Memetik Manfaat Media Sosial, Bahkan dari Hal Paling Sederhana
Ilustrasi (Raga Granada/VOI)

Bagikan:

Segala sisi gelap media sosial (medsos) serta bagaimana meminimalisir dampaknya telah kita bahas lewat artikel "Detoks Media Sosial dan Kapan Langkah Itu Harus Kita Ambil". Seperti banyak hal lainnya, media sosial juga punya dua sisi: baik dan buruk. Artikel pamungkas Tulisan Seri khas VOI, "Pedang Dua Mata Sosial Media", bagaimana kita bisa memetik manfaat dari medsos.

 

Tak pernah terpikirkan oleh Sadam alias Mazzini Giuseppe, pemilik akun Twitter @mazzini_gsp untuk jadi pegiat sejarah dan memiliki pengikut puluhan ribu orang. Namanya melejit di media sosial berkat utas-utasnya mengenai sejarah.

Perlahan tapi pasti, hidupnya mengalami perubahan setelah mulai dikenal luas di jagat Twitter. Mulai dari manfaat untuk pribadi, seperti materi hingga manfaat untuk masyarakat luas.

"Sedikit banyak ada perubahan dari segi finansial. Tapi itu bonus, ya. Yang lebih bikin gue ngerasa ada perubahan, ya gue ngerasa hidup gue sedikit lebih berguna sih," kata Mazzini kepada VOI.

Mazzini beryukur jadi salah satu orang yang dapat membuka ruang diskusi soal sejarah dan membawa pembahasan sejarah yang dapat terjangkau ke berbagai pihak, baik yang memang sudah berkutat di dunia sejarah maupun mereka yang tidak.

"Karena berkutat sama sejarah, sisi positif media sosial yang dirasain jadi bisa membuka diskusi sejarah yang enggak ada di text book, dengan penyampaian bahasa yang mudah dipahami. Dampaknya buka ruang diskusi terbuka lebar dan jadi banyak kok orang yang suka sejarah karena konten yang bertebaran di medsos," jelas Mazzini.

Ilustrasi (Unsplash/Claudio Schwarz)

Meraup untung

Pakar keamanan siber dari CISSReC Pratama Persadha, membenarkan, jika media sosial digunakan dengan tepat, banyak sekali manfaat yang didapat. Beberapa di antaranya adalah memberi kesempatan seseorang untuk berbicara serta berbagi tentang apa yang diketahuinya.

Ya, seperti Saddam. Selain itu media sosial juga dapat membangun relasi dengan teman kerja, keluarga, dan membuat seseorang bisa dikenal oleh orang di seluruh dunia dengan cepat.

"Media sosial memberi milenial berbagai manfaat dan peluang untuk memberdayakan diri dengan berbagai cara. Milenial dapat memelihara hubungan sosial dengan baik dan mendukung jaringan yang mungkin sebelum adanya media sosial tidak mungkin dilakukan, dan dapat mengakses lebih banyak informasi daripada sebelumnya," kata Pratama, dihubungi VOI.

Selain dari sisi hubungan sosial, media sosial jika digunakan dengan baik juga berguna untuk bisnis. Bagi ranah bisnis, lewat media sosial memudahkan berinteraksi dengan pelanggan dan berbagi informasi secara real time. Hal tersebut tentunya membantu para pengusaha menjangkau pelanggannya dengan lebih baik, meluaskan jaringan secara daring, dan menjual dan mempromosikan produk dan layanannya. 

Bagi generasi muda yang tumbuh dengan digital, memang banyak kegiatan yang melibatkan media sosial. Bahkan untuk bersosialisasi di media sosial bisa untuk mencari uang dan belajar. 

Meski banyaknya sisi positif, bukan berarti tidak ada risiko. Perilaku bermedia sosial di Indonesia kadang dapat merugikan orang lain, yang mana hal tersebut tidak bisa dihindarkan. Bahkan Microsoft memasukkan Indonesia dalam daftar pengguna media sosial yang tidak sopan. 

Selain itu, Pratama juga memberikan kasus lain misalnya dalam kasus Dayana dan Fiki Naki. Ketika Dayana mengungkapkan dirinya tidak butuh warganet Indonesia, para pengguna Instagram di Indonesia ramai-ramai unfollow akun Dayana yang sebelumnya 2,1 juta followers menjadi 1,3 juta followers. 

Intinya, kita memang harus pintar-pintar mengelola media sosial agar tidak ketiban pulung. Lantas bagaimana cara memetik manfaat dari sosial media?

Infografik (VOI/Raga Granada)

Memetik manfaat

Pratama mengatakan, kunci solusinya adalah kurikulum berinternet yang sehat masuk ke jenjang pendidikan, sehingga sejak dini bisa diarahkan berinternet harus produktif, aktif dan positif. Jangan hanya mencela namun juga kreatif membuat konten positif maupun membuat gerakan berbasis internet yang positif.

Selain faktor luar, perlindungan dari diri sendiri juga perlu dilakukan agar bermedia sosial tetap positif. Menurut Mazzini, bermedia sosial itu intinya juga perlu melindungi diri sendiri. Hal tersebut bisa dilakukan dengan melewatkan konten yang dianggap negatif, juga bisa dibisukan atau dilaporkan, yang mana fiturnya sudah tersedia di media sosial. 

"Juga filter akun yang di-follow itu toxic apa enggak, kalau toxic, unfollow aja daripada lama-lama kemakan dampak negatif dari konten yang dia share," tambahnya. 

"Kalau lo konten kreator di medsos, usahain konten yang mau di-share ya dikonsep dulu, dimatangkan, jadi meminimalisir orang jadi salah paham sama konten kita. Baik salah paham dalam bentuk disinformasi atau salah paham yang mengundang orang jadi membully," tutup Mazzini.  

 

Ikuti Tulisan Seri edisi ini: "Pedang Bermata Dua Sosial Media"