Sejarah Hari Ini, 21 Oktober 1762: Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, Orang Kepercayaan Napoleon Bonaparte Lahir di Hattem, Belanda

JAKARTA – Sejarah hari ini, 260 tahun yang lalu, 21 Oktober 1762, Herman Willem Daendels lahir di Hattem, Belanda. Ia tumbuh sebagai insan cerdas. Profesi pengacara sempat diembannya, sekalipun sebentar. Setelahnya, Daendels banyak berkutat dengan agenda revolusi.

Ia dikenal sebagai pengikut Napoleon Bonaparte sejati. Daendels oleh Napoleon pun diberikan kepercayaan menjadi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda. Ia pun jadi representasi Prancis di Nusantara. Gebrakannya revolusioner. Sedang di mata kaum bumiputra Daendels tetaplah seorang penjajah.

Kehadiran Daendels dalam peta sejarah Nusantara tak main-main. Pengacara dari Hattem itu menjelma sebagai sosok penting. Kemampuan Daendels memimpin Legiun Batavia ada di baliknya. Keberanian Daendels dilirik oleh Napoleon Bonaparte.

Pemimpin besar Prancis itu mengagumi Daendels. Begitu pula sebaliknya. Saban hari Daendels kerap menyuarakan narasi revolusi dan perubahan. Tiada yang menyangsikan kepemimpinannya. Napoleon bahkan menganggap Daendels sebagai aset penting setelah Prancis menduduki Belanda. Suatu aset yang dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

Napoleon pun memerintahkan adiknya, Louis (Lodewijk) Napoleon yang menjadi Raja Belanda untuk segera mengirim Daendels ke Jawa. Daendels dipersiapkan menjadi Gubenur Jenderal Hindia-Belanda. Kepergian Daendels ke tanah harapan disusupi dua titah utama dari Raja Louis. Pertama, menyelamatkan Jawa dari serangan Inggris. Kedua, membenahi sistem administrasi di Jawa.

Patung Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (kanan) bersalaman dengan Pangeran Kornel atau Pangeran Kusumadinata XI, Bupati Sumedang 1791-1828. Daendels adalah inisiator pembangunan jalan Bogor-Sumedang pada 1808, sehingga diabadikan dalam patung di Sumedang, Jabar. (Wikimedia Commons)

Intuisi Napoleon tak meleset. Daendels dapat diandalkan. Ia mampu mempelajari segala macam seluk-beluk birokrasi di negeri koloni. Modal itu dijadikan Daendels sebagai alat untuk memulai perubahan besar-besaran.

“Herman Willem Daendels lahir di Hattem, Belanda, pernah jadi opsir tentara Perancis di bawah Napoleon Bonaparte. Belanda diduduki oleh Perancis pada tahun 1795. Napoleon mengangkat adiknya, Louis, sebagai Raja Belanda. Louis menugaskan Daendels menyusun pertahanan di Prussia (Jerman).”

“Daerah jajahan Belanda di Tanjung Harapan, Afrika Selatan, diserang oleh Inggris akhir 1807, ketika Cape Town jatuh ke tangan Inggris. Louis Napoleon mengangkat Daendels sebagai Gubernur Jenderal Jawa. Daendels diberi dua tugas, yakni membela Jawa dari serangan armada Inggris dan mewujudkan suatu pemerintah bersih di Hindia Timur,” ungkap Rosihan Anwar dalam buku Sejarah Kecil ‘Petite Histoire’ Indonesia Jilid 3 (2009).

Ia pun menggebrak sejak awal mula kuasanya. Gebrakan bejibun. Ia menjadi sosok yang mampu mengubah negeri koloni --sisa kekuasaan VOC-- menjadi sebuah negara modern Hindia-Belanda. Birokrasi pun ikut dirapikan.

Barang siapa yang mencoba melanggengkan korupsi apapun bentuknya, sekali pun pejabat tinggi akan mendapatkan hukuman berat. Bahkan, hukuman mati. Karenanya, Daendels dielukan sebagai Gubernur Jenderal pertama yang melanggengkan hukuman mati kepada koruptor. Pun kaum bumiputra menjulukinya sebagai Mas Galak.

Lukisan Herman Willem Daendels dalam versi yang lain. (Wikimedia Commons)

Sikap anti korupsi itu membuat sosoknya memiliki banyak musuh. Kalangan pejabat terutama. Sebab, mereka tak dapat lagi bermain belakang untuk jadi kaya raya. Sisanya, Daendels menginisiasi pembangunan jalan raya pos Anyer-Panarukan yang kontroversial.

“Penerus ini adalah Herman Willem Daendels. Seorang Bonaparte telah naik takhta di Belanda, dan sejak itu pertimbangan militer menduduki tempat pertama dalam rencana kolonial Den Haag. Daendels tidak pernah tinggal di Timur, tapi tampaknya dia jenis orang yang cocok untuk membersihkan Batavia yang busuk dan kotor, orang baru yang berdiri di luar klik dan geng, yang tahu apa yang ia inginkan dan bertangan besi.”

“Dari seorang orator revolusioner, pada hari-hari ‘patriot,’ Daendels tumbuh menjadi perwira diktator model Napoleon. Dia masih bicara dalam ungkapan-ungkapan matang bahasa revolusioner, tapi baginya semua itu sudah jadi slogan tanpa makna,” ungkap Bernard H.M. Vlekke dalam buku Nusantara (1965).