Sejarah Rencana Pembangunan Tol Cipali Tidak Matang?
Ilustrasi (Foto: pu.go.id, editor: Raga Granada/VOI)

Bagikan:

Lewat artikel "Menangkal Rawan di Tol Cikopo Palimanan", kita telah mengulas cara aman melintas Tol Cipali yang terkenal rawan kecelakaan. Masih bagian dari Tulisan Seri khas VOI, "Hati-Hati di Cipali", mari kita tengok perspektif lebih luas, soal sejarah panjang pembangunan Tol Cipali.

 

Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) adalah tol dengan ruas terpanjang di Indonesia. Jalan bebas hambatan yang bisa memangkas waktu perjalanan sampai separuhnya ini terbukti membawa berkah. Namun di sisi lain, jalan ini juga kerap menimbulkan musibah dengan banyaknya kasus kecelakaan lalu lintas. Lantas apa sebetulnya penyebab kecelakaan tersebut? Bila melihat dari sejarah rencana pembangunannya, adakah Tol Ciplai dibuat dengan kurangnya perencanaan?

Dalam sejarahnya, pembangunan ruas tol ini telah melewati enam rezim. Idenya bahkan sudah ada sejak era kepemimpinan Presiden Soeharto. Namun, proyek tersebut mandek dipantek krisis moneter 1998. Sampai kemudian pada era Presiden Joko Widodo (Jokowi) Tol ini baru diresmikan untuk kali pertama pada 13 Juni 2015.

Alois Wisnuhardana dalam Cerita dari Sudut Istana (2019) menjelaskan tol ini melintas hingga 116 kilometer. Pembangunan Tol Cipali merupakan kelanjutan dari proyek Tol Jakarta-Cikampek yang jadi bagian dari proyek Tol Jakarta-Palimanan. Karenanya, titik nol kilometer Tol Cipali adalah Cawang, Jakarta. Dan tol ini termasuk dalam kategori Tol Trans Jawa yang menghubungkan Merak, Banten hingga Banyuwangi, Jawa Timur.

"Tol Cipali merupakan bagian dari proyek Jalan Tol Trans Jawa yang melewati lima kabupaten di Jawa Barat, yaitu Kabupaten Purwakarta, Subang, Indramayu, Majalengka, dan Cirebon. Tol ini memiliki 99 jembatan terhubung dengan Tol Jakarta-Cikampek dan Jalan Tol Palimanan-Kanci," ungkap Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono di laman resmi Kementerian PUPR.

Konsesi pembangunan Tol Cipali dipegang oleh PT Lintas Marga Sedaya sejak 2006. Perusahaan tersebut merupakan konsorsium Indonesia-Malaysia, antara Utama Sedaya dan Plus Expressway. 

Mulanya, saat tanda tangan awal kontrak, Lintas Marga mencantumkan biaya proyek Rp7,3 triliun. Lima tahun berlalu, proyek belum juga jalan. Kemudian saat hendak dilanjutkan, anggaran melambung menjadi Rp11,6 triliun. Terakhir, nilai investasi bahkan membengkak hingga Rp13,7 triliun.

"Sesuai rancangan bisnis (business plan), kami mengalokasikan dana untuk investasi senilai Rp 12,56 triliun. Namun, dalam perkembangannya kemudian, terjadi penambahan investasi dengan jumlah total menjadi Rp 13,7 triliun," papar Wakil Direktur Utama PT Lintas Marga Sedaya, Hudaya Arryanto dikutip Kompas

Ilustrasi (Sumber: pu.go.id)

Penyebab kecelakaan

Angka kecelakaan yang tinggi di Cipali membuat Konstruksi jalan dari ruas tol ini jadi sorotan. Melansir Kumparan, Kecelakaan yang selama ini terjadi bisa disebabkan karena berbagai hal. Yang paling mungkin adalah faktor human error. Penyebabnya karena jalanan yang cenderung lurus dan panjang membuat banyak pengemudi mengantuk.

