Harga Minyak Dunia Meroket, YLKI Nilai Pertamina Tak Punya Opsi Lain Kecuali Naikkan Harga Pertamax
Ilustrasi - Pegawai melayani pengisian bahan bakar di salah satu SPBU Pertamina di Jakarta (ANTARA )

Bagikan:

JAKARTA - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan, rencana penyesuaian harga Pertamax memang tak bisa dihindari menyusul meroketnya harga minyak dunia. Pun sejumlah SPBU swasta sudah beberapa kali menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
 
"Memang tak ada pilihan. Kalau tidak disesuaikan, dikhawatirkan justru berdampak terhadap pelayanan kepada konsumen," kata Ketua YLKI Tulus Abadi di Jakarta dikutip dari Antara, Jumat, 11 Februari.
 
Menurut dia, kondisi riil saat ini, dengan harga minyak dunia yang terus melambung membuat Pertamina tak punya opsi lain kecuali menaikkan harga Pertamax.
 
Harga minyak dunia jenis Brent misalnya sudah menyentuh level 91,46 dolar AS per barel yang merupakan tertinggi sejak 2014. Bahkan, SPBU swasta sudah beberapa kali menaikkan harga BBM dengan jenis RON 92, lebih tinggi Rp4.000 per liter di atas Pertamax yang dijual sekitar Rp9.000/liter.
 
"Pertamina tidak mungkin menjual rugi produknya. Dan, saat ini, kerugian Pertamina dari Pertamax, yang saya dengar cukup tinggi. Dari sana, ya memang tak ada pilihan. Apalagi, menaikkan harga Pertamax merupakan aksi korporasi," ujar Tulus dalam keterangannya.
 
Di sisi lain, lanjutnya, saat ini tingkat konsumsi Pertamax sudah semakin tinggi, yakni 20 persen dari total konsumsi gasolin, oleh karena itu lah, jika Pertamina terus bertahan dengan harga saat ini, tentu kerugian yang dialami BUMN itu semakin membengkak.
 
Menurut dia, Pertamax merupakan BBM yang bisa menjadi pilihan terbaik bagi konsumen karena memiliki kandungan oktan lebih tinggi dibandingkan jenis lain.
 
 
"Jadi, sebetulnya konsumen diuntungkan kalau pakai Pertamax, karena kandungan energinya lebih tinggi sehingga jarak tempuh per liter juga lebih jauh. Misal kalau beli Pertamax, 1 liter bisa 12 kilometer, tetapi Pertalite hanya untuk 10 kilometer, dan Premium untuk 8 kilometer,” katanya.
 
Selain itu, tambahnya, dari sisi lingkungan, dengan tingkat oktan yang tinggi, tentu pembakaran lebih sempurna sehingga bisa mengurangi emisi gas buang.
 
"Dan, saya kira, kalau komit untuk global climate change tentu penggunaan BBM harus semakin baik, yaitu yang semakin baik untuk lingkungan," ujar Tulus.