Sejarah Mobil Listrik Dunia lewat Rangkaian Temuan Revolusioner
Ilustrasi (Raga Granada/VOI)

Bagikan:

Lewat artikel "Alkisah Mobil Listrik Bermasalah", kita telah melihat bagaimana riwayat masalah pengembangan mobil listrik nasional. Masih bagian dari Tulisan Seri khas VOI, "Sengat Pesona Mobil Listrik", mari kita tengok perspektif lebih luas, soal sejarah panjang pengembangan mobil listrik di dunia.

 

Mobil listrik adalah penemuan revolusioner. Banyak ahli telah terlibat dalam penemuan mobil yang katanya sih ramah lingkungan. Alessandro Volta, Michael Faraday, hingga Robert Anderson adalah tiga nama penting di balik sejarah pengembangan mobil listrik dunia. Ketiganya menyongsong kemajuan zaman. Peran besar mereka jadi awal bagaimana mobil listrik dapat mengaspal di jalan-jalan dunia.

Sejatinya agak sulit mengungkap pihak mana yang memelopori mobil listrik. Kita tak bisa melihat hal ini lewat peran satu orang atau sebuah negara saja. Kehadiran mobil listrik adalah serangkaian terobosan: dari baterai hingga motor listrik.

Riwayat terobosan itu pun sangat panjang: dari tahun 1700-an hingga 1800-an. Penemuan itu jadi awal industri mobil listrik kekinian mengembangkan sayap. Dikutip Nigel Burton dalam buku History of Electric Cars (2013), penemuan mobil listrik tak terlepas dari ditemukannya sel elektrokimia di Mesopotamia.

Berdasar bukti arkeologi, peradaban Mesopotamia pada tahun 200 SM telah mengenal adanya baterai primitif yang juga dikenal dengan "baterai Baghdad," yang digunakan untuk electroplating atau proses pelapisan logam dengan menggunakan arus listrik.

Gambaran baterai Baghdad (Sumber: Wikimedia Commons)

Penemuan tersebut lalu dikembangkan oleh ahli kimia dan penemu kesohor, Alessandro Volta. Volta yang lahir di Como, Italia telah menemukan baterai listrik pada 1775. Dalam proses penemuan baterai, Volta mengembangkan temuan profesor asal Swedia, Johan Carl Wilcke yang yang sebelumnya menemukan sebuah hal yang disebut "elektroforesis" atau sebuah alat untuk menghasilkan muatan listrik dengan jalan induksi.

“Volta terpesona oleh potensi listrik. Dia telah melakukan pekerjaan rintisan pada apa yang sekarang dikenal sebagai kapasitans listrik, mengembangkan sarana untuk memelajari potensi dan biaya, serta bereksperimen dengan sistem pengapian yang sangat primitif, membakar metana melalui percikan listrik yang dihasilkan,” tulis Nigel Burton.

Penemuan Volta membuka kemungkinan pada banyak hal yang hampir tak terbatas. Untuk pertama kalinya, para penemu dapat terus memanfaatkan arus listrik selama berjam-jam lewat baterai. Pada 1821, ahli kimia Inggris, Michael Faraday mulai memegang tongkat estafet perkembangan tenaga listrik. Dari beberapa kali eksperimen, Faraday berhasil menemukan motor listrik pertama di dunia.

Atas penemuan itu, Perdana Menteri (PM) Inggris Sir Robert Peel (1834-1835) bertanya pada Faraday terkait kemungkinan pengembangan dari penemuan itu: mungkinkah menjadi cikal bakal mobil listrik? Faraday pun menjawab, "Kenapa PM? Suatu hari nanti Anda bisa menarik pajak."

Setahun setelah penemuan Faraday, fisikawan Inggris, Peter Barlow lalu menghasilkan variasi menarik pada motor listrik tersebut. Barlow menggunakan motor listrik untuk memutar roda. Pengembangan itu dimanfaatkan Faraday untuk menciptakan dinamo pertama di dunia.

Dinamo berkembang jadi alat yang amat penting dan banyak digunakan sebagai mesin penggerak. Setelahnya, pekerjaan Farayday menjadi landasan pemahaman utama yang mendasari semua teknologi listrik, termasuk motor dan generator yang mengoperasikan kendaraan listrik pada abad ke-21.

Penemuan mobil listrik

Mobil listrik pun mulai dikembangkan pada abad ke-18. Beberapa ilmuwan dan inovator dari Hungaria, Belanda, dan Amerika Serikat (AS) mulai berfokus dengan kendaraan bertenaga baterai. Mereka kemudian menciptakan beberapa mobil listrik dalam skala kecil, sehingga banyak yang tak tercatat dalam sejarah.

Melansir Energy, pada akhirnya ilmuwan asal Skotlandia bernama Robert Anderson muncul sebagai pelopor. Anderson telah menggembangkan mobil roda tiga yang menggunakan baterai listrik. Temuan Anderson dianggap sebagai prototipe mobil listrik pertama di dunia pada 1832.

Debut Anderson terus diikuti oleh ahli kimia asal AS, William Morrison yang sukses membuat mobil listrik pada 1890 atau empat tahun setelah pendiri Marcedes Benz Karl Benz mengajukan paten mobil modern pertama di dunia: Benz Patent-Motorwagen.

Ilustrasi foto (Sumber: Unsplash)

Kendaraan buatan Morrison mampu menampung hingga enam orang penumpang dan melaju dengan kecepatan 22 kilometer per jam. Upaya pengembangan itu dilanjutkan oleh Ferdinand Porsche pada 1898. Ia menciptakan mobil listrik dengan nama P1.

Senapas dengan itu, Porsche juga menciptakan mobil hybrid pertama di dunia yang dapat digerakkan dengan menggunakan listrik dan bensin. Setelahnya, muncullah banyak istilah, seperti mobil listrik hybrid, plug-in hybrid, atau all-electric.

"Pada tahun 1901, 38 persen dari mobil-mobil tersebut adalah mobil listrik. Dan 20 persen atau lebih adalah bensin. Dan di tengah-tengah, ada teknologi uap," kata ahli teknologi dan sejarawan, David Kirsch, dikutip ABC Radio National, Rabu, 2 Februari.

"Jika Anda bertanya kepada para ahli hebat di zaman mereka pada tahun 1900, teknologi apa yang akan mendominasi transportasi berbasis motor, saya pikir kebanyakan orang terpelajar akan menjawab listrik," tambahnya.

Elon Musk (Instagram/@elonmusk)

Singkat cerita, kepopuleran mobil listrik mencapai puncak pada masa ketika seorang pria bernama Elon Musk mulai mengembangkan Tesla Motors pada 2004. Elon Musk kala itu memiliki tujuan utama mengomersialisasi mobil listrik.

Sebagai awalan, Elon Musk memproduksi mobil sport premium. Tak disangka, penjualan Tesla yang pada awalnya hanya menyasar pasar mobil sport, mulai meluas masuk ke pasar sedan dan SUV. Tesla pun menjelma menjadi perusahaan otomotif bernilai paling tinggi saat ini.

Infografis (Raga Granada/VOI)

Mobil listrik di Indonesia

Di Tanah Air, pengembangan mobil listrik dimulai sejak tahun 2012. Pengembangan waktu itu berlangsung di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dahlan Iskan, yang kala itu menjabat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi aktor utama pengembangan mobil listrik buatan Tanah Air.

“Kesalahan masa lalu tidak boleh terulang. Kalau mobil listrik tidak kita siapkan sekarang, kita akan menyesal untuk kedua kalinya. Kelak, kalau dunia sudah berganti ke mobil listrik, jangan sampai kita kembali hanya jadi pasar mobil impor seperti sekarang ini. Mobil listrik made in Indonesia harus Berjaya. Sekaranglah saatnya Indonesia punya kesempatan bisa bersaing dengan negara maju,” cerita Dahlan Iskan dalam buku Memasuki Era BUMN Multinational Coorporation (2013).

Melansir Kompas.com, Dahlan Iskan langsung meminta kepada seorang anak Indonesia yang ahli di bidang motor listrik, Ricky Elson. Ricky adalah salah satu pemuda Indonesia yang telah memiliki 13 hak paten internasional atas mobil listrik di Jepang.

Prestasi itu yang membuat Dahlan Iskan kepincut. Dahlan habis-habisan mengajak dan menyakinkan Ricky agar mau pulang ke Indonesia, setelah hidup 14 tahun di Jepang. Tugas Ricky, kata Dahlan Iskan adalah untuk mengembangkan mobil listrik dalam negeri.

Berkat kepercayaan yang diberikan oleh Dahlan Iskan, Ricky langsung membalasnya dengan kehadiran tiga buah mobil bertenaga listrik pada 2014. Mobil pertama bernama Tucuxi. Ricky mengerjakan mobil tersebut bersama pendiri sekaligus pemimpin PT Sarimas Ahmadi Pratama, Dasep Ahmadi.

Kendati demikian, mobil itu gagal. Remnya blong saat uji coba yang dilakukan langsung oleh Dahlan Iskan. Kegagalan itu mendorong Ricky menciptakan dua mobil lainnya: Selo dan Gendhis. Sebelum mengaspal, prototype kedua mobil sempat dipamerkan di ajang KTT APEC pada 2013 di Bali dan di ajang Indonesia International Motor Show 2014.

Mobil Tuxuci dipajang di Museum Angkut, Batu, Jatim (Sumber: Wikimedia Commons)

Selo bergaya sport. Sedangkan Gendhis berjenis MPV. Ricky lagi-lagi harus kecewa. Sebab, mobil yang sejatinya jadi impian pertama Indonesia memiliki mobil listrik tak kunjung mendapatkan tanda uji emisi. Izin laik jalan pun tak keluar. Hingga kini tak ada tanda-tanda seluruh temuan itu akan dikembangkan apalagi diproduksi massal.

Ricky, beberapa waktu yang lalu sempat mengenang mobil listrik buatannya sebagai bentuk cerita impian Indonesia ingin punya mobil listrik. Ia mengunggah pesan itu lewat di Facebook:

7 tahun yang lalu, 21 Desember 2013 adalah sesi terakhir Sosialisasi Kendaraan Listrik yang pada WAKTU itu  diinisiasi oleh Kementerian Riset dan Teknologi RI. Di silang Monas. Setelah di 4 kota. Kami membawa SELO, pak Dasep Ahmadi dengan mobil listrik hijau dan bis listriknya, team LIPI dan beberapa Universitas juga menampilkan karyanya. Ajang ini, dihadiri Gubernur DKI saat itu, Dan menjadi penutup Cerita impian ini. Dan hari hari ini, Cerita mirip itu bergaung kembali.  Kita adalah bangsa yang selalu diminta berprasangka baik. Yang kalo ga begitu akan disebut Anti-Pemerintah. Dan Akan selalu begitu.

 

Ikuti Tulisan Seri Edisi Ini: Sengat Pesona Mobil Listrik