Sejarah Pesawat Kepresidenan di Masa Presiden Soekarno

JAKARTA - Presiden Soekarno punya pesawat kepresidenan andalan. Dolok Martimbang namanya. Pesawat berjenis Ilyushin Il-14 adalah hadiah dari Pemerintah Uni Soviet. Semuanya berkat hangat hubungan antara Soekarno dan pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushchev.

Dolok Martimbang pun jadi andalan kunjungan kerjanya ke seantero Nusantara. Namun, tidak untuk bertandang keluar negeri. Bung Karno doyannya mencarter pesawat. Demi keamanan dan kenyamanan kunjungan kenegaraan, pikirnya.

Urusan menjalin hubungan akrab dengan pemimpin dunia, Bung Karno jagonya. Ia tak saja lihai memukau pemimpin dunia dengan obrolannya, tapi Bung Karno juga hebat membangun kedekatan emosional. Bahasa mudahnya: pintar mengambil hati. Karenanya, Bung Karno dapat akrab dengan siapa saja. Pemimpin besar Uni Soviet, Nikata Khrushchev contohnya.

 Hubungan antara Soekarno dan Krushchev jadi hubungan politik paling mesra dalam sejarah politik Indonesia. Pun hubungan itu telah terjalin sejak dulu, saat Khrushchev masih berstatus sebagai pemimpin tertinggi Partai Komunis Uni Soviet. Hubungan keduanya pun acap kali direpresentasikan sebagai simbol mesranya Jakarta – Moskow. Soekarno kagum dengan tindak-tanduk kepemimpinan Khrushchev. Begitu pula sebaliknya.

Presiden Soekarno dan Pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushchev saat berkunjung ke Indonesia pada 18 Februari-1 Maret 1961. (Life/John Dominis)

Kedekatan hubungan itu buat Indonesia banyak diuntungkan. Indonesia banyak mendapatkan bantuan dana segar. Bahkan, pemerintah Uni Soviet sampai memberikan Indonesia hadiah fantastis: sebuah pesawat terbang. Pesawat berjenis Ilyushin Il-14 langsung dijadikan oleh pemerintah Indonesia sebagai pesawat kepresidenan.

Upacara penyerahan pesawat bermesin ganda baling-baling ini dihadiri langsung oleh Bung Karno sendiri pada 24 Januari 1957. Bung Karno pun tak lupa memberikan nama kepada pesawat kepresidenan pertama milik Indonesia. Dolok Martimbang, namanya. Penamaan itu diambil dari nama bukit yang berada di Tapanuli, Sumatra Utara.  

“Setelah duta besar Uni Soviet menyerahkan pesawat dalam pidato singkat, Presiden naik ke podium. Presiden mengucapkan terima kasih kepada duta besar untuk hadiah ini dari Pemerintah Soviet. Ia mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Soviet dan rakyatnya. Presiden kemudian mengingat sambutan hangat selama kunjungannya ke Uni Soviet dan diterima dengan baik.”

“Berkenaan dengan di domestik, Presiden mengatakan bahwa masih ada banyak perbedaan antara penduduk Indonesia dari 80 juta orang. Tapi menurut presiden, ini tidak mengejutkan saya, karena kami masih muda. Karena itu saya menyerukan kepada rakyat untuk memulihkan persatuan dan terus berjuang bersama,” tertulis dalam laporan surat kabar tertua di Jakarta Java Bode pada 24 Januari 1957.

Carter Pesawat Amerika

Kehadiran pesawat kepresidenan Dolok Martimbang cukup membantu mobilitas Bung Karno berjumpa dengan rakyat Indonesia di pelosok negeri. Namun, tidak untuk bertandang ke luar negeri. Padahal, bagi Soekarno kunjungan ke luar negeri amat penting untuk eksistensi Indonesia di masa mendatang. dukungan untuk kemajuan Indonesia sebagai bangsa besar makin cepat diraih.

Sebagai siasat pemerintah Indonesia memilih menyewa pesawat yang kapasitasnya cukup besar. Semua itu demi kenyamanan lawatan luar negeri. Kunjungan Presiden Soekarno ke 18 negara pada tahun 1961, misalnya. Kunjungan itu memakan waktu yang cukup lama: 2,5 bulan.

Rombongan yang ikut bersama Soekarno saja dapat mencapai 30 orang lebih. Belum lagi Soekarno membawa serta ratusan peti hadiah berisi karya seni kepada negera sahabat. Sebagian rakyat menilai upaya Soekarno dan menteri-menterinya sebagai tindakan foya-foya.

Boeing 707 milik Pan American Airways, jenis pesawat yang sering dicarter Presiden Soekarno jika berkunjung ke luar negeri. (Wikipedia)

Jurnalis sekaligus sejarawan, Rosihan Anwar jadi salah satu yang paling keras melontarkan protesnya. Lawatan ke luar negeri dengan mencarter pesawat selama 2,5 bulan dirasa tak memiliki urgensi yang tinggi. Apalagi kondisi rakyat Indonesia kala itu, banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.

“Pan American Airways menamakan pesawat Boeing 707 yang membawa Presiden Sukarno hari ini ke luar negeri Jet Clipper ‘Usdek’ Ini namanya servis istimewa. Pan American mendapat 400 ribu dolar dari pemerintah Indonesia tahun ini untuk sewa pesawat yang dicarter. Tahun lalu sewa itu kurang lebih 300 ribu dolar. Pure jet memang lebih mahal dari piston.”

“Kunjungan rutin Sukarno ke luar negeri tahun 1961 ini memakan waktu 2 bulan lebih dan akan membawanya ke Amerika Serikat, Amerika Latin, Afrika, Eropa, termasuk Uni Soviet, mungkin juga RRT, kurang lebih 18 negara. Sungguh, Presiden Sukarno merupakan kepala negara yang paling banyak bepergian. Langlang buana modern? Atau tukang habiskan harta rakyat? Rombongan yang ikut dengan dia pagi ini 30 orang, termasuk beberapa menteri,” ungkap Rosihan Anwar dalam buku Sukarno, Tentara, PKI (2006).