Guru dan Karwayan Dapat Gaji Kecil, Ini Klarifikasi Co-Founder Ruangguru

JAKARTA - Perusahaan teknologi yang fokus di bidang pendidikan, Ruangguru masuk dalam daftar perusahaan paling inovatif di dunia. Bahkan bersanding dengan perusahaan-perusahaan top dunia seperti SpaceX, Microsoft, dan Nike.

Kendati menjadi perusahaan top dunia karena berbagai inisiatifnya dalam membantu kegiatan belajar. Platform belajar online ini harus tersandung masalah karena diduga membayar gaji karyawan magang dan guru yang terlalu rendah.

Menanggapi masalah yang viral di lini massa tersebut, Co-Founder sekaligus chief product officer (CPO) Ruangguru, Iman Usman menjelaskan tentang sistem pemagangan dan kepegawaian guru di Ruangguru. Dia mengatakan semua intern (magang) di Ruangguru mendapatkan pembayaran yang kompetitif.

"Kontrak intern di Ruangguru adalah kontrak magang 3 bulan, ada yang full time, ada yang freelance sesuai dengan bidang dan kebutuhannya. Paket kompensasi berbeda2, tetapi semua dibayar. Tidak ada unpaid interns di perusahaan kami, walaupun banyak sekali di luar sana yg unpaid," tulis Iman lewat akun Twitter pribadinya @imanusman, Senin, 15 Maret.

Dirinya menjelaskan semua karyawan magang mendapatkan besaran gaji yang kompetitif, tergantung bidang dan freelance type of work. Bahkan Iman mengklaim jika besaran angka yang diberikan lebih tinggi dari startup lain. 

Menurutnya semua karyawan intern telah melewati proses seleksi ketat yang disesuaikan dengan proyek-proyek kerja nyata di Ruangguru. Makanya kata Iman, tak sedikit peserta magang yang kemudian berhasil menjadi karyawan tetap. 

Iman juga menanggapi soal isu besaran gaji karyawan magang yang dikaitkan dengan honor guru. Menurutnya tenaga pengajar yang ada di Ruangguru telah mendapatkan gaji yang cukup tinggi dengan angka guru resign yang sangat rendah, kalau pun ada adalah mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 atau S3.

Meski begitu Ruangguru juga merekrut guru les lepasan yang dibayar sesuai waktu mengajar dan kelas yang disediakan tenaga pengajar sendiri. Besaran gaji dan bayaran disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, bahkan untuk guru yang sudah berjenjang S2/S3 bisa menetapkan bayaran lebih tinggi. 

"Untuk guru lesan, memang ada kasus customers suka nawar. Tadinya les 100ribu per jam, nawar 75ribu per jam untuk Pak A misalnya. Lalu gimana? Tentu ya kami teruskan tanyakan. Pak A bebas mau ambil atau tidak. Kalau tidak ambil merasa terlalu rendah juga tidak apa2," jelasnya.

"Tidak ada sanksi harus ambil semua order seperti ojek online atau apapun itu. It's a marketplace dan ada juga variasi antar daerah. People are free to choose what rates, which lessons they want to take," tambahnya.