti dalam melihat warna dari uang tersebut.

2. Perbedaan Bahan Baku

Uang rupiah asli memiliki bahan baku dari serat kapas. Rupiah asli juga dilengkapi dengan benang pengaman yang warnanya dapat berubah jika dilihat dari sudut pandang tertentu.

Sementara, uang rupiah palsu tidak akan memiliki bahan baku yang tidak sama dengan bahan baku uang asli.

3. Tekstur Uang

Perbedaan uang asli dan palsu terlihat pada tekstur kertas. Pada uang asli yaitu kasar, terutama pada bagian lambang negara. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh pelaku pemalsu uang. Sebab sangat sulit meniru membuat tekstur kasar pada bagian lambang negara.

Sementara itu, lanjut Iqbal, merujuk metode Bank Indonesia, terdapat panduan langkah untuk mengecek keaslian uang dengan metode 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang).

Dilihat

Lihatlah perubahan warna pada benang pengaman dan perisai logo Bank Indonesia pada pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu. Temukan juga perubahan warna angka pada pecahan Rp100 ribu, Rp50 ribu, Rp20 ribu, dan Rp10.000. Misal warga masyarakat tidak menemukannya, patut dicurigai bahwa itu uang palsu.

Diraba

Pada uang asli, masyarakat akan merasakan tekstur yang kasar pada gambar utama, gambar lambang negara, dan angka nominal huruf terbilang. Tekstur kasar juga ada di frasa "NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA" dan frasa "BANK INDONESIA".

Diterawang

Arahkan uang pada cahaya. Pada pecahan tertentu, uang asli akan memunculkan gambar ornamen dan gambar pahlawan. Selain itu, masyarakat juga akan menemukan logo Bank Indonesia yang utuh.

Lebih lanjut, Iqbal memberikan beberapa tips agar masyarakat aman dari uang palsu saat bertransaksi.

"Pertama, lakukanlah transaksi di tempat yang memiliki cukup cahaya. Kemudian, pastikan melakukan penukaran uang di tempat yang resmi," ujarnya.

Terakhir, masyarakat diminta memaksimalkan melakukan transaksi secara non-tunai.

"Apabila ada kecurigaan uang yang diterima adalah uang palsu, masyarakat jangan ragu menolak serta meminta ganti dengan uang yang lain," lanjut Kabidhumas.

Namun apabila warga masyarakat sudah terlanjur menerima atau mendapat uang palsu, Iqbal mengimbau agar uang tersebut tetap simpan dan jangan digunakan.

"Warga agar segera lapor ke kantor polisi terdekat atau meminta klarifikasi ke bank atau langsung ke kantor Bank Indonesia terdekat." terangnya.