Volatilitas Tinggi, Nassim Taleb Sebut Bitcoin Bernilai Nol dan Gagal Menjadi Mata Uang
Nassim Nicholas Taleb (kiri) dulu banyak memuji bitcoin, kini justru mengkritisi. (foto: instagram)

Bagikan:

JAKARTA – Nassim Nicholas Taleb, profesor teknik risiko di Tandon School of Engineering Universitas New York, menyatakan dalam sebuah makalah baru-baru ini, bahwa mata uang kripto  terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar telah, Bitcoin, gagal memenuhi tujuannya sebagai mata uang tanpa pemerintah. Bitcoin juga gagal, sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan sebagai investasi safe haven.

“Beberapa aset dalam sejarah keuangan lebih rapuh daripada bitcoin,” kata penulis “The Black Swan”.

Padahal Taleb sebelumnya  banyak memuji bitcoin, terutama tentang potensinya untuk membantu orang menghindari kontrol modal di pasar yang mereka andalkan untuk mengelola nilai tukar. Dia bahkan menyebut Bitcoin sebagai “mata uang organik pertama” dalam kata pengantar “The Bitcoin Standard” pada tahun 2018.

Namun dalam makalahnya baru-baru ini, Taleb membalikkan pendapatnya. Dalam makalah berjudul  “Bitcoin, Mata Uang, dan Kerapuhan,” yang diterbitkan pada akhir Juni, Taleb, yang juga peneliti probabilitas dan mantan pedagang kuantitatif, mengatakan bitcoin kini bernilai “persis nol”.  

Sebaliknya ia berpendapat:  “Emas dan logam mulia lainnya yang sebagian besar bebas perawatan, tidak terdegradasi dalam cakrawala sejarah, dan tidak memerlukan perawatan untuk menyegarkan sifat fisiknya dari waktu ke waktu.”

Volatilitas 

Taleb mencatat bahwa pada Maret 2020 bitcoin turun lebih jauh dari pasar saham dan bisa pulih dengan adanya “injeksi besar-besaran terhadap likuiditas.”  “Itu bukti yang cukup bahwa itu (bitcoin) tidak dapat digunakan dari jarak jauh sebagai lindung nilai terhadap risiko sistemik,” katanya.

Dia mengatakan bitcoin cenderung merespons likuiditas dan tidak jelas apa yang akan terjadi jika internet mengalami pemadaman regional, terutama jika terjadi selama keruntuhan keuangan. Taleb mencatat bitcoin telah mempertahankan volatilitas yang sangat tinggi, antara 60 persen  dan 100 persen  sepanjang waktu. 

Masyarakat juga menyamakan keberhasilan bitcoin sebagai mata uang digital dengan keberhasilan bitcoin sebagai investasi spekulatif. “Untuk menjadi mata uang akan membutuhkan stabilitas dan kegunaan,” kata Taleb, yang juga menjadi penasihat ilmiah untuk Investasi Universa.

Harga bitcoin pada Selasa 13 Juli diperdagangkan sekitar 32.000 dolar AS dan kemudian melayang antara 32.000  hingga 36.000 dolar AS. Padahal pada pertengahan Juni lalu sempat menyentuh 40.000.

Data pertukaran Cryptocurrency menunjukkan perdagangan bitcoin turun lebih dari 40% pada Juni tahun ini, menurut CryptoCompare. Pada bulan yang sama, harga bitcoin mencapai titik terendah bulanan sebesar 28.908 dolar AS.