Pasukan Rusia Serang Garis Depan Wilayah Timur, Ubah Tujuan Perang?

JAKARTA - Pasukan Rusia menembaki seluruh garis depan wilayah Donetsk di Ukraina timur pada Hari Kamis, kata para pejabat Ukraina, disebut sebagai upaya Kremlin unutk mengamankan sebagian besar wilayah yang diklaimnya.

Pertempuran paling sengit terjadi di dekat Kota Bakhmut dan Avdiivka, kata gubernur wilayah itu Pavlo Kyrylenko dalam sebuah wawancara TV. Artileri menghantam Kota Toretsk di barat daya Bakhmut, menewaskan satu warga sipil dan merusak 12 bangunan, kata Kyrylenko, melansir Reuters 9 Desember.

Dia mengatakan "seluruh garis depan sedang ditembaki" dan pasukan Rusia juga mencoba untuk bergerak maju di dekat Lyman, yang direbut kembali oleh pasukan Ukraina pada Bulan November.

Di Bakhmut dan bagian lain dari wilayah Donetsk yang bertetangga dengan Provinsi Luhansk, pasukan Ukraina membalas dengan rentetan peluncur roket.

Komando militer Ukraina mengatakan, artileri Rusia menyerang infrastruktur sipil di Kota Kupiansk dan Zolochiv di wilayah timur laut Kharkiv, dan Ochakiv di wilayah Mykolaiv. Unit anti-pesawat Ukraina menjatuhkan beberapa rudal yang dilatih di wilayah Kharkiv pada Kamis malam, kata gubernur Oleh Synehubov di aplikasi pesan Telegram.

Terpisah, Presiden Vladimir Putin telah memberikan pernyataan yang bertentangan tentang tujuan perang, tetapi sekarang jelas tujuannya termasuk beberapa perluasan perbatasan Rusia, berbeda dengan komentar yang dibuat pada awal "operasi militer khusus", ketika dia mengatakan rencana Moskow tidak termasuk pendudukan tanah Ukraina.

Kremlin mengatakan pada Hari Kamis, pihaknya masih bersiap untuk mengamankan setidaknya sebagian besar wilayah di Ukraina timur dan selatan yang telah dinyatakan Moskow sebagai bagian dari Rusia. Tetapi, tampaknya menyerah untuk merebut wilayah lain di barat dan timur laut yang telah direbut kembali oleh Ukraina.

Moskow memproklamirkan pada bulan Oktober mereka telah mencaplok empat provinsi - yang disebutnya "wilayah baru" - tak lama setelah mengadakan apa yang disebut referendum yang ditolak sebagai palsu dan ilegal oleh Ukraina, Barat dan sebagian besar negara di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sementara Moskow memperjelas ingin mengambil kendali penuh atas Donetsk dan Luhansk - dua wilayah yang sebagian besar berbahasa Rusia secara kolektif dikenal sebagai Donbas - tidak jelas berapa banyak Zaporizhzhia dan Kherson yang dianeksasi.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan pasukannya pada akhirnya akan mengusir Rusia dari semua wilayah yang direbut, termasuk semenanjung Krimea yang dianeksasi oleh Rusia pada 2014 yang terletak di antara Laut Hitam dan Laut Azov.