RS Wisma Atlet Makin Gawat, Keterisian Tempat Tidur Terus Meningkat Akibat Klaster Corona di Jakarta

JAKARTA - Saat ini keterisian tempat tidur isolasi di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet kembali meningkat.

Per hari ini, pasien rawat inap di Wisma Atlet sebanyak 4.019 orang atau terisi 67,05 persen dari total tempat tidur yang tersedia. Padahal, keterisian tempat tidur atau bed occupation ratio (BOR) Wisma Atlet sempat menurun hingga 15,02 persen pada tanggal 18 Mei lalu.

"Kenaikan terjadi secara signifikan di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran. Semakin tinggi pasien harian yang masuk, maka semakin menunjukkan kegawatan situasi," kata Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito dalam tayangan Youtube Sekretariat Presiden, Jumat, 11 Juni.

Berdasarkan laporan per tanggal 8 Juni, pasien yang masuk ke Wisma Atlet pada tanggal tersebut didominasi dari wilayah Kecamatan Cipayung, Kecamatan Ciracas, dan Kecamatan Pasar Minggu. Wilayah ini merupakan klaster COVID-19 skala komunitas RT di Jakarta.

Wiku menuturkan, perkembangan kenaikan BOR yang tidak diharapkan ini tentunya harus segera disikapi oleh seluruh kepala daerah terkait, khususnya Jabodetabek.  

"Adanya peningkatan pasien masuk harian yang diikuti oleh meningkatnya bor di Wisma Atlet, tentunya menjadi peringatan keras bagi kita," ujarnya.

Sebab, menurut dia, pemerintah daerah tidak bisa terus mengandalkan Wisma Atlet sebagai bantalan dari fasilitas pelayanan pasien COVID-19 di tingkat daerah.

"Antisipasi kenaikan kasus dan peningkatan wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya harus dilakukan agar dapat meminimalisir kemungkinan penuhnya rumah sakit dan Wisma Atlet secara bersamaan dan pasien COVID-19 tidak dapat ditangani," tutur Wiku.

Wiku menyebut kasus yang semakin bertambah, keterisian tempat tidur yang menipis, dan pasien tidak tertangani dengan baik karena kapasitas rumah sakit dan tenaga kesehatan yang membludak.

Kegiatan-kegiatan yang menimbulkan kerumunan termasuk mobilitas antar wilayah yang terjadi selama periode Idulfitri kemarin, kata dia, seharusnya benar-benar dapat menjadi pelajaran berharga bahwa nyatanya Indonesia masih berjuang menghadapi pandemi. 

"Sangat berat bagi saya menyampaikan perkembangan ini, namun tetap saya sampaikan karena saya yakin baik pemerintah daerah maupun seluruh masyarakat tidak ingin kondisi kritis ini terulang," ucap Wiku.

"Perjuangan ini tidak akan berakhir apabila seluruh pemerintah dan masyarakat tidak bahu-membahu menyelesaikannya," lanjutnya.