Kasus Omicron RI Meningkat, KPAI Minta Pemerintah Pertimbangkan Belajar Tatap Muka 100 Persen
Ilustrasi (Foto: Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta pemerintah mempertimbangkan pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen bagi siswa sekolah. Mengingat, perkembangan kasus COVID-19 varian Omicron di Tanah Air semakin meningkat.

"KPAI mendorong Kemendikbud-Ristek, Kementerian Agama, dan dinas-dinas pendidikan di seluruh Indonesia untuk mempertimbangkan kembali menggelar PTM 100 persen, dengan kapasitas siswa di kelas 100 persen, dan masuk sekolah 100 persen, atau 5 hari sekolah dengan 6 jam pelajaran per hari," ujar Komisioner KPAI, Retno Listyarti, kepada wartawan, Rabu, 5 Januari.

Paling tidak, lanjut Retno, ditunda hingga dua pekan setelah libur tahun baru jika tak bisa menunggu anak didik mendapat vaksinasi lengkap.

"Setidaknya tunggulah minimal sampai 14 hari usai liburan akhir tahun," sambungnya.

Menurut Retno, pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu untuk melakukan percepatan dan pemerataan vaksinasi anak usia 6 -11 tahun di seluruh Indonesia, minimal mencapai 70 persen. Mengingat vaksinasi anak usia 12-17 tahun yang sudah dimulai sejak Juli 2021 saja belum mencapai 70 persen.

"Pemerintah perlu kerja keras melakukan percepatan dan pemerataan vaksinasinya," terang Retno.

Kemudian, tambah dia, bagi sekolah-sekolah yang kerap terjadi penumpukan massa saat kepulangan siswa segera dilakukan evaluasi SOP.

"Dianjurkan pihak sekolah melakukan pembicaraan dengan orangtua siswa agar tidak terjadi penumpukan yang bisa memicu penyebaran virus," tandasnya.


Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria kembali mengumumkan temuan baru kasus COVID-19 varian Omicron di depan awak media.

Saat disebut angka 252 kasus Omicron ditemukan di Jakarta, awak media bergemuruh, rasa kaget bercampur pertanyaan khawatir akan gelombang ketiga pandemi COVID-19 di Jakarta.

"Omicron di Jakarta sudah mencapai 252," kata Riza, Selasa, 4 Januari.

Sementara di Amerika Serikat kasus COVID-19 akibat Omicron meningkat 64 persen.