Tak hanya itu, hal yang lain yang memungkinkan terjadi kecelakaan adalah adanya tebing hasil dari pemotongan Bukit Salam yang mengapit jalan tol. Panjang masing-masing tebing sekitar 300 meter, sedangkan puncak tebing tingginya sekitar 40 meter.

Imbas dari pemotongan itu menjadikan bentuk jalur tol di kilometer 181-182 menjadi berbentuk huruf s. kondisi ini membuat jalanan jadi berkelok dan menanjak. Lantaran itu, kilometer ini menjadi ruas tol yang paling menakutkan selama berada di Cipali.

Apalagi, di Bukit Salam digadang-gadang terdapat batu besar yang berkekuatan gaib, batu Bleneng namanya. Konon, batu Bleneng tak bisa dipindahkan, sekalipun menggunakan alat berat. Warga setempat pun percaya bahwa batu Bleneng menyumbat sumber mata air raksasa, yang mana jika batu diangkat maka air akan menyembur tanpa henti.

Mitos batu Bleneng semakin kuat karena belum sampai sebulan dari acara peresmian –14 juni hingga 7 juli 2015—telah terjadi 54 kecelakaan di Tol Cipali. Terakhir, pada Juli 2015, mobil minibus berpenumpang sebelas orang menghantam truk pengangkut semen cair di Kilometer 178. Dalam musibah itu tujuh orang meninggal dan empat terluka. Alhasil, khalayak banyak mempertanyakan terkait kelaikan operasi dan sertifikat Jalan Tol Cipali.

Infografik (VOI/Raga Granada)

Pemerintah buka suara

Soal perencanaan pembangunan dan konstruksi Jalan Tol Cipali, pemerintah mengklaim tak ada masalah. Hal itu disampaikan Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono. Menurutnya kecelakaan lebih banyak disebabkan kelelahan pengemudi, mengingat panjangnya rute Tol Cipali.

“Pertama, Kecelakaan itu bukan karena geometri atau kondisi jalan. Kedua, kecelakaan terjadi pada titik-titik jauh, yang memungkinkan ketika itu si pengemudi mulai lelah. Kecelakaan fatal sendiri banyak terjadi dari arah Cirebon ke jakarta, yang ditengarai dialami pengemudi dari Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang. Mungkin mereka yang sedang menjajal jalan tol baru ini kelelahan,” ucap Basuki dikutip Majalah Tempo (2015).

Kendati demikian, saat itu Basuki telah menimbang beragam langkah supaya angka kecelakaan menurun. Beberapa di antaranya dengan memberikan peringatan singkat kepada pengendara di pintu masuk tol, memberi kopi panas, juga dengan patroli polisi. “Kalau ada nguing-nguing yang ribut begitu kan pengemudi jadi melek,” tutup Basuki.

Untuk itu, pengemudi yang akan melewati Cipali diharapkan sudah beristirahat yang cukup. Pengemudi juga harus lebih aktif dalam menjaga tekanan angin ban dari kendaraan. Sebab, data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap, sekitar 80 persen kasus kecelakaan pecah ban terjadi akibat tekanan angin ban yang kurang. Dalam konteks itu, sepanjak tahun 2020, kasus kecelakaan pecah ban hadir di ruas jalan Tol Cipali.

“Ban pada kendaraan memang terlihatnya sepele, tetapi ban itu menjadi tumpuan penting yang sangat memengaruhi tingkat keselamatan berkendara, terutama di jalan tol. Bila tekanan angin pada ban kurang, akibatnya bisa sangat fatal. Apalagi dipacu di jalan tol dengan kecepatan yang tinggi, ban bisa mengalami fatigue dan pecah. Bahkan apabila posisi sedang hujan dengan kondisi jalan tol yang tergenang air, tekanan angin pada ban yang kurang dapat menyebabkan split hingga terjadilah fenomena aquaplaning.” Ucap Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono.