Ilmuwan Temukan Fakta Kelelawar Bisa Menggeram Seperti Penyanyi Death Metal

JAKARTA - Sebuah penelitian terbaru menemukan kelelawar akan menggunakan teknik mirip dengan yang digunakan oleh penyanyi death metal, untuk menghasilkan beberapa nada dalam jangkauan volkal mereka yang luas.

Para ilmuwan di Universitas of Southern Denmark menyelidiki teknik pembuatan suara kelelawar Daubenton, spesies kecil mamalia bersayap yang ditemukan di Eropa dan Asia.

Mereka ingin mengetahui lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi pada laring kelelawar ketika menghasilkan suara untuk memperluas jangkauan vokal mereka.

"Kami mengidentifikasi untuk pertama kalinya struktur fisik apa di dalam laring yang berosilasi untuk membuat vokalisasi yang berbeda," ujar ahli biologi University of Southern Denmark Coen Elemans.

Komunikasi vokal sangat penting bagi kelelawar, mereka terkenal menggunakan suara lebih tinggi untuk menavigasi lingkungannya dan menemukan mangsanya dalam proses yang dikenal sebagai ekolokasi. Hewan ini juga menggunakan suara untuk berkomunikasi satu sama lain dalam frekuensi yang rendah.

Melansir CNN Internasional, Kamis, 1 Desember, untuk mempelajari bagaimana tubuh kelelawar dapat menghasilkan suara, para ilmuwan menidurkan delapan spesimen dewasa kelelawar Daubenton yang ditangkap secara liar dan mengeluarkan laring mereka.

Kemudian, mereka memasang lima laring dalam pengaturan eksperimental yang dirancang untuk mereproduksi dinamika vokalisasi, dan menerapkan aliran udara untuk menghasilkan suara.

Semua ini didokumentasikan dengan 250.000 frame per detik sambil menerapkan aliran udara untuk meniru pernapasan alami. Pembelajaran mesin juga digunakan untuk merekonstruksi gerakan membran vokal yang dikaburkan oleh struktur laring lainnya.

Mereka menemukan pita suara bergetar pada frekuensi antara 10 dan 95 kilohertz. Ini adalah rentang yang konsisten dengan derit ekolokasi. Panggilan paling tinggi dibuat menggunakan membran vokal setipis mikrometer, sebuah struktur di ujung lipatan vokal yang kemungkinan besar dimiliki oleh nenek moyang primata, tetapi hilang saat menjadi manusia.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal PLOS Biology itu menunjukkan, untuk membuat panggilan mereka yang bernada rendah dan menggeram, kelelawar menggunakan struktur di tenggorokan mereka yang serupa dengan yang digunakan oleh penyanyi death metal, menggeram.

Ini disebut lipatan ventrikel, atau lipatan vokal palsu, dan kelelawar tampaknya menggunakannya untuk menghasilkan suara antara 1 dan 5 kilohertz, sering kali dalam situasi antagonistik. Panggilan ini sepertinya digunakan untuk mengeluarkan tantangan atau peringatan kepada kelelawar lain.

"Kami melihat banyak adaptasi di laring, yang menurut kami bertanggung jawab atas kemampuan kelelawar untuk melakukan panggilan frekuensi sangat tinggi dengan sangat cepat, sehingga mereka bisa menangkap serangga saat terbang," ungkap peneliti utama dari University Southern Denmark, Jonas Hakansson.

Namun, frekuensi terendah antara 1 dan 3 kilohertz, menggetarkan lipatan ventrikel. Para ilmuwan menyimpulkan, kemungkinan besar terlibat dalam geraman rendah yang dipancarkan oleh kelelawar.

Para ilmuwan masih belum tahu apa sebenarnya yang dikomunikasikan kelelawar saat mereka menggunakan geraman seperti penyanyi death metal.

"Beberapa tampak agresif, beberapa mungkin merupakan ekspresi jengkel, dan beberapa mungkin memiliki fungsi yang sangat berbeda," tutur rekan penulis studi dan ahli biologi University of Southern Denmark, Lasse Jakobsen.