Jokowi Dipuji Jenius Kok Rocky Gerung yang Mencak-mencak? Ade Armando: Ini Kaum Kadrun Kelas Bawah

JAKARTA - Dosen Universitas Indonesia (UI) Ade Armando menyebut pemikiran Rocky Gerung sekelas kadrun kelas bawah usai memberikan pernyataan di kanal Youtube @Rocky Gerung Official beberapa waktu lalu.

Alih-alih memberikan argumentasi kuat atau fakta yang bisa membantah tulisan 'The Genius of Jokowi,' Profesor di National University of Singapore, Kishore Mahbubani, Rocky justru mengumbar sumpah serapah.

"Rocky harusnya sadar dengan kepintaran yang dia miliki, dia seharusnya bertanggungjawab dengan yang diajarkan pada pencintanya, berdiskusi dengan benar, berlogika, berakal sehat. Kalau cuma berteriak buzzar bazzer itu sih cuma kaum kadrun di strata terbawah," sindir Ade lewat kanal Youtube CokroTV dikutip Kamis, 14 Oktober.

Misalnya saja tentang kemajuan ekonomi yang ditulis oleh Mahbubani. Rocky, terang Ade, hanya membantah dengan argumentasi ada petani yang mencoba bunuh diri.

Kemudian soal pembelahan politik yang diatasi oleh Jokowi. Alih-alih menyampaikan argumentasinya, Rocky justru menyebut itu hanyalah cara Jokowi membungkam suara kritis.

"Sisanya hanya diisi oleh sumpah serapah, maki-makian, kesininasan dan kebohongan," terang Ade.

Sebagai seorang akademisi, Rocky tentu tahu, berbeda pendapat dengan siapapun adalah hal lumrah. Sekalipun itu adalah Kishore Mahbubani yang rekam jejaknya soal kebijakan publik tidak bisa diragukan lagi.

Sayangnya hal itu tidak dilakukan Rocky. Menurut Ade, mulut Rocky lebih banyak mengeluarkan sumpah serapah sampai menuduh Mahbubani adalah buzzer bayaran istana. Paling parah, Rocky menyebut Mahbubani dibayar untuk memuji-muji Jokowi mengingat legitimasi mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut sudah menurun.

"Menurut lembaga survei menunjukkan legitimasi Jokowi saat ini sudah terus menurun mencapai tinggal 17%. Tentu saja (Rocky) bohong, keterlaluan. Mana ada lembaga survei menyatakan dukungan masyarakat Indonesia pada Jokowi hanya 17%?

"Kalau saya gunakan hasil penelitian Indikator pada Agustus kepuasan pada kinerja presiden mencapai 60 persen sementara yang tidak puas 30 persen. Apalagi kalau kita gunakan hasil survei SMRC yang menunjukkan bahwa sampai pasangan 2021 75% puas dengan kinerja Jokowi," tegas Ade.

Rocky, tegas Ade, harusnya mengguliti satu persatu argumentasi Mahbubani. Misalnya, Jokowi telah berhasil menjembatani kesenjangan politik Indonesia atau telah menetapkan standar baru dalam pemerintahan Indonesia

"Tapi justru ini tidak dilakukan Rocky. Ia menggambarkan tulisan Mahbubani itu sebagai advetorial alias iklan yang dibayar oleh istana. Rocky menyebut sang profesor sebagai buzzer," terang Ade.